Hujan gerimis membilas trotoar di depan sebuah bengkel kecil di pinggiran kota. Di bawah remang lampu jalan, Syauki sedang berjongkok, mengelap tangannya yang berlumur oli hitam dengan kain majun kusam. Pakaian kerjanya sederhana, jauh dari kemewahan rumah keluarga Baskoro. Namun, di balik keletihan fisiknya, wajah pemuda itu memancarkan kedamaian yang tak pernah ia miliki selama dua puluh dua tahun hidup. Suara langkah kaki yang ragu mendekat, memecah deru gerimis. Syauki mendongak, dan gerakannya seketika terhenti.
Di hadapannya berdiri Alex. Remaja yang dahulu selalu tampil rapi dan angkuh itu kini terlihat sangat berantakan. Tubuhnya jauh lebih kurus, matanya sembab dengan lingkaran hitam pekat di sekelilingnya, dan pakaiannya basah kuyup oleh hujan. Berbulan-bulan pencarian tanpa arah di jalanan telah mengikis habis seluruh kesombongan si anak bungsu.
Alex mematung, menatap sang kakak sulung dengan bibir bergetar. Rasa bersalah yang meremukkan dadanya selama ini mendadak tumpah begitu ia melihat tatapan tenang Syauki—tatapan yang sama sekali tidak menyimpan dendam, melainkan hanya kekosongan yang dingin.
BRUK.
Tanpa memedulikan genangan air dan lumpur di trotoar, Alex menjatuhkan kedua lututnya ke tanah. Ia bersujud di depan kaki Syauki.
"Kak Uki..." bisik Alex, suaranya pecah oleh isakan yang selama ini ia tahan. "Maafin Alex, Kak... Tolong maafin Alex..."
Syauki memandangi adiknya yang bersujud di atas tanah basah. Ia tidak tersentak, tidak juga membentak. Dengan tenang, ia menghela napas panjang dan meletakkan kain majunnya ke atas meja kerja.
"Bangun, Lex," ucap Syauki pelan namun tegas. "Nggak perlu sampai bersujud begitu. Bajumu basah semua."
Alex mendongak, air matanya membanjiri wajah bercampur air hujan. "Gak, Kak! Alex gak bakal bangun sebelum Kak Uki mau dengar. Alex tahu Alex iblis. Alex yang bakar rumah, Alex yang fitnah Kak Uki, Alex yang bikin Papa ngusir Kak Uki... Alex yang udah ngerusak semuanya!"