RUMAH SINGGAH

Lilis Alfina Suryaningsih
Chapter #10

Bab 9 | Rahasia Syahrul di Balik Kamar

Aroma tanah basah sisa hujan sore membubung di sekitar kompleks perumahan saat Syauki melangkah memasuki pagar. Kedua tangannya mencengkeram erat dua kantong plastik besar berisi bahan makanan bulanan dari supermarket. Selepas ketegangan demi ketegangan yang menguras emosi dalam beberapa hari terakhir, belanja sore ini setidaknya memberi Syauki ruang untuk bernapas, meski kepalanya masih dipenuhi oleh duga-duga tentang noda merah di tisu kamar mandi yang dibuang Syahrul kemarin pagi.

Suasana rumah tampak lengang dari luar. Lampu teras belum dinyalakan, meninggalkan area depan dalam remang senja yang perlahan naik. Syauki memilih berjalan memutar melewati pintu samping yang terhubung langsung dengan garasi mobil, berniat menaruh barang belanjaan langsung ke arah dapur bersih. Namun, baru saja kakinya melangkah melewati pembatas tembok garasi yang gelap, sepotong kalimat yang diucapkan dengan berbisik menghentikan pergerakannya.

"Telan sekarang, Rul. Minum airnya yang banyak."

Itu suara Affan. Nadanya tidak sedatar biasanya dimana ada kecemasan yang bergetar hebat di sana.

Syauki menahan napas. Di balik badan mobil SUV besar milik Pak Baskoro yang terparkir, dua siluet adiknya terlihat samar di bawah temaram lampu neon gantung garasi yang berpendar redup. Syahrul duduk di atas undakan semen pembatas mesin cuci, sementara Affan berlutut di depannya.

Di tangan Affan, sebuah botol obat plastik berwarna putih tanpa label berisikan pil-pil berukuran besar terbuka. Affan dengan cekatan mengeluarkan dua butir pil, menyodorkannya ke tangan Syahrul yang gemetar, lalu dengan sigap membantu adiknya itu meneguk sebotol air mineral hingga tandas. Syahrul tampak terengah-engah, dadanya naik-turun dengan payah seolah baru saja menyelesaikan kerja fisik yang luar biasa berat.

KREK.

Ujung sepatu Syauki tidak sengaja menginjak botol plastik bekas yang tergeletak di lantai garasi. Suara itu seketika memotong keheningan.

Affan langsung berdiri tegak, membalikkan badannya dengan cepat dengan gestur yang waspada. Sementara Syahrul, yang menyadari kehadiran kakak sulungnya, langsung membelalak panik. Dengan gerakan panik yang kikuk, anak itu berusaha menyembunyikan botol obat putih di balik lipatan jaketnya yang kedodoran.

"Kak Syauki...?" cicit Syahrul, suaranya nyaris hilang di tenggorokan.

Syauki menurunkan dua kantong belanjaannya ke atas kap mobil, matanya menatap tajam dari Affan ke arah Syahrul bergantian. Rasa curiga yang tertanam sejak kemarin kini mendadak mendapat konfirmasi nyata yang mengerikan.

Lihat selengkapnya