Di dalam kepalanya, skenario sempurna telah tertulis. Syauki, sang kakak tertua yang selalu merusak kesenangannya, telah ditendang keluar dari rumah dan dicoret dari keluarga. Affan dan Dalvin telah bungkam, terlalu lelah untuk melawan. Papa dan Mamanya sepenuhnya berada dalam genggamannya, buta oleh air mata palsu yang ia peras di saat yang tepat. Alex merasa dirinya berdiri di puncak hierarki keluarga Baskoro, tak tersentuh dan berkuasa.
Dengan senyum manis yang sudah ia latih di depan cermin toilet rumah sakit, Alex menggeser pintu kaca buram ruangan itu.
"Ma, Pa, Alex datang! Alex bawain puding karamel buat—"
Kalimat ceria itu terputus seketika, menguap di udara dingin ruangan steril tersebut. Senyum di bibir Alex membeku.
Ruangan itu penuh. Semua orang ada di sana. Pak Baskoro berdiri tegak di dekat jendela, wajahnya terbenam dalam bayang-bayang kelam yang mengerikan. Ibu Rahma duduk di sofa, matanya bengkak dan merah, meremas saputangan dengan tangan yang gemetar hebat. Di sudut lain, Affan dan Dalvin berdiri bersedekap, menatapnya dengan tatapan tajam layaknya belati yang siap menghujam. Dan di atas ranjang, Syahrul menatap lurus ke arahnya dengan sorot mata yang memancarkan rasa muak tak berdasar.
Tidak ada sambutan hangat. Tidak ada usapan lembut di kepala dari ibunya. Udara di dalam ruangan itu terasa sangat berat, seolah oksigen baru saja disedot keluar, menyisakan aura permusuhan yang begitu pekat hingga membuat bulu kuduk Alex meremang.
"Ada... ada apa ini?" tanya Alex ragu, suaranya sedikit bergetar. Ia mencoba melangkah masuk, mempertahankan topeng kepolosannya. "Kenapa semuanya diam? Papa? Mama nangis lagi? Kak Syahrul ada yang sakit?"
"Tutup pintunya, Alex," suara Pak Baskoro terdengar sangat rendah, parau, dan bergetar menahan luapan emosi yang siap meledak.
Insting bertahan hidup Alex mendadak membunyikan alarm peringatan di kepalanya. Namun ia tetap memutar tubuhnya dan menutup pintu rapat-rapat. Ia meletakkan keranjang buah di atas meja terdekat dengan tangan yang mulai berkeringat dingin.
"Papa nanya sesuatu sama kamu, dan Papa mau kamu jawab dengan jujur," ucap Pak Baskoro. Pria paruh baya itu melangkah maju, keluar dari bayang-bayang. Wajah yang biasanya menatap Alex dengan penuh kasih sayang itu kini terlihat seperti malaikat maut yang siap mencabut nyawanya. "Malam itu... saat api melahap lantai dua... apa yang sebenarnya kamu lakukan?"