RUMAH SINGGAH

Lilis Alfina Suryaningsih
Chapter #15

Bab 14 | Terukir Senyuman

Dua anak dengan sifat bertolak belakang itu kini telah melunak. Dalvin tidak lagi memancarkan arogansi; dia bahkan mulai menunjukkan perannya dalam mengawasi pergerakan Alex yang belakangan memilih menarik diri karena kehabisan peluru provokasi. Sementara Arif, kini sering terlihat tersenyum, dengan rajin menyiram tanaman di halaman depan setiap sore di bawah bimbingan santai dari Syauki. Namun, di tengah harmoni baru yang mulai terbangun itu, fokus Syauki tidak pernah bergeser dari koridor gelap di sayap kiri rumah. Kamar sudut tempat Syahrul mengurung diri.

Mengetahui rahasia besar yang ia pikul bersama Affan mengenai penyakit kronis stadium lanjut adiknya membuat dada Syauki selalu dilingkupi rasa sesak yang tak kasat mata. Setiap kali melihat kursi kosong di meja makan, atau mendengar batuk kecil yang teredam dari balik dinding kayu, Syauki diingatkan bahwa waktu mereka bersama Syahrul tidaklah banyak. Dia teringat pesan Affan

“Dia butuh tahu bahwa di rumah yang bising ini, ada seseorang yang bersedia duduk diam bersamanya di dalam kegelapan.”

Pagi itu, Syauki memutuskan untuk tidak sekadar duduk diam. Dia ingin membawa Syahrul keluar, menjemput sedikit sinar matahari sebelum waktu benar-benar habis. Syauki berdiri di depan pintu kamar Syahrul, mengetuknya tiga kali dengan sangat pelan. "Rul? Ini Kak Syauki. Boleh Kakak masuk?"

Hening sesaat, sebelum terdengar suara langkah kaki yang diseret lambat. Pintu terbuka sedikit, memunculkan wajah Syahrul yang masih sewarna kertas, lengkap dengan lingkaran hitam di bawah matanya yang sayu. Dia mengenakan jaket rajut yang terlalu besar untuk tubuh ringkihnya.

"Ada apa, Kak?" tanya Syahrul, suaranya tipis dan serak.

Syauki mengulas senyuman paling hangat yang ia miliki, menyembunyikan getar kesedihan di matanya. "Hari ini cuacanya sedang bagus sekali, tidak terlalu panas. Kakak mau pergi keluar sebentar untuk mencari angin. Mau ikut Kakak berjalan-jalan?"

Syahrul terdiam, matanya berkedip ragu. "Aku... aku di kamar saja, Kak. Agak lemas."

"Hanya jalan-jalan santai di sekitar taman kota, Rul. Tidak akan melelahkan, Kakak janji," bujuk Syauki lembut, menyentuh lengan Syahrul dengan gerakan yang sangat berhati-hati, seolah takut menyakiti tubuh adiknya yang kian menyusut. "Kamu sudah terlalu lama mengurung diri di kamar yang dingin ini. Anggap saja ini perintah dari Kakak Sulung yang tidak boleh dibantah."

Mendengar gurauan halus itu, sebentuk senyum tipis yang sangat langka muncul di sudut bibir Syahrul. Dia menatap ketulusan di mata Syauki, lalu akhirnya mengangguk pasrah. "Baiklah, Kak. Aku ganti baju sebentar."

Lihat selengkapnya