Jarum jam dinding di lorong Instalasi Rawat Intensif (ICU) itu menunjuk tepat pada angka lima pagi. Langit di luar jendela kaca rumah sakit mulai memancarkan semburat ungu keabu-abuan, menandakan fajar yang sebentar lagi menyingsing. Namun, bagi kelima remaja yang terjebak di lorong beraroma karbol itu, malam terasa belum berakhir. Kegelapan dan hawa dingin masih dengan setia memeluk pundak mereka.
Di sudut lorong, Arif tertidur pulas di atas deretan kursi besi beralaskan jaket denim milik Dalvin. Wajah si bungsu masih menyisakan jejak air mata yang mengering, sesekali napasnya tersendat sisa isakan panjang semalam. Tidak jauh dari sana, Alex duduk meringkuk di lantai, memeluk kedua lututnya dengan tatapan yang sepenuhnya kosong. Matanya bengkak dan merah. Tidak ada lagi sisa-sisa kesombongan, arogansi, maupun senyum manipulatif di wajah itu yang tersisa hanyalah cangkang kosong dari seorang anak laki-laki yang sedang dihancurkan oleh rasa bersalahnya sendiri.
Syauki berdiri bersandar di dinding seberang, mengamati pemandangan memilukan itu dalam diam. Kepalanya berdenyut nyeri, sisa dari serangan panik dan kelelahan fisik yang ekstrem. Di sebelahnya, Affan duduk bersedekap dengan mata setengah terpejam, menolak untuk benar-benar tidur agar tetap waspada jika sewaktu-waktu dokter keluar dari pintu ganda ICU.
Melihat kondisi adik-adiknya, Syauki menyadari satu hal: mereka tidak bisa terus-menerus berkemah di lorong rumah sakit ini. Kehancuran psikologis yang terjadi di rumah semalam terlalu berat untuk ditanggung dalam satu waktu, apalagi bagi anak seumur Arif dan Alex. Rumah harus tetap berjalan, dan seseorang harus memegang kendali di sana.
Syauki melangkah perlahan mendekati Dalvin yang sedang berdiri menatap nanar ke arah pintu ruang tindakan. Dia menepuk bahu adiknya itu pelan.
"Vin," panggil Syauki dengan suara seraknya yang khas.
"Ikut Kakak sebentar ke ujung lorong."
Dalvin menoleh, matanya menyiratkan kelelahan yang sama. Dia mengangguk pelan dan mengikuti langkah Syauki menjauh dari jangkauan pendengaran Affan dan yang lainnya. Mereka berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke arah pelataran parkir rumah sakit yang masih lengang.
Syauki menarik napas panjang, menatap lurus ke dalam sepasang mata Dalvin yang kini memancarkan kedewasaan baru yang lahir dari tragedi malam ini.
"Kakak sudah pesan taksi online. Sebentar lagi mobilnya sampai di lobi depan," buka Syauki, suaranya tenang namun mengandung otoritas yang tidak terbantahkan. "Kakak minta kamu bawa Arif dan Alex pulang sekarang."
Dalvin tersentak pelan. "Pulang? Tapi, Kak... Syahrul belum melewati masa kritisnya. Aku gak bisa pulang sekarang. Aku harus di sini nunggu kabar dari dokter."