RUMAH SINGGAH DI PADANG LARA

L DARMA
Chapter #3

ALEGORI IBU DAN ANAK YANG MENCUCI PIRING DI PESTA KELUARGA

Letak rumah pria paruh baya itu berada pada pertigaan gang kecil kompleks perumahan. Persis di antara pertigaan itu—posisi yang oleh masyarakat Indonesia disebut "tusuk sate". Bagi kepercayaan lokal, posisi ini dipercaya membawa kesialan, rezeki seret, ketidakharmonisan, dan penghuninya kerap sakit-sakitan.

Nyatanya, semua mitos itu berbanding terbalik dengan kenyataan di hadapan pemuda itu sekarang. Rumah tersebut adalah yang paling mewah di antara rumah lain dalam kompleks tersebut, dengan pagar beton serta teralis bergaya klasik menjulang setinggi 2,5 meter; perpaduan antara warna hitam dan perunggu yang sudah teroksidasi menjadi warna hijau toska. Rumah bertingkat dua itu bercat putih, dan pada sisi kanan terasnya terdapat kanopi yang luasnya seukuran lapangan tenis.

Sejenak pria tersebut terperangah melihat rumah mewah itu. Ditambah lagi, sudah banyak orang berdatangan mengambil sajian makanan yang disiapkan tuan rumah di bawah kanopi teras. Dengan perasaan canggung mengikuti langkah si pria paruh baya, ia mulai menyalami orang-orang yang hadir di sana. Ketika hampir separuh jumlah orang sudah selesai disalami, ia berhadapan dengan seorang wanita yang umurnya sekitar 45 tahun—bola matanya sayu, serta pipinya merah merekah dengan dandanan menor. Wanita itu melempar senyum sambil menyodorkan tangannya, "Haloooo," sapanya panjang, berusaha menampilkan keramahan. "Ini siapa, Pa?" ujarnya kepada pria paruh baya tadi.

"Oh, iya, Ma. Papa ketemu dia di masjid tadi pas salat. Dia orang Sumatra yang kerja di Ternate," pungkas pria paruh baya itu.

"Izin, Om, Tante. Nama saya Elde." Ia masih canggung betul terhadap perkenalan tiba-tiba pagi itu. Ia berharap percakapan itu tidak menguap begitu saja—gelisah benar rasanya kalau jeda obrolan diisi hanya dengan tatapan. Beruntungnya, wanita itu cukup ramah dalam membangun keakraban.

"Benarkah? Tante punya teman orang Sumatra, lho. Elde Sumatranya di mana?" Senyumnya sumringah, terlihat tahu betul cara mengatasi bujangan yang tak pandai berbasa-basi itu.

"Saya di Bengkulu, Tante."

"Oalah, Bengkulu. Teman Tante orang Palembang, setiap ke sana pasti Tante makan pempek. Oh ya, Nak Elde, ambil dulu makanannya. Nanti makannya di dalam ya, kita sambil ngobrol-ngobrol."

Sesi yang paling ditunggu anak rantau pun tiba. Elde menunduk canggung pada tuan rumah tersebut. Dengan langkah gontai, ia pergi mengambil gugusan makanan  yang tersedia di meja panjang. Ia makan di ruang tamu yang luas; sofanya digeser ke pinggir ruangan dan hanya ada karpet beludru. Di sana, semua sanak kerabat serta tetangga makan sambil bercerita. Pria paruh baya dan istrinya itu dengan ramah turut duduk bersila di atas karpet dan makan bersama Elde. Rasa canggung yang manusiawi jika siapa pun berada di posisi Elde; ia mendapati sambutan hangat dari tuan rumah padahal ia bukan siapa-siapa.

Sang Ibu menyodorkan pertanyaan umum kepada Elde selayaknya orang yang baru berkenalan: sudah berapa lama di sini, tinggal di mana, apa pekerjaannya, dan kelahiran tahun berapa. Ihwal biasa untuk ditolerir: naluri ibu-ibu yang ingin tahu semua isi dunia.

"Saya sudah tiga tahun kerja di sini, di instansi kementerian pusat, Bu. Saya kelahiran 2001," jawab Elde. Pria paruh baya dan istrinya mengangguk takzim, lalu menimpali, "Oh, berarti seumuran dengan anak Tante yang cewek."

Lihat selengkapnya