RUMAH SINGGAH

Lilis Alfina Suryaningsih
Chapter #18

Bab 17 | Merasa Bersalah

Sisa kepulan asap tipis masih mengular di langit-langit ruang tengah, membawa aroma karbon dan pengkhianatan yang menyesakkan dada. Beberapa menit yang lalu, napas Syahrul sempat kembali berkat tabung oksigen portabel. Senyum lega yang lelah sempat menghiasi wajah Syauki. Namun, takdir rupanya belum selesai mempermainkan mereka malam itu.

Tiba-tiba, tubuh ringkih Syahrul menegang hebat di atas lantai marmer. Kelopak matanya yang baru saja terbuka setengah, kembali menutup rapat dengan paksa. Terdengar bunyi gemeretak dari giginya yang saling beradu, disusul oleh tarikan napas yang sangat kasar dan berbunyi mengi panjang—sebuah suara yang menyayat hati, menandakan paru-parunya menolak kompromi.

"Rul? Syahrul!" Syauki menepuk pipi adiknya dengan panik. Rasa lega yang baru saja singgah langsung menguap tak bersisa, digantikan oleh teror murni yang membekukan darahnya. "Affan! Oksigennya tidak masuk! Kenapa dadanya tidak bergerak?!"

Affan, yang berlutut di sisi lain, langsung meraba pergelangan tangan Syahrul. Wajah tenang si anak tengah yang biasanya selalu taktis dan penuh perhitungan itu mendadak pias pasi. Denyut nadi Syahrul berdetak sangat cepat namun luar biasa lemah, seperti kepakan sayap kupu-kupu yang sekarat. Stres ekstrem akibat teror api yang diciptakan Alex, ditambah terpaan asap beracun yang sempat masuk ke paru-parunya, rupanya memicu komplikasi fatal pada sel kanker yang diam-diam telah lama menggerogoti tubuh remaja itu.

"Napasnya gagal, Kak! Kondisinya drop drastis. Kita tidak bisa menanganinya di sini, kita harus bawa ke rumah sakit sekarang juga!" teriak Affan membuang seluruh ketenangannya ke sudut ruangan.

Mendengar kata-kata itu, seluruh dunia Syauki seakan berhenti berputar. Naluri pelindungnya mengambil alih sepenuhnya, menenggelamkan sisa-sisa trauma apinya ke dasar jurang. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Syauki menyelipkan kedua lengannya ke bawah punggung dan lutut Syahrul, mengangkat tubuh adiknya yang kini terasa seringan kapas itu dengan mudah.

"Siapkan mobil, Fan! Buka pintunya!" perintah Syauki dengan suara yang bergetar menahan tangis, langkah kakinya bergegas setengah berlari menuju pintu depan.

Di sudut ruang tengah, Alex masih berdiri mematung. Handuk basah yang tadi dibawanya dari dapur jatuh ke lantai dengan bunyi gedebuk pelan, seiring dengan runtuhnya seluruh pertahanan egonya. Matanya melebar, merekam jelas bagaimana kepala Syahrul terkulai tak berdaya di lengan Syauki, dengan bibir yang mulai membiru. Wajah pucat pasi adiknya itu tampak mengerikan.

"Kak Uki..." panggil Alex lirih, suaranya tercekat oleh rasa bersalah yang bagai mencekik tenggorokannya.

Namun, Syauki bahkan tidak menoleh sedikit pun. Kakak sulungnya itu telah melesat keluar, menembus kegelapan malam, disusul oleh Affan yang berlari menyambar kunci mobil di atas meja.

Lihat selengkapnya