Blurb
Bagi seorang lelaki sulung, rumah hangat yang sekarang menaungi, di masa depan hanyalah sebagai tempat persinggahan. Ia tak lebih sebagai tamu yang sekedar singgah sesaat untuk beristirahat dan mengingat kembali hari-hari bahagianya di rumah itu.
Setiap kali Ia pulang cuti tahunan dari tempat kerjanya yang jauh dari tanah kelahiran, mesin jahit peninggalan almarhumah nenek yang berdebu di sudut ruangan itu, selalu membawa rasa penyesalan dan tangisan.
Kamu lelaki sangat wajar untuk menangis, Bahkan jika dirimu anak sulung sekalipun.