RUMAH SINGGAH DI PADANG LARA

L DARMA
Chapter #2

ANUN

Jauh sebelum orang-orang berbondong datang, tepat pukul dua dini hari, Bu Tin dan Pak Pri sudah berjibaku di dapur. Mereka mulai menyiapkan segala keperluan untuk hidangan wajib: opor ayam. Bu Tin sibuk meracik bumbu, sementara Pak Pri bertugas menyembelih empat ekor ayam yang sudah dibeli beberapa waktu lalu. Setelah bulu-bulu dicabuti dan isi perut dibersihkan, tibalah giliran Bu Tin memulai ritual tahunan: memasak opor di waktu buta. Potongan ayam masuk ke kuali, disusul wortel, kentang, dan diakhiri dengan taburan bawang goreng yang harum.

Pukul lima pagi, opor pun matang. Bu Tin mengeluarkan lontong yang dibungkus plastik lilin dari kulkas—sengaja disimpan di sana agar teksturnya tetap padat dan "montok". Usai subuh, suara Bu Tin mulai menggema dari dapur, membangunkan Elde dan adiknya, Luzi. Di lingkungan mereka, ada kebiasaan unik di mana kerabat sudah mulai datang bermaaf-maafan tepat setelah salat Subuh. Itulah sebabnya, Bu Tin dan Pak Pri sudah harus sibuk sebelum ayam berkokok.

Saat itu, Elde masih SMA dan Luzi masih duduk di bangku SD. Begitu "auman" sang ibu terdengar, mereka seketika terperanjat dari tempat tidur. Ada ketakutan jika teriakan itu berubah menjadi sapu rotan yang menyambar. Karena hanya ada satu kamar mandi, Elde dan Luzi terpaksa duduk meringkuk menunggu giliran sang ayah. Rasa kantuk mereka teramat berat, sebab keduanya baru saja terlelap pukul empat subuh setelah semalaman begadang bermain game online.

Lihat selengkapnya