RUMAH SINGGAH

Lilis Alfina Suryaningsih
Chapter #9

Bab 8 | Rasa Curiga

Pagi berikutnya bergulir dengan sisa-sisa atmosfer yang masih canggung di kediaman ini dimana matahari baru saja naik, memantulkan sinarnya yang cerah pada kaca-kaca jendela ruang tengah, akan tetapi bayang-bayang ketegangan malam sebelumnya belum sepenuhnya menguap dari benak Syauki. Sejak fajar menyingsing, Syauki sudah terbangun. Dia duduk di meja makan, menatap cangkir tehnya yang mulai dingin, sembari mengingat kembali kata-kata penenang dari Affan. Di tengah rumah yang dipenuhi ego dan pecahan luka ini, dia harus tetap berdiri tegak sebagai jangkar di lini depan.

Sekitar pukul tujuh pagi, Syauki beranjak dari ruang makan menuju lantai atas untuk mengambil handuk. Saat melewati koridor tengah dekat kamar mandi utama, dia mendengar suara batuk yang teredam dari dalam. Suaranya kering, berat, dan tertahan, seperti seseorang yang sedang berusaha keras menyembunyikan eksistensinya agar tidak mengganggu seisi rumah.

Insting Syauki seketika menajam.

Itu suara batuk Syahrul.

Langkah kaki Syauki melambat, berhenti tepat beberapa jengkal di depan pintu kamar mandi yang sedikit renggang. Melalui celah sempit itu, dia melihat siluet Syahrul yang sedang berdiri menghadap wastafel. Anak SMP itu tampak sangat ringkih di bawah siraman lampu neon putih yang dingin. Bahunya naik-turun dengan ritme yang cepat, napasnya memburu.

Syauki bersiap untuk mengetuk pintu, namun gerakannya mendadak terkunci saat melihat apa yang dilakukan Syahrul selanjutnya. Syahrul menarik beberapa lembar tisu dari wadahnya dengan tergesa-gesa, lalu menyapukannya ke arah mulut dan dagunya. Ketika tangan anak itu terulur kembali untuk membuang gumpalan tisu tersebut ke tempat sampah di bawah wastafel, mata Syauki menangkap sesuatu yang membuat darahnya berdesir hebat.

Warna merah pekat. Tisu-tisu itu tidak lagi putih bersih, melainkan telah basah dan ternoda oleh cairan kental berwarna merah tua. Jumlahnya bukan hanya setetes atau dua tetes tapi noda itu menyebar luas, memenuhi serat-serat tisu hingga beberapa bagian tampak robek karena basah. Jantung Syauki berdegup kencang. Pemandangan itu seketika meruntuhkan segala spekulasi bahwa adiknya hanya sedang kelelahan karena tugas sekolah. Dengan tangan yang sedikit bergetar, Syauki mendorong pintu kamar mandi hingga terbuka lebar.

Krieeek.

Lihat selengkapnya