Di ruang tamu, tangisan histeris Arif perlahan mereda menjadi isakan-isakan kecil yang mencekik tenggorokan. Tenaga bocah sepuluh tahun itu telah terkuras habis setelah meronta sia-sia dalam cengkeraman ayahnya. Pak Baskoro melepaskan pelukannya pada Arif. Napas pria paruh baya itu memburu, dadanya naik turun seiring dengan sisa-sisa amarah yang masih membakar nadinya. Ia menatap ke arah pintu depan yang tertutup rapat, seolah memastikan bahwa sosok yang ia anggap sebagai 'pembawa sial' itu benar-benar telah lenyap dari pandangannya. Setelah merasa yakin, Pak Baskoro memutar tubuhnya, menatap Affan dan Dalvin yang masih mematung di ambang pintu pemisah ruang tengah.
Pria itu menegakkan bahunya, merapikan kemejanya yang berantakan akibat rontaan Arif, dan memasang kembali topeng otoritasnya. Ia berharap melihat ketundukan di mata kedua putranya. Ia berharap ketegasannya mengusir Syauki akan membuat Affan dan Dalvin sadar dan kembali patuh.
Tidak ada lagi api perlawanan yang meledak-ledak. Tidak ada lagi teriakan atau bantahan keras. Sebagai gantinya, Affan dan Dalvin menatap ayah mereka dengan sorot mata yang sepenuhnya mati. Sebuah tatapan dingin, kosong, dan sarat akan kekecewaan yang begitu dalam hingga rasanya tak berdasar. Bagi seorang ayah, ditatap dengan kebencian yang hening oleh darah dagingnya sendiri jauh lebih mengerikan daripada diteriaki.
"Papa sudah puas sekarang?" suara Dalvin mengalun pelan, memecah keheningan yang menyesakkan itu. Nadanya datar, nyaris berbisik, namun ketajamannya mampu menyayat udara. "Papa sudah membuang satu-satunya orang yang selama ini menjaga kami di rumah ini."
"Dalvin—" Pak Baskoro mencoba memotong, nada suaranya sedikit goyah saat melihat kekosongan di mata anaknya.
"Jangan bicara padaku," potong Dalvin cepat. Ia melangkah maju dengan gerakan kaku, mengabaikan eksistensi ayahnya sepenuhnya. Remaja itu berjongkok di depan Arif yang terduduk lemas di lantai, lalu mengangkat tubuh adik bungsunya itu ke dalam gendongannya. Arif menyandarkan kepalanya yang basah oleh air mata ke bahu Dalvin, jemari kecilnya mencengkeram kemeja kakaknya dengan putus asa.
Dalvin menoleh ke arah Affan, memberikan isyarat melalui tatapan mata. "Ayo, Fan. Kita tidak punya urusan lagi di ruangan ini."
Affan mengangguk pelan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tanpa sudi memberikan satu lirikan terakhir kepada ayah mereka, Affan berbalik dan berjalan mengikuti Dalvin. Mereka menaiki tangga menuju lantai dua, membiarkan Pak Baskoro berdiri sendirian di tengah ruang tamu, dikelilingi oleh kemenangan semu yang justru terasa seperti sebuah kekalahan telak.
Di dalam kamar Dalvin, suasana terasa begitu kelam. Tirai jendela ditutup rapat, menghalangi cahaya matahari yang mencoba mengintip masuk. Dalvin merebahkan tubuh Arif perlahan ke atas kasur, lalu menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mungil yang masih bergetar karena sisa isakan itu. Affan duduk di tepi ranjang, mengusap punggung Arif dengan ritme yang lambat dan menenangkan. Matanya menerawang menatap dinding kosong di seberangnya.
"Kak Uki... beneran udah pergi, Bang?" bisik Arif parau, matanya yang sembab menatap Affan dengan sisa-sisa harapan yang menyedihkan. "Arif mau Kak Uki..."
Affan merasakan tenggorokannya kembali tercekat, namun ia memaksakan diri untuk tersenyum tipis. Sebuah senyuman rapuh yang ia pelajari dari sang kakak sulung. "Kak Uki cuma pergi sebentar, Rif. Dia butuh liburan karena selama ini terlalu capek jagain kita. Nanti, kalau waktunya udah tepat, kita pasti bakal ketemu Kak Uki lagi. Abang janji."
Arif memejamkan matanya, terlalu lelah untuk berdebat atau mencari tahu kebenarannya. Perlahan, deru napas anak bungsu itu mulai teratur, jatuh ke dalam lelap yang dipaksakan oleh kelelahan fisik dan mental.