RUMAH SINGGAH DI PADANG LARA

L DARMA
Chapter #7

KEMBANG DESA DAN PESIRAH BERKUDA

Tepat di kaki Gunung Bungkuk, empat bersaudara tumbuh di antara desau angin dan rimbun hutan. Rubiah, Latifa, dan Rose—tiga dara yang lahir hanya berselisih setahun—diikuti oleh Anwar Sodik, si bungsu yang hadir enam tahun setelah Latifa. Mereka adalah anak-anak yang lahir di pertengahan 1930-an; masa di mana masa remaja mereka tidak diisi dengan tawa, melainkan saksi bisu dari kelamnya penjajahan.

Suatu kali, Ibu bertanya tentang bedanya penjajahan Belanda dan Jepang. Anun menjawab tanpa ragu, bahwa Belanda masih menyisakan sisi manusiawi, sementara Jepang hanya meninggalkan api dan duka. Ingatan mereka terpaku pada rumah-rumah yang hangus, gadis-gadis yang dirampas kehormatannya, hingga pemandangan mengerikan saat seorang ayah dibantai tepat di hadapan darah dagingnya sendiri.

Bersama Ayah dan Ibu, keempat bersaudara itu hidup berpindah. Mereka menembus lebatnya rimba dan menyeberangi sungai-sungai yang airnya sedingin es demi mencari perlindungan, hingga langkah mereka terhenti di Dusun Juru Kalang—sebuah ceruk aman yang luput dari jangkauan bengisnya serdadu Jepang.

Tahun berganti, kuncup-kuncup di keluarga itu mulai mekar. Rubiah, Latifa, dan Rose tumbuh menjadi tiga serangkai bunga desa yang jelita. Kecantikan mereka menjadi buah bibir hingga ke kampung-kampung seberang. Dusun Juru Kalang pun mendadak riuh; para pemuda hingga duda datang silih berganti dengan maksud yang sama: meminang salah satu dari mereka.

Siti Rosiah sudah sampai pada batas muaknya. Ia bosan menghadapi ketukan pintu yang tak kunjung henti. Baginya, alasan untuk menolak sudah sangat jelas: anak-anaknya masih terlalu dini untuk memikul beban rumah tangga. Dari mantan pejabat Hindia Belanda, juragan kopi atau Toke, anak ustad, Pesirah, hingga pemabuk kelas teri, semuanya ia tolak mentah-mentah.

Para pelamar itu menggunakan "ilmu ayam"—dekati induknya agar anaknya ikut. Sebenarnya, Siti Rosiah bisa saja menjadi kaya mendadak jika ia mau "melelang" putrinya kepada saudagar berduit. Namun, cinta seorang ibu lebih kuat dari tumpukan harta. Ia rela hidup melarat asalkan anak-anaknya tidak jatuh ke tangan pria yang salah.

"Sabar... belum waktunya mereka menikah. Ada saatnya nanti," ucap Siti Rosiah dengan nada yang dipaksakan lembut kepada juragan kopi. "Anak saya belum balig, saya belum bisa menerima tawaran Tuan," tegasnya kepada saudagar lada. "Tidak bisa. Anakku harus jadi orang dulu sebelum menjadi istri," pungkasnya pada seorang tukang potong kayu.

Namun, kelembutan itu menguap saat si pemabuk datang. "Kau pergi dari sini, atau kutebas kepalamu dengan parang!" ancamnya berapi-api.

Sikap protektif Siti Rosiah bukan tanpa alasan. Semua bermula dari luka yang ditorehkan Amran, suaminya sendiri. Di masa tenang setelah Jepang angkat kaki, Amran justru menciptakan badai di rumahnya sendiri. Ia tertangkap basah "bercocok tanam" di bawah rimbun pohon bambu dengan seorang janda malang yang suaminya tewas di tangan Jepang.

Pada akhir bulan Maret, sisa musim hujan meninggalkan udara dingin yang menusuk di Desa Juru Kalang. Di balik dingin yang mencekam, nafsu justru membakar dua manusia itu. Di atas dipan dari guguran daun bambu yang gatal, mereka bergeliat liar, tak peduli pada miang yang menusuk kulit. Persis saat Amran mencapai puncak syahwatnya Ia memuntahkan pejuh di atas perut sang janda, sebuah teriakan membelah kesunyian.

Siti Rosiah, yang baru saja pulang mencari sayur pakis bersama ibu-ibu desa, menjadi saksi mata klimaks dari hubungan yang menjijikkan itu. Teriakannya memanggil nama Amran membuat dua sejoli itu kocar-kacir masuk ke dalam hutan, lari dalam keadaan telanjang sambil mendekap pakaian mereka yang tertinggal.

Sejak hari itu, si janda lenyap tak berbekas. Amran baru berani muncul tiga hari kemudian, itu pun hanya untuk mengambil sisa pakaiannya sebelum pergi selamanya, meninggalkan Siti Rosiah dan keempat anaknya.

***

             Di suatu pagi pada bulan Juni, cahaya matahari yang menyelinap dari celah dinding membawa sebuah penemuan bagi Siti Rosiah. Di atas kasur tempat "Tiga Serangkai" merebahkan tubuh, ia menemukan bercak merah yang kontras. Darah itu masih segar, seolah menjadi segel yang menandakan berakhirnya masa kanak-kanak di rumah itu.

Siti Rosiah terdiam menatap noda itu. Ia tak lagi peduli siapa di antara ketiga putrinya yang lebih dulu menyambut tamu bulanan tersebut. Baginya, karena usia mereka yang hanya terpaut setahun, satu bercak itu adalah tanda bagi ketiganya.

 Rasa muak pada kemiskinan dan luka lama akibat pengkhianatan Amran tampaknya telah mengubah semuanya. Jika dulu ia mengusir para pelamar, kini di matanya, ketiga gadis itu telah menjelma menjadi barang dagangan yang siap dilelang kepada siapa pun yang mampu menebusnya dengan harga tertinggi.

***

             Lima bulan sudah Amran tidak pulang. Tak ada satu pun kabar darinya. Yang pasti, tak ada warga yang melihatnya melintasi jalan setapak di perkampungan kaki Gunung Bungkuk itu.

Siti Rosia, yang sudah miskin bahkan sebelum suaminya raib, kini kian melarat. Gubuk mereka hanya berdinding pelupuh bambu reot, meski baginya masih cukup layak untuk berteduh. Ada dua bilik di sana: satu untuk "tiga serangkai" anaknya, dan satu lagi semula untuk ia, suaminya, dan si bungsu. Sebelum skandal Amran pecah, hunian itu mungkin masih bisa disebut rumah, karena tetangga sekitar pun hidup dalam kondisi ekonomi yang tak jauh berbeda.

Siti Rosia berjibaku setiap hari demi menghidupi keempat anaknya. Apa pun ia lakoni, dari menyabit rumput hingga menjadi buruh angkut. Punggungnya yang ringkih dipaksa memikul beban biji kopi basah, menuruni lereng gunung yang terjal dan licin saat musim hujan. Namun, pekerjaan kasar itu hanya sanggup ia jalani hingga lima bulan saja. Ia berhenti bukan karena raga yang remuk, melainkan karena telinga yang panas.

Desas-desus warga mulai menyasar anak sulungnya yang belum balig. Sang anak kerap kedapatan berduaan dengan bujangan tanggung dari desa sebelah. Siti Rosia ketakutan; ia tak sudi anaknya menikah dengan pemuda yang bahkan belum bisa menghidupi api di kebun sendiri. Lebih dari itu, ia tak sanggup menanggung malu untuk kedua kalinya jika sang anak sudah mulai mengumbar berahi.

Siti Rosia bergidik membayangkan tabiat orang kampung jika sudah berzina—tempatnya sering kali tak masuk akal dan menjijikkan. Trauma lima bulan lalu masih bersarang lekat di benaknya. Kala itu, ia menyaksikan dua onggok tubuh telanjang menggeliat di bawah rumpun bambu. Cahaya jingga senjakala menyelinap di sela-sela daun, jatuh tepat ke atas mereka bak lampu sorot yang sengaja memamerkan adegan penuh berahi itu kepada Siti Rosia dan rombongan ibu-ibu pencari pakis.

             Sore itu, Siti Rosia tengah menyabit rumput di perbatasan kampung dan hutan lindung. Marni, temannya, datang menghampiri dengan napas memburu dan wajah masam.

"Anak sulungmu berduaan di bawah jembatan dengan Roji! Baru saja kugandeng tangan mereka sebelum aku tegur," lapor Marni ketus.

Mendengar itu, Siti Rosia membanting aritnya tanpa sepatah kata pun. Ia melangkah seribu, bergegas pulang dengan amarah yang mendidih di kepala. Marni mengekor di belakang, mencoba mengimbangi langkah Siti yang tergesa-gesa.

Setibanya di rumah, Siti Rosia mendapati Rubiah sedang duduk santai di beranda. Kedua kakinya terangkat ke atas meja, ditemani segelas teh hangat. Melihat anak gadisnya tidak duduk anggun layaknya perempuan, ditambah kabar dari Marni tadi, meledakkan sisa-sisa kesabaran Siti.

Cetas!

“Berkali-kali kau buat Mak malu!” Suara Siti bergetar. Rotan pemukul kasur mendarat telak di punggung Rubiah.

Cetas!

“Masih kecil tidak usah pacar-pacaran!”

Cetas! Cetas! Cetas!

Rubiah jatuh tersungkur di bawah meja sambil menjerit pilu, “Ampun, Mak! Ampun!”

Namun, teriakan itu tak sanggup meredam amarah Siti Rosia yang membuncah. Ia tumpahkan seluruh kekecewaan terhadap suaminya ke batang rotan itu. Tenaga yang terbentuk selama lima bulan menjadi buruh kasar ia kerahkan sepenuhnya untuk menghajar darah dagingnya sendiri. Marni, yang berdiri mematung di depan rumah, sampai bergidik melihat keberingasan sahabatnya itu.

“Weihhi, cukup Siti! Jangan terlalu kasar, memang lagi masanya begitu,” cegat Marni.

Kalimat itu akhirnya menyudahi segalanya. Siti Rosia mengatur napasnya yang buru.

“Awas kalau kau buat aku malu lagi. Aku sambal kemaluanmu nanti!” ancam Siti sebelum masuk ke dalam rumah, meninggalkan Rubiah yang terisak sedu-sedan.

Marni masih berdiri di sana, menatap nanar. Saat itulah Rubiah mengangkat wajahnya yang merah dan sembap.

“Kau ada masalah apa denganku, Marni?! Sudah tiga kali kau buat aku disiksa begini,” desis Rubiah tajam. “Kau juga, kan, yang menyebar gosip itu? Kau bilang aku pacaran dengan duda kampung sebelah, sering keluar tengah malam kalau Emak belum pulang. Sekarang kau lagi yang melapor. Kenapa kau jahat sekali?”

Marni hanya mendengus, nada suaranya penuh rasa jijik. “Iuh... kurang ajar sekali anakmu ini, Siti!” teriaknya ke arah pintu rumah.

“Biarin! Marni gila! Marni gila!” ejek Rubiah dengan sisa tangis di kelopak matanya yang bengkak. Merasa puas, Marni pun melenggang pergi tanpa rasa bersalah.

             Sejak hari itu, Siti Rosia memutuskan berhenti menjadi buruh kasar. Ia memilih mencari pekerjaan dari rumah ke rumah, apa saja, asal cukup untuk makan hari itu. Namun, upah yang tak seberapa membuat kehidupan mereka kian sengsara. Menu mereka sehari-hari hanyalah nasi dengan lauk garam atau sayur liar seperti pakis dan genjer. Sesekali, ada ikan sungai kecil hasil tangkapan yang jumlahnya pun tak seberapa. Ketika minyak goreng yang sudah hitam dan dipakai berkali-kali itu akhirnya habis, mereka terpaksa makan serba rebusan—sesuatu yang lambat laun membunuh selera makan mereka.

Persoalan kian ruwet karena Anwar, si bungsu yang baru berusia lima tahun, belum paham mengapa piringnya kian sepi. Setiap kali ia merengek kelaparan, tak ada satu pun wanita di rumah itu yang sanggup membujuknya, kecuali Latifa.

Latifa memang sangat menyayangi si bungsu melebihi kedua saudari lainnya. Barangkali, nama 'Latif' yang berarti lembut benar-benar meresap ke dalam jiwanya, membuat balita yang belum sempurna akalnya itu merasa nyaman dalam dekapan hangat kakaknya.

Meski begitu, sudah menjadi rahasia umum—bahkan mungkin fenomena yang sulit dijelaskan—bahwa anak tengah seperti Latifa kerap tersisihkan dibandingkan Rubiah sang sulung atau Rose si anak kedua. Namun menariknya, Latifa justru menjadi anak yang paling sering menunjukkan kasih sayang kepada orang tua mereka, meski perhatian yang ia terima tak pernah setimpal.

Suatu hari, Siti Rosia mendadak berhenti bekerja sepenuhnya. Ia hanya ingin mengurung diri di kamar. Ia baru keluar jika ingin mandi, ke belakang, atau sekadar menyeduh kopi. Hari itu, mereka berlima tidak makan sama sekali. Keempat anaknya tak ada yang berani meminta makan kepada sang ibu. Sejak peristiwa penggerebekan dan amuk rotan itu, Siti Rosia kian garang; ia tak segan memukul atau memelintir perut ketiga gadisnya hingga membiru.

Malam merambat sunyi. Mereka berempat berkumpul di beranda dalam kegelapan. Anwar tertidur lelap di pangkuan Latifa dengan sebuah botol dot di mulutnya. Bukan berisi susu, melainkan air tajin yang sengaja Latifa sisihkan saat memasak nasi kemarin.

“Mungkin Mak sudah gila,” ujar Rubiah pelan, masih menyimpan sisa dendam dan kesal yang mengerak di hati.

“Aku lapar sekali. Kalau besok kita tetap tidak makan, bisa mati kita,” sambung Rose dengan suara parau.

Lihat selengkapnya