RUMAH SINGGAH

Lilis Alfina Suryaningsih
Chapter #24

Bab 23 | Katakanlah

Sejak insiden malam nahas itu, Alex sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya di rumah. Remaja bungsu bermulut manis itu tampaknya memilih untuk mengamankan posisinya di rumah sakit, menempel ketat pada Papa dan Mama seolah ia adalah korban paling rapuh dalam tragedi ini. Ketidakhadiran Alex memang menyisakan sebuah ketenangan semu di dalam rumah, namun bagi Syauki, ketenangan ini terasa seperti berdiri di tengah mata badai—sunyi, mematikan, dan hanya menunggu waktu sebelum kehancuran yang sesungguhnya menyapu mereka semua.

Di ruang tengah, televisi menyala tanpa suara, menampilkan berita siang yang gambarnya terus berganti. Dalvin duduk bersandar di karpet, menemani Arif yang sedang sibuk menyusun balok lego. Sesekali, tangan Dalvin terulur mengusap puncak kepala adik terkecilnya itu, memastikan Arif merasa aman meski dunia di sekeliling mereka sedang runtuh. Di ujung sofa, Affan duduk bersedekap dengan mata terpejam, meski gurat di dahinya menunjukkan bahwa otak si anak tengah itu masih terus bekerja keras meraba segala kemungkinan terburuk.

Sementara itu, Syauki memilih berada di halaman belakang, ia duduk sendirian di atas bangku kayu panjang, menatap kosong ke arah sisa-sisa rumput yang menghitam—jejak bisu dari kobaran api yang nyaris merenggut nyawa Syahrul. Kemeja kaus yang dikenakannya tampak kebesaran membungkus tubuhnya yang terlihat semakin menyusut. Kantung matanya menghitam kelam, menjadi saksi bisu atas malam-malam tanpa tidur yang dihabiskannya untuk merapal doa bagi Syahrul yang masih belum kunjung membuka mata di ruang ICU.

Di ruang tengah, mata Affan seketika terbuka lebar. Dalvin pun refleks menghentikan gerakannya, otot-otot di tubuhnya menegang. Suara mesin itu sangat familier, terlalu familier hingga membuat udara di ruangan itu mendadak terasa tipis dan mencekik.

Suara pintu mobil ditutup dengan berat disusul oleh derap langkah kaki yang tegas mendekati pintu utama. Saat daun pintu kayu jati itu terbuka, sosok Pak Baskoro berdiri di ambangnya. Pria paruh baya yang biasanya selalu memancarkan aura dominan dan tak terkalahkan itu kini terlihat sangat berantakan. Kemejanya kusut, jasnya hanya disampirkan sembarangan di lengan kiri, dan rambutnya yang mulai memutih tampak tidak tersisir rapi. Namun, sorot matanya tetap tajam, menyapu seluruh penjuru ruang tengah dengan intensitas yang mengintimidasi.

"Papa..." gumam Dalvin, segera bangkit berdiri diikuti oleh Affan. Arif yang ketakutan langsung bersembunyi di balik kaki Dalvin.

Pak Baskoro tidak menanggapi sapaan itu. Dia melangkah masuk, membiarkan pintu utama tetap terbuka. Matanya menatap Affan dan Dalvin secara bergantian, mencari sosok yang memegang kendali atas kekacauan di rumah ini selama ketidakhadirannya.

"Di mana kakak kalian?" tanya Pak Baskoro. Suaranya rendah, serak karena kelelahan, namun sarat akan otoritas mutlak yang tidak memberikan ruang untuk bantahan.

Dalvin menelan ludah dengan susah payah. Dia menatap mata ayahnya, mencoba mencari tahu apa yang telah Alex racuni di dalam kepala pria itu. "Kak Uki ada di halaman belakang, Pa."

Lihat selengkapnya