Affan baru saja membuka mulutnya, mencari-cari kebohongan yang paling tidak menyakitkan untuk diucapkan, ketika tiba-tiba pintu kaca buram ruangan itu bergeser terbuka dengan suara bising yang memecah ketegangan.
"Syahrul! Ya Tuhan, anakku!"
Suara isak tangis Ibu Rahma mendahului sosoknya yang bergegas masuk ke dalam ruangan, diikuti oleh Pak Baskoro di belakangnya dengan langkah lebar dan wajah yang dipenuhi kelegaan luar biasa. Mereka baru saja mendapat telepon dari perawat penjaga dan langsung berlari menyusuri lorong rumah sakit.
Ibu Rahma nyaris menerjang sisi ranjang, mendorong bahu Affan pelan agar ia bisa mengambil alih tempat di samping putranya. Wanita itu merengkuh wajah Syahrul dengan kedua tangannya, menghujaninya dengan ciuman dan air mata kebahagiaan. "Kamu sudah sadar, Sayang. Terima kasih, Tuhan. Kamu kembali pada Mama."
Pak Baskoro berdiri di sisi lain ranjang, meletakkan tangannya yang besar dan hangat di atas kepala Syahrul. Sorot mata pria paruh baya yang biasanya selalu tajam dan mengintimidasi itu kini melembut sepenuhnya, memancarkan cinta seorang ayah yang baru saja mendapatkan dunianya kembali. "Kamu anak yang kuat, Syahrul. Papa tahu kamu tidak akan menyerah begitu saja. Papa dan Mama ada di sini sekarang, semuanya sudah aman."
Di tengah pelukan dan euforia orang tuanya, raut wajah Syahrul masih menyiratkan kebingungan yang pekat. Ia mencoba mencari sosok Affan dan Dalvin, namun kedua kakaknya itu perlahan melangkah mundur, menepi ke sudut ruangan, memberikan ruang bagi kedua orang tua mereka. Affan menundukkan kepalanya dalam-dalam, sementara Dalvin memalingkan wajah, menyembunyikan rahangnya yang mengeras untuk menahan muak.
"Ma... Pa..." suara Syahrul masih sangat serak dan lemah. Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun usapan lembut ibunya menahannya.
"Ssst, jangan banyak bicara dulu, Sayang. Tenggorokanmu pasti masih sakit akibat asap itu," potong Ibu Rahma cepat, mengusap air matanya sendiri dengan punggung tangan. "Dokter bilang kamu masih butuh banyak istirahat. Yang penting sekarang Papa dan Mama bisa memastikan sendiri bahwa kondisi kamu memang benar-benar pulih. Kami akan menjagamu siang dan malam secara bergantian sampai kamu benar-benar sembuh."
Syahrul ingin memaksakan diri kembali menanyakan keberadaan Syauki, namun rasa kantuk dan kelelahan yang luar biasa, efek dari sisa obat-obatan yang masih mengalir di pembuluh darahnya, kembali menarik kesadarannya. Matanya perlahan menutup, menyerah pada rasa lelah tubuhnya, membiarkan pertanyaan krusial itu kembali terkubur untuk sementara waktu.
Sejak hari itu, dinamika di ruang perawatan Syahrul berubah menjadi sebuah rutinitas yang terstruktur namun terasa mencekik bagi Affan dan Dalvin. Setelah kondisi paru-parunya dinyatakan cukup stabil, Syahrul dipindahkan ke ruang perawatan VVIP yang jauh lebih luas dan nyaman. Orang tua mereka benar-benar menepati janji untuk menjaga Syahrul silih berganti.
Penjagaan itu diatur sedemikian rupa layaknya sebuah jadwal shift yang tidak bisa diganggu gugat. Pak Baskoro akan berjaga dari pagi hingga siang sebelum ia berangkat ke kantor, lalu Ibu Rahma mengambil alih dari siang hingga sore hari. Bahkan Alex, dengan topeng kepolosannya yang nyaris sempurna, sering kali datang berkunjung di sore hari. Anak bungsu itu membawakan buah-buahan dan membacakan buku cerita untuk Syahrul dengan senyum manis yang membuat perut Affan mual melihatnya.