Kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Pak Baskoro menggantung di antara mereka, mengisyaratkan sebuah permohonan tulus dari seorang ayah yang mencari kebenaran. Cengkeraman tangan pria paruh baya itu di bahu Syauki terasa begitu hangat dan menguatkan. Syauki menatap mata ayahnya dengan sepasang netra yang mulai berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, di tengah pusaran neraka yang mengancam keluarganya, ia merasa dilihat. Ia merasa beban raksasa yang selama ini mematahkan punggungnya perlahan diangkat. Ayahnya ternyata memercayainya. Ayahnya tidak termakan oleh racun manipulasi Alex.
"Pa..." suara Syauki bergetar, kelegaan yang luar biasa membanjiri relung dadanya. Ia menarik napas panjang yang gemetar, bersiap membongkar semua topeng yang Alex kenakan selama ini. "Malam itu, Alex benar-benar kehilangan kendali. Dia sengaja menuangkan minyak tanah ke tumpukan kardus karena dia tahu Uki punya trauma dengan api. Dia—"
PLAK!
Sebuah suara tamparan yang sangat keras dan memekakkan telinga meledak di udara, menghentikan kalimat Syauki seketika.
Pukulan itu tidak datang dengan peringatan. Begitu cepat dan sarat akan tenaga yang brutal hingga tubuh Syauki terpelanting dari bangku kayu. Ia tersungkur ke atas tanah dengan bunyi debuk yang menyakitkan, tepat di atas sisa-sisa rumput yang menghitam karena sisa kebakaran. Rasa kebas dan panas yang luar biasa menjalar dari pipi kirinya hingga ke telinga, membuat pandangannya berputar dan telinganya berdenging hebat. Rasa amis darah seketika memenuhi rongga mulutnya; sudut bibirnya robek akibat benturan keras dengan cincin emas yang melingkar di jari ayahnya.
Syauki mematung di atas tanah, napasnya tersendat. Matanya terbelalak ngeri, menatap ke atas dengan sisa-sisa kesadaran yang tercerai-berai.
Di hadapannya, Pak Baskoro telah bangkit berdiri. Pria yang beberapa detik lalu memasang wajah lelah dan penuh permohonan itu kini telah menjelma menjadi sosok iblis yang sesungguhnya. Wajah tuanya merah padam, urat-urat di leher dan pelipisnya menonjol keluar, dan sepasang matanya menyorotkan kebencian yang begitu pekat dan absolut. Kata-kata manis dan sentuhan hangat tadi hanyalah sebuah pancingan yang kejam, sebuah tes untuk melihat seberapa jauh Syauki berani melempar kesalahan pada anak kandungnya.
"Tutup mulutmu, anak tidak tahu diuntung!" raung Pak Baskoro, suaranya menggelegar dahsyat, membelah kesunyian halaman belakang dan menggetarkan kaca jendela rumah.