RUMAH SINGGAH

Lilis Alfina Suryaningsih
Chapter #28

Bab 27 | Sosok Yang Hilang

Hari-hari berlalu sejak gerbang besi kediaman Baskoro tertutup rapat, membuang Syauki ke jalanan dan menelan seluruh kebenaran bersama kepergiannya. Perlahan, rumah megah itu kembali pada rutinitasnya. Ketenangan kembali mengendap di setiap sudut ruangan, seolah tragedi kebakaran dan perpecahan keluarga itu hanyalah mimpi buruk yang menguap seiring terbitnya matahari.

Alex akhirnya pulang.

Kepulangan si anak bungsu itu disambut dengan perlakuan istimewa bak seorang pangeran rapuh yang baru saja lolos dari maut. Pak Baskoro dan Ibu Rahma memastikan seluruh kebutuhan Alex terpenuhi, memanjakannya dengan perhatian yang berlebihan demi menebus rasa bersalah mereka karena merasa telah 'kecolongan' oleh Syauki. Namun, di balik ketenangan yang berusaha dibangun oleh orang tua mereka, sebuah perang dingin sedang berlangsung. Ketenangan rumah ini bukanlah kedamaian; ini adalah keheningan steril yang mencekik, mirip seperti suasana di ruang tunggu pemakaman.

Di ruang makan pagi itu, sinar matahari menembus jendela kaca, menyinari meja makan panjang yang dipenuhi hidangan mewah. Pak Baskoro sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali, meninggalkan Ibu Rahma, Alex, Affan, Dalvin, dan Arif di meja makan.

Alex duduk di kursinya dengan postur santai. Ia mengoleskan selai stroberi ke atas rotinya dengan gerakan perlahan, matanya diam-diam melirik ke arah Affan dan Dalvin yang duduk berseberangan dengannya. Sejak ia menginjakkan kaki kembali ke rumah ini, Affan dan Dalvin belum mengucapkan satu patah kata pun kepadanya. Tidak ada bentakan, tidak ada caci maki, dan tidak ada tatapan membunuh seperti yang ia ekspektasikan.

"Kak Affan," panggil Alex dengan nada suaranya yang lembut dan sopan, sengaja memecah keheningan di depan ibunya. "Roti tawarnya masih ada di dekat Kakak? Boleh tolong operkan ke Alex?"

Affan yang sedang menyendok nasi gorengnya menghentikan gerakannya. Ia menatap roti tawar yang berada tepat di jangkauan tangannya. Tanpa mengubah ekspresi wajahnya, Affan meletakkan sendoknya, mengambil gelas air putihnya, dan menenggaknya pelan. Ia sama sekali tidak menoleh, seolah suara Alex tidak pernah ada, seolah wujud Alex di depannya hanyalah udara kosong.

"Affan," tegur Ibu Rahma pelan, keningnya berkerut. "Adikmu minta tolong ambilkan roti."

Dalvin, yang duduk di sebelah Affan, segera bertindak sebelum kakaknya kehilangan kesabaran. Ia berdiri dari kursinya, mengangkat piringnya sendiri dan piring milik Arif.

"Ayo, Rif. Kita makan di depan TV aja. Abang mau nonton berita," ucap Dalvin santai.

Arif, yang masih trauma dan selalu menempel pada Dalvin sejak kepergian Syauki, langsung mengangguk patuh. Ia turun dari kursi dan mengekor di belakang Dalvin. Affan pun mengikuti jejak mereka, mengangkat piringnya dan berjalan meninggalkan ruang makan tanpa menoleh sedikit pun, membiarkan roti tawar itu tak tersentuh.

Lihat selengkapnya