Namun Affan tidak bisa menerima ini. Rasa keadilannya terkoyak, nuraninya berteriak histeris melihat sang kakak sulung yang selama ini menjadi tulang punggung emosional keluarga, dibuang layaknya rongsokan yang tak lagi berharga.
"Pa! Tunggu, Pa!"
Teriakan Affan membelah kesunyian yang memekakkan telinga. Remaja itu melepaskan pelukannya dari tubuh Syauki yang masih bersimpuh kaku di atas tanah, lalu berlari dan menghadang langkah ayahnya tepat di ambang pintu kaca. Napas Affan memburu, air mata membasahi wajahnya yang memerah karena amarah dan keputusasaan.
"Papa gak bisa ngusir Kak Uki begitu aja!" isak Affan, suaranya bergetar hebat. "Papa gak ada di sini saat kami butuh orang tua! Kak Uki yang masakin kami, Kak Uki yang ngerawat kami waktu sakit, Kak Uki yang nutupin semua kebusukan di rumah ini biar Papa dan Mama bisa tenang kerja di luar negeri! Dia lebih pantas disebut keluarga daripada Alex yang cuma bisa ngehancurin segalanya!"
Pak Baskoro menatap Affan dengan sorot mata sedingin baja. "Minggir, Affan. Jangan sampai kesabaran Papa habis dan Papa menganggapmu sama durhakanya dengan anak itu."
"Gak, Pa!" Dalvin tiba-tiba bersuara.
Remaja yang sejak tadi merosot lemas di lantai teras itu akhirnya memaksakan diri untuk berdiri. Kakinya gemetar, wajahnya pucat pasi, namun ada sepercik keberanian yang menyala di matanya. Dalvin melangkah tertatih, berdiri di sebelah Affan untuk membentuk barikade menghalangi ayahnya.
Bayangan bahwa Syauki tidak memiliki hubungan darah dengannya memang sempat membuat Dalvin terkejut setengah mati. Namun, memori tentang sentuhan hangat Syauki, punggung tegap kakaknya yang selalu melindunginya dari masalah, serta senyum tulus yang selalu menenangkannya, jauh lebih nyata daripada sekadar urusan DNA.
"Papa salah," ucap Dalvin, suaranya parau namun tegas. "Kak Uki bukan pembawa sial. Kalau bukan karena Kak Uki yang nekat nerobos asap semalam, Syahrul udah mati, Pa! Alex yang nyiram bensinnya! Alex yang sengaja bikin rumah ini kebakaran! Kenapa Papa lebih percaya sama pembunuh itu daripada kami?!"
Mendengar kedua putra kandungnya justru membela sosok yang sangat dibencinya saat ini, rahang Pak Baskoro mengeras. Urat-urat di pelipisnya kembali menonjol. Kemarahannya yang semula mereda kini kembali meledak dengan intensitas yang lebih mengerikan.
"Kalian berdua benar-benar sudah dibutakan oleh parasit itu!" bentak Pak Baskoro, telunjuknya menunjuk kasar ke arah luar, menembus pertahanan Affan dan Dalvin. "Apa yang dia berikan pada kalian sampai kalian berani melawan ayah kalian sendiri?! Harta? Kasih sayang palsu? Dengar baik-baik, apa yang kalian sebut sebagai pengorbanan itu hanyalah cara dia untuk menguasai rumah ini! Cara licik seorang anak jalanan untuk merebut posisi anak kandung!"