RUMAH SINGGAH

Lilis Alfina Suryaningsih
Chapter #8

Bab 7 | Trauma Syauki

Malam telah jatuh sepenuhnya, melingkupi kompleks perumahan elit tempat tinggal keluarga Pak Baskoro dalam keheningan yang pekat. Setelah kejadian tadi sore di rumah, kini rumah megah itu mendadak menjadi sangat sunyi. Teman-teman Alex sudah pulang dengan tergesa-gesa begitu melihat ketegasan Syauki, meninggalkan hawa dingin yang canggung di setiap sudut ruangan.

Syauki berdiri di area dapur yang remang-remang. Tangannya perlahan mengikat kantong plastik hitam besar berisi sisa-sisa camilan dan sampah yang ditinggalkan geng Alex siang tadi. Fisiknya terasa luar biasa lelah; menahan gempuran kalimat beracun Alex di depan umum telah menguras seluruh energi mentalnya. Namun, ada sedikit kelegaan di dadanya. Dia berhasil bertahan. Dia tidak runtuh seperti yang Alex harapkan.

Sambil menjinjing kantong sampah tersebut, Syauki melangkah memotong ruang tamu menuju pintu depan, berniat membuangnya ke tempat penampungan di luar pagar. Namun, baru saja jemari tangannya menyentuh gagang pintu jati yang dingin, sebuah suara dari kejauhan memotong kesunyian malam.

Ngiunggg... Ngiunggg... Ngiunggg...

Suara itu awalnya terdengar lamat-lamat, samar di antara deru angin malam. Namun, dalam hitungan detik, suaranya kian melengking, membelah kegelapan dengan nada tinggi yang sangat khas dan mengintimidasi. Suara sirine mobil pemadam kebakaran.

Langkah kaki Syauki seketika terkunci. Kantong sampah di genggamannya terlepas begitu saja, jatuh menghantam lantai marmer dengan bunyi bergedebuk pelan.

Ngiunggg... Ngiunggg... Ngiunggg...

Raungan sirine itu kini terdengar bergema tepat di jalan utama depan kompleks, suaranya begitu nyaring hingga seolah menggetarkan kaca-kaca jendela ruang tamu. Bersamaan dengan itu, kilatan cahaya merah dan biru dari lampu rotator mobil pemadam yang melintas di luar memantul bergantian di dinding ruang tamu, menciptakan siluet merah darah yang bergerak dinamis di kegelapan.

Sirkuit trauma di dalam kepala Syauki meledak seketika.

Dunia di sekitarnya runtuh dalam kedipan mata. Marmer hitam yang mewah di bawah kakinya seolah berubah menjadi lantai panti asuhan yang tertutup abu tebal. Aroma pewangi ruangan instan menguap, digantikan oleh bau daging dan kayu yang terbakar hebat. Raungan sirine di luar rumah menjelma menjadi jeritan histeris teman-teman pantinya yang meminta tolong di malam neraka tiga tahun lalu.

Lihat selengkapnya