Elde melenggang masuk ke rumah tanpa mengucapkan salam. “Lagi pula, ini rumahku sendiri,” gumamnya. Kebiasaan masa kecil itu rupanya masih melekat kuat hingga sekarang. Ia teringat sosok Elde kecil yang selalu pulang bermain dengan tubuh bersimbah peluh, hanya untuk meneguk dua gelas air dengan tergesa-gesa, lalu kembali berlari keluar rumah tanpa mengucap sepatah kata pun.Ya, itu sudah menjadi tabiat di keluarga tersebut. Barangkali, kebiasaan Pak Pri yang hampir tidak pernah mengucap salam setiap kali pulang mengajar secara tidak langsung menurun kepada anaknya.
Ruang tamu tampak sepi. Aroma tumisan bawang putih dan bawang merah menguar dari arah dapur yang jaraknya sekitar dua puluh langkah dari pintu depan. Elde meletakkan kopernya di kamar Anun. Tak ada lagi ranjang maupun lemari pakaian di sana; kamar itu kini beralih fungsi menjadi gudang penyimpanan perkakas dan beberapa karung berisi beras. Aromanya tetap sama meski tata letak ruangan telah berubah drastis. Bahkan, cat dindingnya pun sudah diganti dengan warna yang lebih cerah. Namun, sebanyak apa pun perubahan yang ada, bagi Elde suasananya tetap tak berbeda. Ia hanya kehilangan sosok neneknya, bukan kenangannya.
Elde berdiri di ambang pintu yang menghubungkan ruang makan dan dapur. Bu Tin tengah sibuk memarut kelapa, sementara Pak Pri sedang membersihkan ikan. Pasangan suami istri itu terlalu masyuk dengan pekerjaan mereka, sampai-sampai tidak menyadari kehadiran sang anak sulung yang selama ini mereka rindukan.
“Halo...!” panggil Elde dengan senyum yang tersungging lebar.
Bu Tin dan Pak Pri menoleh. Seketika, keduanya terperanjat dalam bahagia yang membuncah.
“Lho, sejak kapan sampai? Kenapa tidak kasih kabar?” Bu Tin lekas meletakkan parutan kelapa dari tangannya, lalu menyambut Elde dengan girang. Ia memeluk erat anaknya yang telah lama tak pulang itu, menciumi kedua pipinya berkali-kali layaknya seorang ibu yang sedang gemas melihat bayi mungilnya. Benar kata orang, seberapa besar pun seorang laki-laki tumbuh, di mata ibunya ia akan tetap menjadi bayi kecil yang hanya bertambah tua dan tinggi saja.
Setelah menyelesaikan ritual melepas rindu dengan sang ibu, giliran sang ayah yang menyambut. Seperti biasa, Pak Pri dengan tubuhnya yang mulai ringkih melangkah mendekati anak sulungnya. Ia melempar senyuman sebelum menjabat tangan Elde dengan erat—sebuah gestur yang jika dilihat-lihat terasa kurang lazim bagi hubungan ayah dan anak yang tengah canggung. Mereka lebih terlihat seperti dua pria yang bersahabat karib.
***
Ketika seorang perantau kembali ke rumah, kedatangannya kerap disambut layaknya tamu jauh. Bahkan, di beberapa rumah, seorang anak yang baru pulang dari perantauan akan dilayani bak seorang raja. Setiap pagi ditawari kopi atau teh, selalu ditanya, “Mau makan apa?”, hingga bentuk perhatian paling dalam: “Taruh saja bajunya di keranjang, biar Ibu yang cuci sekalian.” Demikian pula yang Elde terima ketika kakinya kembali berpijak di istana kecilnya.
Pada malam pertama Elde menikmati jatah cuti tahunannya, mereka berkumpul di ruang keluarga sembari membuka kardus berisi oleh-oleh ikan asap yang ia bawa dari Ternate.
“Ikan salai, Bu. Cuma ini oleh-oleh yang menarik,” ucapnya dengan senyum simpul.
“Aduh, tidak bawa oleh-oleh pun tak apa, Nak. Yang penting kamu pulang saat masih dalam suasana lebaran.”
Tiba-tiba listrik mati....
Persoalan yang sejak dulu tidak pernah berubah di kampung ini, pikir Elde. Hal yang membuat para orang tua kesal karena tidak bisa menonton televisi, namun membuat sebagian anak sekolahan di pedesaan bahagia karena punya alasan untuk tidak belajar malam dan mengerjakan PR.
Kini, ketika usia sudah cukup dewasa, Elde menyadari sebuah pesan tersirat dari kejadian listrik padam di malam hari. Cahaya lilin yang temaram nan menenenangkan serta bunyi serangga nokturnal terdengar lebih jelas melenakan orang-orang kampung. Waktu terasa melambat, cahaya bulan dan bintang tampak lebih terang dari biasanya karena kampung tengah gelap gulita. Bagian paling indahnya adalah saat semua orang berkumpul di ruang keluarga. Obrolan hangat, kisah-kisah horor, hingga cerita masa kecil orang tua mengalir begitu saja. Inilah sisi terbaik dari mati listrik; memang gelap, namun justru memunculkan cahaya kasih di antara percakapan ringan di dalam rumah.
Hati Elde membuncah ketika Pak Pri memainkan instrumen dengan gitar tuanya membawakan lagu berjudul “Setangkai Anggrek Bulan” dari Emilia Contessa. Elde memandang lamat-lamat jari-jari lincah ayahnya yang melahirkan serangkaian melodi menenangkan yang terakhir kali Pak Pri mainkan saat mati lampu juga, ketika itu Elde masih duduk di kelas enam SD. Begitu lagu itu usai, Bu Tin menyambar dengan sebuah ‘kata ajaib’ yang biasanya menjadi pembuka gerbang nostalgia keluarga kecil itu.
“Dulu, saat Ibu kelas dua SMA, pas pelajaran Fisika, ayahmu meminjam gitar murid yang tergeletak di sudut kelas. Ia memainkan lagu itu di depan kami semua. Saat itulah kami baru sadar kalau guru Fisika satu ini ternyata jago main gitar,” kenang Bu Tin dengan senyum yang mengembang.