RUMAH SINGGAH

Lilis Alfina Suryaningsih
Chapter #11

Bab 10 | Topeng Yang Rapi

Di dalam kamarnya, dia duduk di tepi ranjang dengan kedua tangan menangkup wajah. Kamar yang sejuk oleh hembusan pendingin ruangan itu mendadak terasa pengap, seolah-olah oksigen di dalamnya telah menguap habis. Pengakuan Affan di garasi beberapa jam lalu masih terus bergaung di kepalanya, berputar-putar menciptakan badai baru yang mengoyak ketenangannya.

Kanker paru-paru.

Stadium empat.

Satu tahun.

Syauki menarik napas dalam-dalam, merasakan dadanya begitu sesak hingga perih. Mengetahui kebenaran itu membuat beban di pundaknya seketika berlipat ganda, menekan titik terlemah dalam jiwanya hingga ke dasar. Di satu sisi, dia masih terseok-seok mengumpulkan serpihan mentalnya sendiri, berjuang mati-matian menahan serangan panik yang setiap saat siap meledak hanya karena suara sirine atau bau gosong. Di sisi lain, kini dia dipaksa memakai topeng paling tebal berpura-pura bahwa segalanya baik-baik saja, tersenyum seolah rumah ini tidak sedang berjalan di atas bom waktu yang siap meledak demi menjaga mental saudara-saudaranya yang lain.

"Bagaimana bisa aku berpura-pura?" bisik Syauki pada kegelapan kamar, suaranya bergetar parau. Tangannya meremas kain sprei dengan erat, menyembunyikan getaran hebat yang kembali menyerang saraf jarinya. Dia merasa seperti seorang penipu yang mengenakan jubah pemimpin, berdiri di lini paling depan sementara fondasi di bawah kakinya sendiri sudah retak parah.

Keesokan paginya, ujian nyata dari kepura-puraan itu langsung dimulai di meja makan.

Suasana sarapan kali ini terasa berbeda sejak Syauki menerapkan pembagian tugas baru. Di atas meja, piring-piring berisi nasi goreng buatan Syauki terpajang rapi. Dalvin duduk di kursinya dengan wajah ketus, menyuap makanan dengan kasar seolah masih menaruh dendam atas robekan kertas kemarin, namun dia tidak lagi membuat aturan sendiri. Di sebelahnya, Arif si bungsu tampak jauh lebih tenang, sesekali melirik Syauki dengan pandangan yang tidak lagi dilingkupi kecemasan ekstrem. Alex sendiri hanya memutar-mutar garpunya dengan malas, sesekali melempar tatapan sinis yang sengaja memancing emosi, namun Syauki memilih untuk mengabaikannya total, mengingat nasihat Affan untuk tidak memberinya peluru.

Lalu, pintu koridor sayap kiri terbuka. Syahrul berjalan keluar dengan langkah yang sangat lambat, menyeret sandal rumahnya dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki. Wajahnya begitu pucat di bawah sorot lampu ruang makan, dan tubuhnya terlihat semakin menyusut di dalam jaket oversize yang dia kenakan.

Melihat kehadiran Syahrul, tangan Syauki yang sedang memegang teko berisi air teh seketika membeku. Detak jantungnya berpacu liar. Rasa perih dan hancur mendadak mendesak naik ke tenggorokannya, membuat matanya terasa panas. Dia ingin sekali bangkit, memeluk adiknya, atau menyeretnya ke rumah sakit terbaik detik ini juga. Namun, dari ujung meja, sepasang mata Affan menatapnya lurus—sebuah gelengan kepala yang sangat tipis dari Affan menjadi kode keras yang menahan pergerakan Syauki.

Lihat selengkapnya