Sebagai seorang perantau, ia sudah akrab dengan kesepian. Ia terlelap dalam sunyi tanpa sepatah kata pun ucapan selamat tidur—berbanding terbalik dengan masa sebelum ia meninggalkan rumah. Dahulu, malam-malamnya selalu diisi perbincangan tentang agama, politik, hingga sains bersama Sang Ayah di depan televisi. Di sela tayangan iklan rokok yang menghadirkan perasaan liminal, suasana hatinya yang mendadak kosong atau takut seketika mereda saat obrolan acak dengan Ayah mengalir hangat.
Ia selalu tidur dengan perasaan tenteram, meski di akhir percakapan Sang Ayah sering melempar pertanyaan berbau sains: bagaimana pesawat yang beratnya berton-ton bisa melayang di angkasa? “Coba kamu pikirkan dan jelaskan kepada Ayah dengan bahasamu sendiri. Besok pagi sebelum berangkat sekolah harus ada jawaban” ujar Ayah sambil mengangkat sarungnya, bersiap untuk tidur menyusul Ibu yang sudah terlelap sejak ba’da Isya.
Di kamarnya, ia akan berbaring menatap langit-langit sambil memutar otak. Buku pelajaran memang sudah menjelaskan Prinsip Bernoulli, aerodinamika, hingga Hukum Newton ke-III, namun Ayah selalu menuntut pemahaman, bukan sekadar hafalan. Bola matanya bergerak liar menatap plafon, menyusun kalimat di dalam kepala. Saat rasa lelah mulai menyergap dan jawaban telah ia temukan, dopamin bergantian dengan serotonin. Ia pun tidur dengan hati bahagia. Kini, ketenangan itu tak lagi ia temukan. Meski ribuan podcast sains atau politik tersedia di segala platfrom, yang tersisa setelah menonton hanyalah kehampaan. Banjir dopamin yang membuat Brainroot dan membuat makin jauh dari kebahagiaan.
Besok adalah hari raya. Jalanan akan ramai oleh orang-orang yang bersilaturahmi, hari paling bahagia bagi kebanyakan orang. Namun tidak baginya. Sebagai perantau yang tak bisa pulang, ia tak punya tujuan pasti. Menyadari besok akan terasa lebih sepi dalam kehidupannya, ia memutuskan untuk tidak tidur semalaman. Harapannya sederhana: agar besok ia didera kantuk luar biasa setelah salat Ied fitri, lalu tidur hingga sore untuk membunuh rasa sepi.
Malam makin larut. Belasan batang rokok tandas di kamar kosnya. Ia berhasil terjaga hingga pagi, menyiapkan baju terbaik, menyemprot parfum, dan merapikan rambut dengan pomade. Segalanya tampak sempurna, kecuali satu hal: tidak ada opor ayam atau kue bolu di meja.