RUMAH SINGGAH DI PADANG LARA

L DARMA
Chapter #5

PULANG

Masih jadi misteri perihal harga tiket ke Indonesia Timur yang mengalahkan harga tiket ke luar negeri. Hal pertama yang pasti jadi culture shock bagi para perantau yang berasal dari Indonesia Barat adalah terkait biaya hidup, terutama soal harga makanan. Di Sumatra, masih bisa ditemukan penjual nasi padang yang menjual satu porsi makanannya seharga sepuluh ribu. Di Timur, uang sepuluh ribu hanya dapat sayur pakis dua ikat.

Saban waktu para perantau memikirkan: Apakah ini yang menjadi sebab bagian paling ujung timur Indonesia ingin merdeka? Mungkin saja begitu. Apa yang mereka rasakan tidak sepenuhnya dianggap kemerdekaan. Bagaimana tidak, alam Timur menyediakan semua yang masyarakatnya butuhkan, namun mereka tetap harus membayar dengan harga tinggi untuk segala kebutuhan pokok.

Demikianlah ketika Elde pertama kali mendarat di Kota Ternate, sebuah kota kecil yang berada di kaki Gunung Gamalama dan dikelilingi lautan Samudra Pasifik yang kaya akan ikan-ikanan segar. Ketika pertama kali ia memasuki Pasar Rakyat Gamalama, hal pertama yang ia lihat secara langsung selama hidupnya adalah ikan tuna yang seukuran manusia dewasa. Setengah tubuh ikan itu dipotong secara vertikal dari kepala hingga ekor, menampakkan dagingnya yang berwarna merah segar.

Pikirnya, inilah yang sering ia lihat di televisi siaran Jepang; seekor ikan tuna segar yang dibelah dengan presisi, kemudian disayat tipis, lalu dicocol dengan kecap asin atau wasabi, membuat orang Jepang tersebut manggut-manggut dan memejamkan mata saking nikmatnya kesegaran hasil laut nan alami tersebut.

“Berapa seekor, Pak?” “700 ribu, Bang.”

Napas Elde tercekat di tenggorokan. Ia sadar bahwa anak kos sepertinya tidak akan sanggup membeli. Di sebelah ikan tuna sebesar gaban itu, terjajar ikan-ikan lain yang ukurannya lebih kecil: ikan baronang, ikan kue, ikan kakap merah, ikan tuna, dan ikan cakalang. Dari pilihan ikan itu, ikan cakalanglah yang ia beli pertama kali di Ternate dengan harga lima puluh ribu per ekor. Ya, per ekor. Di Ternate mereka menjual ikan bukan per kilogram. Untuk ikan-ikan kecil seperti teri dan ikan kembung, mereka menjual dengan cara hitungan per piring. Biasanya seharga dua puluh ribu per piring.

Sebagai orang Sumatra yang hidup di jajaran Bukit Barisan, menurutnya sangat kentara perbedaan harga bahan pokok wilayah bagian barat dengan bagian timur. Bagaimana tidak, harga ikan yang terjual di daerah pegunungan lebih murah ketimbang harga ikan yang dijual di kota yang berada di pesisir laut. Demikian yang ia maksud, jika bahan pokok yang diperjualbelikan masih banyak tersedia di sekitar, maka harganya bisa diatur agar tidak terlalu jomplang. Contohnya seperti daerah pegunungan yang menjajakan sayuran dengan harga dua ribu per ikat—sangat wajar mengingat ketersediaannya di alam masih melimpah. Bahkan harga dua ribu pun kadang masih saja ditawar oleh ibu-ibu.

Begitulah mungkin lahirnya istilah “Timur keras, Bos”. Bukan hanya watak dan nada bicara orangnya saja yang keras, namun masyarakat di sana harus bertahan dan membiasakan diri untuk berjalan tanpa alas kaki di atas gundukan emas.

***

Menjelang kepulangan, Elde mendatangi toko oleh-oleh khas Ternate. Ia berkeliling selama 45 menit dengan rantang yang masih kosong. Isi kepalanya berkali-kali menimbang terhadap oleh-oleh apa yang akan ia bawakan kepada orang rumah. Pasalnya, rata-rata oleh-oleh yang dijajakan tak jauh berbeda jenisnya dengan tanah kelahirannya: keripik pisang, dabu-dabu (sambal ikan), dan olahan ikan lainnya yang gampang ia temui di Kota Bengkulu.

Hingga pada akhir perjalanannya di toko oleh-oleh itu, ia menjatuhkan pilihan pada ikan fufu (sejenis ikan asap) khas Ternate, yang notabene sebenarnya banyak ditemukan di pesisir Pantai Panjang, Kota Bengkulu. “Beli ikan fufu sajalah. Kalau tak bawa oleh-oleh, tak enak hati menghadap orang tua di kampung meskipun mereka tak pernah meminta,” gumamnya.

Esok pagi pukul lima, ia sudah harus berada di bandara. Persinggahan pertama adalah Kota Makassar, lalu lanjut menuju Jakarta pukul sepuluh pagi WITA, kemudian lanjut lagi dari Jakarta ke Bengkulu pukul empat sore WIB. Ketika masih kecil, naik pesawat adalah impian bagi anak-anak pada umumnya. Setelah dewasa, Elde mendapati dirinya naik pesawat sudah seperti orang minum obat: "tiga kali sehari". Terkadang dalam khayalnya, ia ingin kembali ke masa kecil untuk menarik impian yang telah jadi kenyataan itu.

Ia tak menyangka bahwa kehidupan merantau begini adanya. Dengan harga tiket yang sedemikian mahal, setiap kali ia kembali ke tempat kerjanya, ia menyadari bahwa uang yang ia tabung selama setahun penuh habis hanya untuk membeli tiket pulang. Beginilah kebimbangan yang anak rantau rasakan setiap kali ingin mudik: pulang malu, tak pulang rindu, ketika mau pulang sisa duit di kantong tinggal seratus ribu.

Bahkan mungkin di luar sana banyak yang sepakat bahwa hidup di perantauan begini membuat seorang bujangan benar-benar tidak punya tujuan yang jelas. Bagaimana ingin menikah jika tabungan saja tidak memadai walaupun sudah bertahun-tahun bekerja? Bagaimana ingin melanjutkan pendidikan jika untuk bertahan hidup saja sudah tersengal-sengal? Bagaimana ingin menghidupi seorang wanita jika menghidupi diri saja masih kesulitan?

Sebagaimana yang netizen katakan di kolom komentar ketika memberikan argumen terhadap berita tentang pernikahan anak usia dini: "Jangan berkembang biak kalau belum bisa berkembang dengan baik." Selain sisi finansial, diperlukan juga kematangan batin dan kedewasaan untuk berani melangkah ke pelaminan. Banyak kejadian di luar sana tentang permasalahan dalam rumah tangga yang berakar dari kondisi ekonomi yang buruk. "Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang," begitu pungkas guru sosiologi Elde ketika ia masih duduk di bangku SMA.

Begitulah kegalauan kebanyakan manusia, khususnya seorang pria setelah menginjak umur dua puluh tahunan. Beberapa orang akan berkata bahwa hidup tak seindah dulu. Pada umur dua puluh tahun ini, Elde baru saja menemukan arti sejati dari kata kesepian. Tidak ada orang yang benar-benar di sebelah kita selain kedua orang tua sendiri. Merekalah yang senantiasa di samping kita, membimbing kita, bahkan menyayangi kita hingga batas waktu perjanjian mereka di dunia ini telah usai.

Mau ke mana lagi hidup ini? Apa tujuan sebenarnya hidup ini? Kalimat itulah yang selalu digumamkan Elde sepanjang perjalanan hidupnya di perantauan. Semenjak merantau, ia tak benar-benar tahu apa esensi kehidupannya. Ia ingin hidup dengan berbakti sepenuhnya untuk orang tuanya. Namun, apakah dengan hanya memberikan uang saja sudah cukup untuk dikatakan seorang anak lelaki telah berbakti?

Ada kalanya ia ingin kembali sebagai pria kecil. Ia ingin tidur pulas di antara ayah dan ibunya di malam hari. Ada kalanya pula ia ingin meletakkan kepalanya yang sekarang penuh dengan beban dunia di pangkuan ibunya, lalu bermanja-manja sambil merasakan tangan sang ibu membelai lembut rambutnya yang perlahan mulai ditumbuhi uban satu-dua helai.

Lihat selengkapnya