RUMAH SINGGAH

Lilis Alfina Suryaningsih
Chapter #21

Bab 20 | Curahan Hati Affan

Siang dan malam melebur menjadi satu putaran siklus yang monoton, hanya ditandai oleh pergantian perawat jaga dan dengung ritmis mesin-mesin penopang kehidupan. Sudah hampir empat puluh lapan jam sejak malam mengerikan di mana rumah keluarga Baskoro nyaris terbakar oleh ulah Alex. Dan selama itu pula, Syahrul belum menunjukkan tanda-tanda akan membuka matanya. Kondisinya masih stagnan di titik kritis. Karsinoma paru-paru stadium empat yang bersarang di tubuh remajanya, diperparah dengan inflamasi akut akibat menghirup karbon dari asap kebakaran, membuat paru-parunya menyerah. Sebuah selang ventilator kini menjadi satu-satunya jembatan yang menghubungkan Syahrul dengan kehidupan, memompakan oksigen ke dalam dadanya yang naik turun secara mekanis.

Di luar ruangan berdinding kaca buram itu, Syauki dan Affan membentuk garis pertahanan terakhir. Mereka bergiliran berjaga, tidur sejenak di kursi besi yang dingin, dan bergantian masuk pada jam besuk yang sangat dibatasi. Wajah kedua kakak beradik itu tampak seperti kanvas pucat yang dilukis dengan kelelahan absolut; kantung mata mereka menghitam, rambut berantakan, dan pakaian yang masih sama sejak malam kejadian.

Affan baru saja berjalan kembali dari ujung lorong timur, menggenggam dua gelas kopi instan yang sudah tidak lagi mengepulkan uap panas. Langkah si anak tengah itu terasa sangat berat. Dia baru saja menyelesaikan tugas paling mengerikan yang harus diembannya sebagai penyambung lidah keluarga: menelepon Papa dan Mama yang sedang berada di luar negeri.

Dia mendorong pintu ruang tunggu ICU dengan punggungnya, mendapati Syauki sedang duduk termenung menatap layar ponsel yang menampilkan ruang obrolan kosong dengan Dalvin.

"Kopi, Kak," ucap Affan pelan menyodorkan gelas kertas itu ke hadapan Syauki.

Syauki mendongak, menerima gelas itu dengan gumaman terima kasih yang serak. "Dalvin baru saja mengirim pesan. Rumah dalam aman. Arif sudah mulai mau makan, meski Alex masih mengurung diri di kamar. Bagaimana dengan teleponnya? Kamu berhasil menghubungi Papa?"

Affan menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan telapak tangan sebelum menjatuhkan diri di kursi sebelah Syauki. "Berhasil. Papa yang angkat. Aku... aku menceritakan semuanya, tentang kolapsnya Syahrul semalam." Affan sengaja tidak menyebutkan detail bahwa Alex yang memicu kebakaran biarlah itu menjadi urusan nanti.

"Lalu?" tanya Syauki, matanya memancarkan kecemasan. "Apa reaksi mereka?"

"Hening yang sangat lama, lalu aku mendengar suara barang pecah. Mama histeris di latar belakang, menangis sampai suaranya habis," jawab Affan, pandangannya menerawang ke lantai ubin rumah sakit yang putih dingin. "Papa terdengar seperti orang yang baru saja kehabisan napas. Dia bilang mereka sudah mengamankan tiket penerbangan pertama ke Jakarta. Besok pagi mereka akan mendarat dan langsung kemari."

Lihat selengkapnya