RUMAH SINGGAH

Lilis Alfina Suryaningsih
Chapter #14

Bab 13 | Malam Permintaan Maaf

Malam merambat semakin larut, menenggelamkan kedemaman sisa ketegangan siang tadi ke dalam sunyinya kompleks perumahan. Angin malam berembus perlahan, menggoyang dedaunan di taman belakang rumah Pak Baskoro. Di teras belakang, Syauki duduk sendirian di atas kursi rotan. Di atas meja kaca, secangkir teh melati yang sudah tidak lagi mengepulkan uap menemaninya. Matanya menatap kosong ke arah kolam ikan, namun pikirannya mengembara jauh.

Dia merasa lelah—amat sangat lelah. Beban sebagai anak sulung dadakan benar-benar menguras seluruh energinya. Di dalam benaknya, bayangan penyakit stadium lanjut Syahrul, kecemasan Arif yang baru saja mereda, dan luka lebam di wajah Dalvin berputar-putar bagai komidi putar yang tak kunjung berhenti. Sambil mengurut pelipisnya yang berdenyut, Syauki mengembuskan napas panjang. Dia sedang mencoba menata hatinya sendiri, mencari sisa-sisa kekuatan dari balik memori panti asuhan agar topeng pelindungnya tidak retak di depan adik-adiknya.

Sret.

Suara pintu kaca yang digeser perlahan memecah keheningan teras. Syauki menoleh dan menemukan Dalvin melangkah keluar. Remaja SMA itu kini mengenakan kaus oblong longgar. Plester putih menempel di tulang pipinya, dan sudut bibirnya yang pecah tampak diolesi salep tipis. Langkah Dalvin terasa kikuk, sangat berbeda dengan pembawaannya yang biasanya meledak-ledak dan penuh percaya diri.

"Belum tidur, Kak?" tanya Dalvin. Suaranya rendah, kehilangan nada ketus yang biasanya selalu ia gunakan saat berbicara dengan Syauki.

Syauki agak terkejut mendengar sapaan itu, terutama kata 'Kak' yang meluncur lebih alami dari bibir adiknya malam ini. Dia tersenyum tipis dan menggeser kursi di sebelahnya. "Belum. Masih menikmati angin malam. Duduklah, Vin."

Dalvin menarik kursi rotan itu dan duduk. Untuk beberapa saat, keheningan yang canggung menyelimuti mereka berdua. Hanya ada suara gemercik air kolam dan deru jangkrik di kejauhan. Dalvin menatap jemarinya yang dibalut perban kecil akibat perkelahian kemarin, tampak menimbang-nimbang kata yang tepat untuk memulai. Ego besarnya sedang berperang di dalam dada, namun rasa hormat yang lahir setelah kejadian di ruang kepala sekolah siang tadi akhirnya memenangkan pertempuran itu.

"Lukamu... masih sakit?" Syauki membuka suara terlebih dahulu, mencoba mencairkan kebekuan.

Lihat selengkapnya