RUMAH SINGGAH

Lilis Alfina Suryaningsih
Chapter #23

Bab 22 | Rumah Hampir Hancur

Syauki melangkah masuk lebih dulu. Kakak sulung itu tampak seperti prajurit yang baru saja kalah dalam perang besar. Bahunya merosot turun, kemejanya kusut masai, dan tatapan matanya kosong memancarkan kelelahan fisik serta mental yang sudah mencapai ambang batas absolut. Tepat di belakangnya, Affan menyusul dengan langkah berat. Berbeda dengan Syauki yang terlihat pasrah, rahang si anak tengah itu terkunci rapat, urat-urat di lehernya menonjol, dan kedua tangannya mengepal di sisi tubuh, berusaha menahan badai amarah yang masih bergemuruh hebat di dalam dadanya.

Di ruang tengah, Dalvin dan Arif rupanya sama sekali belum memejamkan mata. Dalvin duduk tegap di tepi sofa dengan segelas air putih yang sudah tandas di atas meja, sementara Arif bersandar padanya, memeluk bantal sofa dengan wajah yang masih sembab. Begitu mendengar suara pintu ditutup, kedua remaja itu serentak terlonjak bangun dan berlari menghampiri kakak-kakak mereka.

"Kak Uki! Affan!" sapa Dalvin dengan suara serak, matanya memindai wajah kedua kakaknya dengan penuh harap sekaligus teror yang tak bisa disembunyikan. "Gimana keadaan Syahrul? Dia udah sadar, kan? Dokter bilang apa?"

Syauki menghentikan langkahnya, menatap Dalvin dan Arif secara bergantian sebelum menghela napas panjang yang terdengar sangat menyakitkan. "Syahrul masih di ICU, Vin. Kondisinya masih sama, belum ada perubahan. Dia masih bergantung penuh pada ventilator."

Mendengar jawaban itu, harapan di mata Dalvin meredup seketika. Arif yang berdiri di sebelahnya kembali terisak pelan, menenggelamkan wajahnya ke lengan Dalvin.

"Tapi ada hal lain," tambah Affan dengan nada suara yang dingin dan kaku, memecah isakan Arif. "Mama dan Papa sudah kembali. Mereka mengambil penerbangan pertama dan langsung menuju rumah sakit pagi ini."

Dalvin membelalakkan matanya, terkejut bukan main. "Mama dan Papa? Berarti sekarang mereka yang jaga Syahrul di sana?" Rasa lega sempat terlintas sejenak di wajah Dalvin. Kehadiran orang tua mereka setidaknya memberikan secercah harapan bahwa mereka tidak harus menghadapi situasi mengerikan ini sendirian.

Namun, sedetik kemudian, dahi Dalvin berkerut dalam saat menyadari sebuah kejanggalan. Matanya menatap ke arah pintu yang tertutup di belakang Affan, lalu kembali menatap kedua kakaknya.

"Tunggu dulu," ucap Dalvin, suaranya berubah menjadi tegang. "Alex mana? Kenapa dia gak pulang bareng kalian? Tadi subuh dia kabur lewat jendela kamarnya waktu aku lagi di dapur bikin sarapan buat Arif. Aku pikir dia menyusul kalian ke rumah sakit!"

Syauki memejamkan matanya sejenak, merasakan kepalanya kembali berdenyut nyeri seolah ditusuk ribuan jarum. "Alex memang menyusul ke rumah sakit, Vin. Dan sekarang dia masih di sana, bersama Mama dan Papa."

"Kenapa kalian biarin dia di sana?!" nada suara Dalvin mulai meninggi, campuran antara rasa bersalah karena gagal menjaga adiknya dan rasa panik yang tak beralasan. "Kak Uki sendiri yang bilang kalau kehadirannya cuma bakal bikin masalah baru! Kenapa Kakak gak seret dia pulang sekalian?!"

Melihat kepanikan dan kebingungan Dalvin, Syauki segera mengangkat tangannya, memberikan isyarat agar adiknya itu menurunkan nada suaranya. Dia lalu menoleh ke arah Affan, menatap si anak tengah dengan sorot mata yang penuh peringatan.

"Affan," panggil Syauki dengan nada rendah yang menekan, sengaja memisahkan instruksinya. "Kakak minta sama kamu, tutup mulutmu. Jangan bicarakan apa yang Alex lakukan di rumah sakit tadi. Jangan bahas apa yang kemungkinan besar akan dia rencanakan selanjutnya di depan Papa dan Mama. Kepala kita semua butuh istirahat, dan Kakak tidak mau ada keributan baru di rumah ini pagi ini."

Lihat selengkapnya