RUMAH SINGGAH

Lilis Alfina Suryaningsih
Chapter #19

Bab 18 | Rahasia Di Balik Kamar

Lorong Instalasi Gawat Darurat pada pukul dua dini hari terasa seperti purgatorium yang dingin dan tak berujung. Bau antiseptik dan karbol menguar tajam, bercampur dengan senyap yang hanya dipecahkan oleh dengung mesin pendingin ruangan. Di depan pintu ganda ruang resusitasi, waktu seolah berhenti berdetak bagi Syauki dan Affan.

Syauki duduk di kursi besi panjang, menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga wajahnya tersembunyi di balik telapak tangannya yang masih gemetar. Di sebelahnya, Affan berdiri menyandarkan punggung pada dinding. Anak tengah yang biasanya selalu berpikir taktis bak seorang jenderal itu kini terlihat sangat berantakan. Matanya merah, napasnya memburu, dan rahangnya mengetat menahan ledakan emosi yang sejak tadi menggedor-gedor dadanya.

Suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa memecah keheningan lorong. Dari ujung koridor, Dalvin berlari mendekat sambil menggandeng Arif yang wajahnya sembab karena terus menangis. Tepat di belakang mereka, berjalan dengan langkah terseret dan kepala menunduk, adalah Alex. Wajah anak yang beberapa jam lalu menyalakan api dengan penuh arogansi itu kini pucat pasi, matanya kosong merekam ketakutan yang absolut.

"Kak Uki! Affan!" panggil Dalvin dengan napas tersengal-sengal saat mereka tiba. Dia sengaja memesan taksi daring menyusul ke rumah sakit, tak sanggup menunggu dalam ketidaktahuan di rumah yang terasa seperti neraka. "Gimana keadaan Syahrul? Dia sudah sadar, kan?"

Syauki perlahan mengangkat wajahnya. Gurat kelelahan dan keputusasaan tercetak jelas di sana. Namun, sebelum sang kakak sulung sempat membuka mulut, suara decit engsel pintu ruang tindakan terbuka. Seorang dokter bedah toraks keluar dengan wajah tegang, melepaskan masker bedahnya dan menatap orang-orang di lorong itu.

"Keluarga dari pasien Syahrul?" tanya dokter itu dengan nada berat.

Syauki langsung bangkit berdiri, disusul oleh Affan dan Dalvin yang melangkah maju. "Saya kakaknya, Dok. Bagaimana adik saya?"

Dokter itu menghela napas panjang, sebuah gestur yang seketika membuat jantung semua orang di lorong itu merosot ke dasar perut. "Kami sudah memasangkan ventilator untuk membantu pernapasannya, namun kondisinya saat ini sangat kritis. Asap yang terhirup memicu peradangan hebat, dan dengan kondisi karsinoma paru-paru stadium akhir yang diidapnya, ini menjadi komplikasi yang sangat fatal. Saturasi oksigennya terus menurun."

Hening.

Keheningan yang begitu pekat dan menyesakkan menyelimuti mereka selama beberapa detik.

Dalvin mengerutkan kening, matanya membelalak menatap sang dokter dengan kebingungan yang nyata. "Tunggu... Karsinoma? Kanker? Dokter pasti salah baca rekam medis! Adik saya cuma punya riwayat asma ringan sejak kecil. Asap itu pasti cuma bikin asmanya kambuh, kan?!"

Lihat selengkapnya