RUMAH SINGGAH

Lilis Alfina Suryaningsih
Chapter #22

Bab 21 | Meminta Pembelaan

Pucatnya cahaya matahari yang menembus kaca jendela rumah sakit seolah tak mampu mengusir hawa dingin yang mengendap di lorong Instalasi Rawat Intensif (ICU). Syauki dan Affan masih terduduk di kursi besi panjang, tubuh mereka nyaris kebas setelah berjam-jam terjebak dalam posisi yang sama. Kopi di gelas kertas mereka sudah lama mengering, menyisakan noda kecokelatan yang mencerminkan kelelahan absolut di wajah kedua kakak beradik tersebut.

Keheningan lorong yang mematikan itu tiba-tiba dipecahkan oleh suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa, berderak kasar beradu dengan lantai ubin yang mengilap.

Dari ujung koridor, dua sosok paruh baya berlari dengan napas tersengal-sengal. Wajah mereka memancarkan kepanikan yang luar biasa, seolah dunia baru saja runtuh di atas kepala mereka. Koper kecil beroda yang ditarik asal-asalan berdenting bising, mengabaikan segala aturan ketenangan rumah sakit.

"Syauki! Affan!"

Suara lengkingan parau itu berasal dari Ibu Rahma. Wanita yang biasanya selalu tampil anggun dan tenang itu kini terlihat sangat berantakan. Riasan wajahnya luntur oleh air mata, dan rambutnya kusut masai. Di sebelahnya, Pak Baskoro menyusul dengan rahang yang mengeras, matanya memerah menahan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya. Mereka mengambil penerbangan paling awal dari luar negeri begitu mendapat telepon dari Affan semalam, membuang semua urusan bisnis demi sang anak yang tengah meregang nyawa.

Mendengar panggilan itu, Syauki dan Affan serentak bangkit berdiri. Tubuh mereka yang kaku dipaksa tegak.

"Mama... Papa..." lirih Syauki, suaranya nyaris tak terdengar.

Tanpa membuang waktu, Ibu Rahma menghambur memeluk kedua anak laki-lakinya itu secara bergantian. Tangisnya pecah seketika, menggema pilu di lorong yang sunyi. "Syahrul... di mana adik kalian? Bagaimana keadaannya? Ya Tuhan, kenapa kalian menyembunyikan hal sebesar ini dari Mama? Kenapa kalian biarkan adik kalian menderita sendirian?!"

Teguran itu meluncur bersamaan dengan isak tangis yang menyayat hati. Affan hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan air mata kembali menggenang di pelupuknya. Syauki menelan ludah dengan susah payah, merasakan dadanya seakan dihimpit batu berukuran raksasa.

"Maafkan kami, Ma," bisik Syauki dengan suara bergetar. "Dia ada di dalam... masih kritis."

Ibu Rahma melepaskan pelukannya dan segera berlari menuju dinding kaca buram yang membatasi ruang tindakan. Melalui celah kaca transparan di bagian atas, ia bisa melihat tubuh ringkih anak remajanya terbaring tak berdaya, dipenuhi selang dan kabel monitor yang berkedip tanpa henti. Lutut wanita itu seketika melemas. Jika Pak Baskoro tidak segera merengkuh pinggangnya, Ibu Rahma pasti sudah merosot jatuh ke lantai dingin rumah sakit.

Pak Baskoro menatap lekat-lekat ke arah ruang ICU, rahangnya berkedut menahan tangis seorang ayah. Setelah beberapa saat membiarkan istrinya meluapkan kesedihan, pria itu berbalik menatap Syauki dan Affan. Mata tuanya memindai kondisi kedua putra tertuanya. Dia melihat pakaian mereka yang kusut, kantung mata yang menghitam kelam, serta tubuh yang bergetar karena kelelahan kronis.

"Kalian berdua," suara Pak Baskoro terdengar berat, serak, namun sarat akan otoritas seorang kepala keluarga yang tidak bisa dibantah. "Pulanglah sekarang."

Syauki seketika mendongak, matanya melebar. "Tapi, Pa... Syahrul belum sadar. Kami tidak bisa meninggalkannya di sini."

Lihat selengkapnya