RUMAH SINGGAH

Lilis Alfina Suryaningsih
Chapter #16

Bab 15 | Pemantik Trauma

Sore itu tawa renyah Arif terdengar dari halaman depan saat dia menyiram deretan tanaman anggrek milik Ibu Rahma. Di dekatnya, Dalvin berdiri memegangi selang air, sesekali menjahili si bungsu hingga mereka terlibat aksi saling ciprat yang jenaka. Dari jendela lantai dua, Affan melirik interaksi itu dengan senyum tipis di wajahnya, sebelum kembali menemani Syahrul di dalam kamar yang kini terasa lebih hidup sejak maket jembatan gantung kayu dari Syauki terpajang di atas meja belajar. Semuanya tampak berjalan ke arah yang sempurna.

Namun, di sudut ruang tengah yang temaram, sepasang mata menatap pemandangan hangat itu dengan kebencian yang mendalam.

Alex bersandar di pilar, kedua tangannya mengepal erat di dalam saku celana. Rahhangnya mengeras melihat bagaimana Dalvin—yang dulu selalu mendukung arogansinya—kini justru berjalan beriringan di belakang Syauki. Dia melihat bagaimana Arif tidak lagi gemetar ketakutan saat berjalan di koridor, dan bagaimana posisi Syauki sebagai anak sulung kini diakui mutlak oleh seisi rumah.

Alex merasa terasing. Dia merasa posisinya sebagai anak kandung yang berhak atas kendali rumah ini telah dirampas sepenuhnya oleh seorang anak panti asuhan yang dia anggap cacat mental karena trauma.

"Sialan," desis Alex rendah, membuang muka dengan muak. "Mereka semua sudah dicuci otak oleh drama murahan anak yatim itu."

Bagi Alex, keharmonisan ini adalah ancaman. Jika situasi ini terus bertahan sampai Papa dan Mama pulang dua minggu lagi, maka posisinya di rumah ini akan selamanya bergeser ke pinggiran. Dia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Peluru provokasi verbalnya mungkin sudah habis disapu bersih oleh ketegangan wibawa Syauki tempo hari, namun Alex bukan tipe orang yang akan menyerah begitu saja. Di dalam kepala kriminalnya yang manipulatif, sebuah rencana ekstrem mulai tersusun rapi.

Dia harus membongkar kedok itu. Dia harus membuktikan kepada Dalvin, Affan, dan Arif bahwa kapten yang mereka agung-agungkan di lini depan sebenarnya hanyalah seorang pengecut rapuh yang akan lumpuh total jika dihadapkan pada satu hal: api.

Malam pun tiba membawa selimut kegelapan yang pekat di atas kompleks perumahan. Sekitar pukul sebelas malam, seisi rumah telah terlelap. Kesunyian yang tebal kembali menguasai setiap koridor, menyisakan deru pendingin ruangan yang bergaung rendah. Alex bergerak dalam senyap. Dia keluar dari kamarnya dengan langkah tanpa suara, mengenakan pakaian serba hitam. Di tangan kanannya, dia mencengkeram sebuah botol plastik berisi cairan minyak tanah yang sengaja dia ambil dari gudang belakang siang tadi, dan di saku celananya, sebuah korek api gas logam terasa berat menekan pahanya.

Tujuan Alex bukan untuk membakar rumah ini hingga rata dengan tanah; dia tidak sebodoh itu untuk mencelakai dirinya sendiri. Dia hanya butuh sebuah panggung visual yang cukup mengerikan untuk memicu sirkuit trauma Syauki di depan mata adik-adiknya yang lain. Alex melangkah menuju ruang cuci dan setrika yang terletak di bagian belakang lantai satu, tepat di sebelah koridor menuju kamar Syahrul. Ruangan itu dipenuhi oleh tumpukan kain perca dan beberapa keranjang pakaian kering yang belum disetrika—bahan bakar yang sempurna untuk rencananya.

Dengan senyum licik yang terukir di wajahnya yang disinari temaram lampu koridor, Alex membuka tutup botol minyak tanah. Dia memercikkan cairan berbau menyengat itu ke atas tumpukan kain perca di sudut ruangan, memastikan jalurnya tidak akan merembet ke kabel listrik utama. Setelah selesai, Alex merogoh sakunya, mengeluarkan korek api gas, dan menyalakannya. Pemantik itu memercikkan api kecil berwarna biru kemerahan yang menari-nari di kegelapan.

"Mari kita lihat, seberapa lama lo bisa bertahan jadi pahlawan, Kak Syauki," bisik Alex penuh racun.

Dia melemparkan korek api yang menyala itu ke atas gumpalan kain yang telah basah oleh minyak tanah.

Lihat selengkapnya