RUMAH SINGGAH

Lilis Alfina Suryaningsih
Chapter #13

Bab 12 | Problematik Dalvin

Baru saja Syauki hendak menyusun bahan makanan di dapur, ponselnya kembali bergetar di atas meja marmer. Kali ini, bukan suara lembut Ibu Retno yang menyapa, melainkan suara berat dan tegas dari Wakil Kepala Sekolah bagian Kesiswaan SMA tempat Dalvin bersekolah.

"Mas Syauki, bisa Anda segera datang ke sekolah? Dalvin terlibat perkelahian hebat di luar area sekolah setelah jam pulang kemarin. Korbannya mengalami luka cukup parah, dan pihak keluarga korban sedang menuntut agar Dalvin dikeluarkan."

Informasi itu bagai hantaman gada yang mendadak bagi Syauki. Belum kering luka batinnya menahan rahasia Syahrul dan krisis mental Arif, kini Dalvin—si ambisius yang arogan—justru meledakkan masalah baru di luar kendali. Syauki menarik napas dalam-dalam, menatap Affan yang kebetulan lewat di dekat dapur.

Tiga puluh menit kemudian, Syauki sudah berdiri di koridor ruang kepala sekolah. Dari balik kaca, dia bisa melihat Dalvin duduk di salah satu kursi kayu dengan seragam yang koyak di bagian bahu dan noda darah kering yang menempel di kerah bajunya. Sudut bibir remaja SMA itu pecah, dan tulang pipinya membiru. Namun, alih-alih menunjukkan penyesalan, wajah Dalvin tetap mengeras, rahangnya terkatup rapat dengan tatapan mata yang menantang lantai, memancarkan ego dan harga diri yang menolak untuk tunduk. Di seberangnya, seorang pria paruh baya bertubuh tambun—orang tua dari siswa yang menjadi lawan duel Dalvin—sedang berteriak histeris, menuntut keadilan.

Syauki mengetuk pintu, lalu melangkah masuk. Kehadirannya yang tenang namun kokoh seketika menarik perhatian seisi ruangan.

"Ah, ini dia wali dari Dalvin," ucap Wakil Kepala Sekolah, menjabat tangan Syauki dengan canggung.

"Saya tidak butuh basa-basi!" bentak pria tambun itu, langsung berdiri dan menunjuk wajah Syauki. "Hai Mas atau siapa pun Anda, lihat kelakuan adik Anda! Dia memukuli anak saya sampai hidungnya patah! Saya tidak mau tahu, anak berandalan ini harus dikeluarkan dari sekolah dan saya akan bawa kasus ini ke jalur hukum!"

Dalvin reflek mengepalkan tangannya di atas lutut, napasnya memburu mendengar kata berandalan. Dia bersiap untuk bangkit dan kembali berteriak, mempertahankan egonya. Namun, belum sempat Dalvin membuka mulut, sebuah tangan kokoh mendarat di bahunya. Syauki menekan pundak Dalvin dengan lembut namun sarat akan penekanan yang mutlak, memaksanya untuk tetap duduk. Syauki kemudian melangkah maju, memposisikan tubuhnya tepat di depan Dalvin, bertindak sebagai tameng hidup yang memisahkan adiknya dari telunjuk kemarahan pria tersebut.

"Bapak, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas tindakan adik saya," ucap Syauki. Suaranya terdengar sangat rendah, tenang, namun memiliki wibawa yang membuat pria tambun itu sesaat tertegun. "Saya tidak akan membela kesalahan Dalvin. Memukul orang lain adalah tindakan yang salah, dan sebagai kakak sulungnya, saya mengambil tanggung jawab penuh atas luka yang dialami putra Bapak."

Lihat selengkapnya