Alex tidak berniat membakar rumah ini hingga runtuh; dia hanya ingin membuat sebuah pertunjukan. Sebuah panggung visual yang cukup mengerikan untuk memicu trauma masa lalu sang kakak sulung. Dia ingin membuktikan kepada Dalvin, Affan, dan Arif bahwa kapten lini depan yang mereka agung-agungkan sebenarnya hanyalah seorang pengecut rapuh yang lumpuh total oleh ketakutan terhadap api.
Wush!
Dalam sekali goresan korek api, gundukan kertas itu langsung dilalap api yang berkobar tinggi. Asap hitam pekat berbau logam membubung ke udara malam, menjilat dedaunan di atasnya dan memantulkan warna merah darah yang mencekam di kaca jendela ruang tengah.
"Kak Uki! Kak! Ada kebakaran di halaman belakang!" teriak Alex dengan suara yang sengaja dibuat panik luar biasa, memecah keheningan rumah.
Mendengar teriakan itu, pintu tengah langsung terbuka. Syauki melangkah keluar dengan tergesa-gesa, diikuti oleh Dalvin, Affan, dan Arif di belakangnya. Namun, begitu sepasang mata Syauki menangkap jilatan api yang menari-nari di kegelapan halaman dan mencium bau asap yang menyengat, langkah kakinya mendadak terkunci.
Trauma masa lalunya meledak tanpa ampun. Pandangan Syauki seketika mengabur, berganti dengan memori neraka malam panti asuhan tiga tahun lalu. Warna merah api memantul di bola matanya yang melebar penuh ketakutan. Tubuh Syauki bergetar hebat, wajahnya memucat seketika, dan napasnya berubah menjadi tarikan pendek yang putus-putus. Dia membeku di ambang pintu teras, tangannya mencengkeram kusen pintu begitu erat hingga buku jarinya memutih, lumpuh total oleh serangan panik yang luar biasa.
Alex yang melihat reaksi itu tersenyum puas di dalam hatinya.
Lihat, dia benar-benar pengecut, batin Alex penuh kemenangan.
Namun, kepuasan Alex tidak bertahan lama. Di sela-sela kepanikan yang sengaja ia ciptakan, sebuah langkah kaki yang sangat lambat dan terseret terdengar dari koridor sayap kiri. Syahrul berjalan keluar dengan wajah yang jauh lebih pucat dari biasanya. Kepulan asap hitam dari halaman belakang yang terbawa angin malam rupanya telah merayap masuk ke dalam ruang tengah, memenuhi udara dengan partikel karbon yang menyesakkan. Bagi seorang remaja dengan kondisi kanker paru-paru stadium empat seperti Syahrul, asap pekat itu adalah racun mematikan.
"Uhuk! Uhuk... Kak..." Syahrul terbatuk hebat, tangannya langsung mencengkeram dadanya sendiri dengan sangat kuat.