RUMAH SINGGAH

Lilis Alfina Suryaningsih
Chapter #12

Bab 11 | Krisi Kepercayaan Arif

Sinar matahari pagi baru saja menyentuh permukaan meja kaca di ruang tengah ketika ponsel di saku celana Syauki bergetar panjang. Di layar tertera nama ‘Papa’. Syauki bergegas menggeser tombol hijau, membawa benda pipih itu ke telinganya sembari berjalan menjauh dari ruang makan agar adik-adiknya tidak terganggu.

"Halo, Assalamualaikum, Pa?" sapa Syauki, mencoba menjaga suaranya tetap stabil dan hangat.

"Waalaikumussalam. Syauki, bagaimana kondisi rumah?" Suara Pak Baskoro terdengar berat di seberang sana, bercampur dengan deru bising khas bandara atau stasiun. "Papa baru saja menyelesaikan pertemuan di Surabaya, tapi sepertinya urusan audit perusahaan di sini jauh lebih rumit dari perkiraan. Papa dan Mama kemungkinan besar harus memperpanjang waktu di luar kota. Mungkin satu sampai dua minggu lagi baru bisa pulang."

Mendengar hal itu, dada Syauki sempat berdesir agak lemas. Beban rahasia tentang penyakit stadium lanjut Syahrul yang dia pikul bersama Affan, ditambah tingkah manipulatif Alex, mendadak terasa semakin menekan ulu hatinya. Namun, topeng kepura-puraannya kembali terpasang rapi.

"Iya, Pa, tidak apa-apa. Urus saja pekerjaan Papa sampai selesai," jawab Syauki tenang, memaksakan seulas senyuman meski tidak terlihat. "Kondisi rumah aman. mereka.. semuanya baik-baik saja."

"Baguslah. Papa mempercayakan rumah kepada kamu, Uki. Jaga adik-adikmu, ya. Assalamualaikum."

"Waalaikumussalam."

Syauki menurunkan ponselnya, mengembuskan napas panjang yang terasa berat. Baru saja dia hendak melangkah kembali ke dapur, ponselnya kembali menjerit. Kali ini, nomor yang tidak dikenal tertera di layar. Dengan kening berkerut, Syauki mengangkatnya.

"Halo, benar ini dengan wali murid dari Arif Baskoro?" suara seorang wanita di seberang sana terdengar sangat formal namun menyiratkan kecemasan. "Saya Ibu Retno, guru bimbingan konseling dari sekolah Arif. Jika ada waktu, apakah perwakilan keluarga bisa datang ke sekolah sekarang? Ada hal mendesak yang perlu kita bicarakan mengenai kondisi Arif di sekolah."

Jantung Syauki berdegup lebih cepat. "Iya, Bu. Saya Kakak Sulungnya. Saya akan segera ke sana."

Setengah jam kemudian, Syauki sudah duduk di dalam ruang BK yang sejuk namun terasa mencekam bagi siapa pun yang memasukinya. Di sebelahnya, Arif duduk menunduk dalam-dalam. Jemari tangan anak SMP itu meremas pinggiran rok seragam celananya dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia sama sekali tidak berani mendongak, menyembunyikan wajahnya yang tampak layu dan penuh gurat ketakutan.

Ibu Retno mengembuskan napas perlahan, menatap Syauki dengan pandangan prihatin sebelum membuka map dokumen di atas meja.

Lihat selengkapnya