RUMAH SINGGAH DI PADANG LARA

L DARMA
Chapter #4

IRAMA BAYYATI

Beberapa kali Elde mengelus-elus lututnya sendiri dan menggaruk kepala, walaupun tidak gatal. Biasalah, bujang kampung yang tak pandai berbasa-basi. Hati ingin segera pulang, namun tak bisa ia hilangkan stigma dan norma hidupnya tentang "pacat yang menghisap darah" itu.

Celingak-celinguk ia sambil memperhatikan dengan saksama setiap foto yang tergantung. Pandangannya tersangkut pada potret seorang gadis yang kira-kira seumuran dengannya; lesung pipi di sebelah kiri dan menggunakan kacamata berbingkai kotak dengan frame tipis. Di foto itu ia sedang tersenyum, seolah-olah menatap Elde sambil memamerkan gigi gingsulnya.

"Tak salah lagi, inilah si anak yang pemalu itu," gumamnya dalam hati.

“Nah, itu anak Om yang paling bungsu. Sebentar lagi jadi dokter.”

Muka Elde memerah karena ketahuan mencuri pandang pada foto itu. “Oh iya, Om. Keren. Cita-cita saya yang tidak kesampaian,” pungkas Elde. Nampaknya dia sudah mulai belajar untuk berbasa-basi.

“Hahaha!” Tawa karier khas orang kaya keluar dari pria itu. “Kamu kan sekarang kerjanya juga bagus. Walaupun tidak jadi dokter, kerja Nak Elde sama-sama melayani masyarakat.”

“Hehehe, iya, Om.” Elde menggaruk lagi kepalanya yang sama sekali tidak gatal itu.

“Sepertinya Om beberapa kali sudah melihat kamu. Tapi di mana, ya?” Pria itu memutar bola matanya ke atas, seolah jawabannya berada di langit-langit.

“Benarkah? Saya rasa bisa jadi begitu, Om. Bukankah kita di dunia ini punya tujuh kembaran?”

“Ah, bisa saja kamu! Hahaha.” Pria paruh baya itu kembali tertawa dengan nada khas orang kaya yang seakan-akan menahan sebuah ledakan.

“Ini ada pencuci mulut. Nak Elde sudah pernah coba belum buah ini?” Sang istri datang dari belakang membawakan sekeranjang buah matoa.

Buah matoa adalah buah yang paling unik karena punya rasa tiga buah sekaligus: kelengkeng, durian, dan rambutan. Di timur, buah ini masih gampang dijumpai walaupun termasuk buah musiman.

Elde mengambil satu, mengupas seluruh kulitnya. Ia terawang seluruh sisi buah itu sambil mencium sedikit aromanya sebelum memasukkannya ke dalam mulut.

“Kenapa, Nak? Baru pertama kali, ya?” pungkas ibu itu sambil tersenyum tipis.

“Iya, aromanya sekilas seperti durian, Bu.”

“Itu namanya matoa. Di sini kalau musim banyak yang jual. Ibu tahu di Sumatra buah itu jarang ditemukan. Pasalnya, teman Ibu yang orang Palembang itu setiap kali ke sini bisa habiskan satu keranjang sendirian saking sukanya,” tuturnya ramah menceritakan ulah teman Sumatranya itu.

Sepengetahuan Elde, orang Palembang punya kebiasaan unik: paling tidak meninggalkan satu biji di keranjang. Tanpa filosofi seperti orang China dan Jepang untuk memberi penghormatan kepada tamu, melainkan karena kebiasaan saja tanpa alasan.

“Lanjutkan, ya. Om mau ke depan dulu.”

“Iya, Om.” Elde menunduk takzim.

Elde melirik jam tangannya. Sebentar lagi pukul sepuluh WIT, yang artinya di wilayah Indonesia Barat sebentar lagi salat Id akan selesai. Ini waktunya untuk berpamitan. Akhirnya aku punya alasan yang kuat untuk pulang, batinnya.

“Bu, saya izin pulang, ya. Sekalian mau menelepon orang tua di kampung untuk memohon maaf lahir batin. Terima kasih banyak atas sambutannya, Bu. Saya jadi tidak enak.”

“Tidak apa-apa, toh namanya juga silaturahmi. Papanya Merinda juga perantauan, jadi harus saling peduli sesama perantau.”

Siapa pula sosok Merinda ini? Apakah potret wanita berkacamata dan lesung pipi itu? Mungkin saja, sedari tadi Ibu hanya menyebutkan anaknya yang seumuran denganku, gumam Elde dalam hati.

Elde pun menyalami Ibu tersebut dan menyusul keluar untuk berpamitan dengan pria paruh baya yang sekarang ia tahu adalah ayah dari perempuan bernama Merinda itu. Baru saja akan membalikkan badan, sosok perempuan muncul menuruni tangga—berkacamata, namun tidak memiliki lesung pipi. Mungkin belum terlihat karena dia belum tersenyum. Jantung Elde berdebar, pikirannya memburu jawaban, benarkah ini "si anak introvert" itu atau hanya salah seorang kerabat? Pasalnya, rumah tersebut sedang ramai-ramainya.

“Nah, ini dia. Merin, kenalan dulu sama Elde, orang Sumatra. Katamu suka pempek, kan? Nanti kamu belajar bikin pempek sama Elde.”

Terjawab sudah melalui ucapan itu, detak jantung Elde makin memburu. “Maahhh... malu ih...” Semburat merah di pipi perempuan itu menjalar hingga ke telinganya.

Elde kembali menggaruk tengkuknya walaupun tak gatal. Dalam suasana canggung, mereka sama-sama mengulurkan tangan dan tanpa kesepakatan di awal, menyebutkan nama masing-masing secara bersamaan. Ketika jabatan tangan dilepas, muka Elde masih memasang senyum, sedangkan Merinda menunduk malu.

Lihat selengkapnya