Suasana Lebaran sebenarnya telah meredup. Jalanan di Kota Rejang Lebong tak lagi seramai hari kedua hingga kelima. Keluarga Elde melintas membelah gugusan Bukit Barisan, melewati jalan Kelok Sembilan versi Provinsi Bengkulu. Jika dilihat dari ketinggian, jalan itu tampak bak naga raksasa yang meliuk di atas perbukitan hijau.
Perjalanan selama dua jam itu mereka tempuh sembari mengenang Datuk dan Anun. Elde teringat bagaimana dulu mereka kerap berjalan tanpa alas kaki sambil memikul beronang, melintasi jalanan pegunungan ini sepulang dari kebun dan sawah di ujung Desa Tanjung Heran.
Ketika ia berusaha merajut kembali kisah masa lalu, barulah Elde sadar bahwa banyak hal telah berubah bahkan hilang dari jalan kenangan ini. Ia ingat betul saat masih duduk di bangku SD, jalur Liku Sembilan ini jauh lebih rimbun. Dahulu, tidak ada deretan warung, apalagi rumah yang bertengger di pinggiran jalan. Barangkali kondisi jalan gunung yang sepi dan rawan penyamun membuat orang tak berani membangun hunian di sana. Namun kini, menjamurnya warung dan pemukiman menyadarkan Elde bahwa waktu telah mengubah wajah jalan ini setelah sekian lama ia tak melintas.
***
Pikirnya, alangkah kompak nan romantisnya orang dulu, yang baru ia sadari sekarang ketika ia tak sengaja melihat sepasang suami istri yang kira-kira berumur 60 tahun tengah berjalan kaki menyusuri jalan pegunungan ini. Sang istri memikul beronang di kepala dan suaminya membawa anjing kampung kurus berwarna putih sambil menghisap sebatang rokok kretek di perjalanan menanjak itu. Meski hanya sekelabat sebelum akhirnya mobil mereka melewati sepasang suami istri yang hendak pergi berkebun itu, pemandangan tersebut sudah cukup membuat Elde rindu kepada almarhum kakek dan neneknya.
Semasa hidup, Elde kerap ikut ke kebun ketika libur semester. Pagi setelah shalat Subuh, Anun, Datuk, dan Elde sudah bergegas membelah jalan pegunungan dengan berjalan kaki. Ketika matahari sudah sedikit mencuat dari arah timur, barulah mereka sampai di pondok sederhana yang Datuk dirikan persis di sebelah kolam ikan. Biasanya Datuk bekerja memetik kopi dan Anun menyadap karet, sedangkan Elde masyuk mencongkel lubang undur-undur di bawah pondok hingga jam sepuluh pagi saat mereka makan siang bersama.
Hanya itu saja kenangan utuh yang Elde miliki, namun entah mengapa setiap kali sekelabat kenangan itu muncul, selalu saja berhasil menghangatkan hatinya. Makin rindu saja ia dengan kedua sosok itu, barangkali karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan Datuk Hamid—adik kandung Datuk—yang wajahnya bak pinang dibelah dua. Demikianlah setiap kali Lebaran dan bertandang ke rumahnya di Kota Curup, setiap tahun Ibu Elde menitikkan air mata dan memeluk Datuk Hamid dengan erat. Tangisan Datuk Hamid pun pecah disusul pelukan itu.
Dulu ketika Elde masih kecil, ia terkesan acuh melihat pemandangan tangisan itu. Sebab pikirnya, apa yang sebenarnya mereka tangisi di hari bahagia ini ketika semua sanak saudara berkumpul? Apa yang membuat sedih, sedangkan di atas meja tersusun kue kering beragam warna? Meski kue-kue di rumah Datuk Hamid tidak seenak dibanding rumah lain, setidaknya bagi anak kecil seumurannya, keramaian sudah cukup membuat suasana bahagia. Pikir Elde, alangkah lebaynya sang ibu, seolah-olah tidak pernah bertemu Datuk Hamid selama dua puluh tahun; lagipula jarak rumah hanya sejauh dua jam perjalanan. Kalaupun sang ibu sedang rindu, ia bisa saja mengajak sekeluarga mengunjungi kediaman Datuk Hamid kapan saja demi menuntaskan rindu itu.
Namun, seiring umur yang makin bertambah, melalui pertemuan demi pertemuan dan perpisahan demi perpisahan, barulah ia sadar bahwa tak semua orang bahagia ketika Lebaran. Tak semua perkumpulan di rumah itu semata untuk merayakan pertemuan. Ada orang-orang yang justru merasa sangat kehilangan ketika Lebaran tiba. Anggota rumah yang dulu masih utuh, sekarang satu demi satu telah menemukan kehidupan baru di alam barzakh.
Wajar saja bila orang menangis di hari Lebaran, terutama mereka yang telah kehilangan orang tua. Di hari raya, seseorang akan mencari sosok orang tua kandungnya pada orang tua lain. Maka, ia akan bersimpuh dan menangis sejadi-jadinya ketika menyadari bahwa Lebaran ini ia tidak sanggup menahan sepi, dan tak kuasa menyadari kembali bahwa ia adalah manusia yang kehilangan di hari pertemuan ini. Begitulah Elde akhirnya menyadari bahwa tangisan ibunya di hari raya adalah tangisan perayaan kehilangan; sebab sang ibu kembali sadar bahwa orang tua kandungnya sendiri tidak ada lagi di dunia ini. Kadang Elde bergidik saat menyadari bahwa dunia manusia itu, seiring berjalannya waktu, semakin kehilangan warna apabila seseorang telah merasakan apa yang namanya "kehilangan". Terlebih kenyataan yang ia sadari sekarang: tak semua orang merayakan kebahagiaan, karena sebagian orang menjadikan Lebaran sebagai perayaan kehilangan.
Hari ini kembali terjadi pertumpahan air mata. Meski pada Lebaran ketiga keluarga Elde sudah berkunjung ke rumah Datuk Hamid, hari ini mereka kembali ke sana untuk membawa Elde yang sebelumnya tidak bisa hadir karena tuntutan dinas. Tidak seperti tahun-tahun lalu sebelum Elde bekerja jauh di wilayah timur Indonesia sebagai PNS, sekarang Bu Tin dengan bangga menceritakan perjalanan anaknya; mulai dari tes SKD, seragam kampus ikatan dinas, hingga kini merantau jauh di negeri orang. Di rumah itu berkumpul pula sepupu ibu dari pihak Datuk Hamid yang selalu girang setiap kali menyambut keluarga mereka. Barangkali karena Ibu Tin memang sosok yang dermawan. Setiap kali datang, Ibu membawakan jatah sembako untuk kelima anak Datuk Hamid dan tak lupa memberi uang THR kepada cucu-cucu yang masih kecil. Bukan karena keluarga itu kaya raya, namun jika dibandingkan dengan anak-anak Datuk Hamid lainnya, kondisi keluarga Bu Tin memang lebih mapan. Tak ayal, mereka selalu girang bila keluarga itu bertandang.
Memang ada beberapa sifat seorang ibu yang terkesan membesar-besarkan anaknya di depan sanak kerabat, apalagi dalam suasana Lebaran yang sering kali dijadikan ajang pamer. Namun, Elde tahu ibunya tidak bermaksud demikian. Meski sempat dirundung malu karena ibunya tak henti-hentinya membanggakannya, Elde kini sadar bahwa ibunya merasa lega. Sang ibu hanya ingin membahagiakan seseorang yang sekarang ia anggap sebagai pengganti orang tuanya sendiri, yakni Datuk Hamid. Elde teringat ibunya sering bergumam sendirian saat duduk di teras, “Kalau datukmu masih hidup, pasti bangga sekali dia dengan kamu, El.” Begitulah gumamnya. Elde pernah tak sengaja memergoki sang ibu berbicara sendiri, namun saat itu ia tak ambil pusing dan melanjutkan pekerjaannya.
Gumam itu semacam ratapan penyesalan, mengapa sang ayah terlalu cepat berpulang sebelum Elde "jadi orang". Kini, ibunya menganggap adik Datuk Sra itu sebagai ayahnya sendiri; bukan hanya karena hubungan darah, melainkan karena wajah keduanya yang bak pinang dibelah dua. Maka dari itu, Ibu Tin tak kuasa menahan tangis setiap kali bertemu Datuk Hamid. Seolah-olah sang ayah bangkit kembali dari kuburnya hanya demi menemui anaknya saat Lebaran.
Elde masih berada di dalam mobil, membetulkan posisi parkir dan mengambil tape recorder yang ia tinggalkan di bangku belakang. Dari jendela mobil, ia melihat kedatangan mereka telah disambut Datuk Hamid yang tengah duduk di kursi santai; hanya mengenakan sarung tanpa baju.
Padahal baru seminggu yang lalu mereka bertemu, namun Bu Tin kembali menangis ketika tiba di rumah itu. Ia memeluk erat dan mencium pipi Datuk Hamid yang turut basah oleh air matanya sendiri. Setelah pelukan itu terlepas, aku pun keluar dari mobil dan menyusul mereka yang masih berdiri di teras. Ketika mata kami bertemu, aku melihat bola mata Datuk Hamid melebar. Dadanya yang semula naik-turun karena sesak seolah berhenti bernapas saat pandangan kami beradu. Elde tersenyum lembut; rasa rindunya kepada Datuk Sra terasa terbayar tuntas setelah sekian lama tidak bertemu.
Ia memeluk Elde dengan erat meski tubuhnya telah ringkih; tulang rusuknya seolah hanya tinggal kulit sebab sakit paru-paru yang ia derita bertahun-tahun. Kemudian, ia mencium pipi kanan dan kiri Elde sampai terdengar bunyi tarikan udara dari mulutnya—seperti seseorang yang mencium gemas anak kecil, tak peduli bahwa cucunya kini adalah seorang bujang yang tingginya telah melebihi dirinya sendiri. Setelah mencium Elde, ia menatap kembali wajah Elde lamat-lamat dengan mata berkaca-kaca. Ada tarikan senyum yang terlihat dipaksa karena bibirnya sedikit bergetar menahan tangis. Ia pun mempersilakan mereka masuk ke dalam rumah sederhana itu.
“Sudah bujang rupanya kamu, El.” Ia terdiam sejenak, menatap Elde dengan senyuman lega setelah mengucapkan itu. “Kau seperti datukmu saat masih muda, walaupun aku tidak pernah melihat datukmu ketika seusiamu.”
Kalimat itu menggugah keinginan Elde. Memang sedari awal ia bermaksud menggali kembali cerita keluarga untuk diabadikan dalam bentuk memoar, novel biografi, atau apa pun itu—yang penting abadi lewat tulisan.
“Iya, Pak Cik. Dia sengaja pulang sebab rindu datuknya, katanya mau menulis buku tentang kisah kakek-neneknya,” sambung Bu Tin.
“Oh, hahaha. Kalau diceritakan, takkan habis kisah kami dua beradik, El. Kami ini anak lumang yang sengsara sedari kecil.”
Elde menelan ludah. Ia tahu arti dari kata anak lumang adalah yatim piatu sejak kecil. Mungkin inilah maksud dari gumam ibunya di teras rumah saat itu: "Jika datukmu masih hidup, pasti ia akan bangga melihatmu." Pikiran itu muncul di tengah percakapan tersebut. Setidaknya, sang datuk sudah lega di alam sana, sebab kini ada yang memutus rantai kemalangan yang selama ini diwarisi dua generasi.
Setiap orang tua menginginkan anaknya berhasil dan tidak mengharap lebih dari itu. Sebab dengan demikian, ia bisa bangga karena telah mendidik anaknya menjadi "orang". Begitulah Elde yang sekarang sudah paham bahwa pujian yang ibunya lontarkan ketika berkumpul di rumah Datuk Hamid itu bukan semata pamer. Itu tak lebih dari ungkapan perasaan bangga, sekaligus secara tidak langsung ingin mengabarkan kepada Datuk Hamid dan almarhum Datuk Sra bahwa darah daging dari mantan anak lumang yang sengsara sedari kecil, sekarang berhasil mengangkat derajat keluarga.
Percakapan ringan mengalir apa adanya. Obrolan itu didominasi oleh nasihat Bu Tin kepada Datuk Hamid yang tak kunjung berhenti merokok meskipun sudah batuk darah. Terlebih, Bu Tin khawatir karena kematian Datuk Sra diakibatkan oleh kanker—yang kemungkinan besar akibat dirinya tak pernah lepas dari rokok di sela jarinya. Setiap kali dinasihati, selalu saja dengan tenang Datuk Hamid berkata, “Susah, Tin. Lagian Pakcik kan sudah tua. Kalau sudah ajalnya, bisa jadi kamar mandi yang jadi sebab Pakcik meninggal, bukan karena rokok.” Sejurus kemudian, ruangan itu lengang tanpa percakapan.
“Tuk, bagaimana cerita Datuk Sra dan Anun bertemu?” sambar Elde dengan spontan, tak peduli bahwa percakapan sebelumnya tidak ada kaitan dengan pertanyaannya. Namun, itu tak jadi masalah. Dengan senang hati Datuk Hamid mengisahkan, meski dadanya turun-naik dengan cepat sebab penyakit paru-paru yang ia derita.
“Iya, Pakcik. Sebab kalaupun Bapak masih hidup, ia tidak pernah mau bercerita,” pungkas Bu Tin. Elde pun tahu itu. Sedikit cerita yang ia tahu tentang masa lalu sang Datuk bahkan bukan dari Datuk sendiri, melainkan dari Anun yang mengisahkan kepada Bu Tin, lalu diceritakan kembali kepadanya. “Mungkin ia tidak ingin mengingat lagi masa kecilnya saking menyakitkannya,” kata Bu Tin.
Datuk Hamid menggeleng pelan, bibirnya tertarik ke belakang, bersiap berbagi cerita kepada mereka yang berkumpul di ruang keluarga sederhana itu.
“Nab, bikin teh untuk mereka,” perintah Datuk Hamid kepada istrinya. “Makan dulu kuenya, Pri. Inilah adanya, soalnya sudah seminggu lebih Lebaran dan kue dalam toples sudah menipis,” sambung Datuk Hamid menawarkan kepada ayah Elde. Sejurus kemudian, teh dihidangkan di atas meja.
“Nah, kalau ada minuman begini, lebih enak bercerita,” ujar Datuk Hamid.
“Tunggu, Tuk. El setel dulu tape recorder-nya.”
“Hahaha, anak zaman sekarang ini tidak sekuat orang dulu daya ingatnya. Padahal zaman dulu sahabat Nabi tidak ada yang pakai tape recorder setiap kali Nabi bersabda.”
Elde tersenyum kecut mendapati sindiran dari Datuk Hamid. Sebagaimana orang-orang zaman dulu, kalau berkisah memang paling enak didengarkan. Orang dewasa pun hanya manggut-manggut mendengarkan, bahkan ada yang sampai duduk dengan dagu bertopang di lutut, bak anak kecil yang mendengarkan dongeng penggembala di bawah pohon randu. Begitulah adanya; bukan hanya orang Melayu asli yang sedap didengar bila tengah bercerita, rumpunnya pun seperti Melayu Rejang juga sedap bila orang sepuh yang berkisah.
Datuk Hamid menyilangkan kaki, mengambil gelas di depannya, kemudian menyeruput dalam-dalam teh yang masih panas seolah sedang memanaskan kerongkongannya untuk menceritakan kronik masa lalu. “Pasang kuping baik-baik, ya. Beginilah cerita anak lumang ini:
***
“Namaku Hamid, aku mempunyai kakak yang bernama Ali Sera. Tapi orang kampung lebih mengenalnya dengan nama Sra. Aku tidak tahu persis lahir pada tahun berapa karena saat itu aku masih kecil, dan kakakku Sra mungkin kira-kira masih usia SD. Kami berdua yatim piatu sedari kecil. Aku tidak pernah bertemu dengan ayah, mungkin datukmu pernah ketemu. Aku tidak tahu persis kapan ia meninggal karena saat itu aku tidak terpikir untuk bertanya kepada datukmu.
Kata paman dari ayahku, Ibu meninggal ketika aku masih berumur satu tahun. Tidak diceritakan karena apa. Jadi, semenjak Ibu meninggal, kami disebut orang kampung sebagai Anak Lumang.
Ada banyak kenangan saat kami masih bersama di Desa Juru Kalang, namun banyak juga yang sudah kulupakan. Sebab, sebelum berpisah, datukmu selalu berpesan agar jangan pernah jadi orang pendendam, seburuk apa pun kita diperlakukan manusia—bahkan oleh keluarga terdekat sekalipun.
Setelah kepergian Ibu, kami berdua tinggal bersama paman dari pihak ayah. Karena kami hanya menumpang hidup, kami tetap harus memberikan timbal balik walaupun umur kami saat itu masih sangat kecil. Datukmu melakukan seluruh pekerjaan yang diperintahkan paman; mulai dari menggembala kerbau yang jumlahnya sepuluh ekor, membantu mengurus sawah, hingga melakukan pekerjaan rumah.
Awalnya, setelah kematian Ibu, aku masih ingat sekali bagaimana sanak kerabat memperlakukan kami dengan baik. Ucapan mereka selalu penuh perhatian, layaknya berbicara kepada anak yatim piatu yang tak memiliki apa-apa. Namun seiring berjalannya waktu, mereka berubah. Setelah awalnya mereka mendekati datukmu, mereka menawarkan untuk mengurus semua hak yang ditinggalkan Ayah dan Ibu, seperti sawah, kebun, dan kerbau sepuluh ekor itu. Datukmu, yang saat itu masih bocah ingusan, mengangguk saja karena tidak tahu bahwa mereka punya niat terselubung di balik itu semua.
Pamanku adalah orang yang pemalas. Meski saat itu dia punya kuasa penuh untuk mengolah apa yang telah orang tua kami tinggalkan, tetap saja hidup kami di bawah kemelaratan. Hingga akhirnya datukmu mau tak mau harus bekerja serabutan demi membantu agar kami tetap bisa makan.
Di rumah itu bukan hanya kami yang masih anak-anak. Ada juga anak dari paman dan tante kami yang nakalnya bukan main, namanya Ujang. Dia dua tahun lebih tua dariku. Pernah suatu waktu saat kami masih kecil, aku bermain pasir di depan rumah bersama Ujang. Datukmu saat itu tengah memperbaiki kandang ayam serama milik paman yang berada di samping rumah.
Ketika aku lengah, Ujang ternyata mengendap dari belakangku. Ia satukan kedua tangannya dengan jari tengah dan telunjuk yang ditegakkan. Tanpa aba-aba, satu gerakan tusukan ke arah lubang dubur membuat darahku serasa mengalir deras dari ujung kaki sampai ubun-ubun. Aku menangis sejadi-jadinya. Hingga sekarang aku masih ingat betul ekspresi Ujang yang tersenyum getir untuk menyembunyikan kecemasannya.
Datuk yang tak jauh dari kami melihat itu semua. Ia melihat tangan Ujang yang masih membentuk segel tangan, sehingga datuk paham apa yang barusan terjadi. Hal itulah yang membuatnya naik pitam. Ia ayunkan tangan sekuat tenaga hingga bunyi 'cetis' terdengar nyaring sekali. Sejurus kemudian, suasana disambut raungan panjang Ujang yang memanggil nama, 'Maaaak...'.”
Kemudian Tante keluar dari dalam rumah, dengan celemek yang masih ia kenakan sebab saat itu ia sedang membuat godok-godok pisang untuk persiapan acara Maulid Nabi di masjid kampung Juru Kalang.
“Bekne, Nak?” (Kenapa, Nak?)
“Udo Sra, tmapeaku, Mak.” (Kak Sra menamparku, Mak.) Kata Ujang seiring dengan tangisannya.
Tante murka. Datuk dihajar habis-habisan dengan kayu bakar yang masih basah. Tak peduli Datukmu sudah menjelaskan, bahkan saat itu aku juga masih menangis sebab duburku rasanya hampir saja robek. Datuk tak bisa melawan sebab badan kurusnya nan ringkih dan kekurangan gizi itu. Ia hanya bisa berkata, “Ampun, Mak Dang, ampun.”
Setelah Tante lelah memukul, ia mengancam akan mengadu kepada Paman supaya jatah makan kami dikurangi dan kami tidak mendapatkan tempat tidur malam ini. Ya... saat itulah awal pertama kali kami menemui puncak kesedihan nasib masa kecil kami. Bahkan kami diancam diusir dari rumah peninggalan orang tua kami sendiri, padahal Paman dan Tantelah yang sebenarnya menumpang di rumah itu. Sebab sebelumnya, mereka hanya tinggal di sebuah pondok reot di perkebunan kopi milik orang lain yang jaraknya jauh dari pemukiman warga.
Setelah Ujang dan Tante masuk ke rumah, Datukmu mendekat ke arahku. Dengan wajah panik, ia menyuruhku menurunkan setengah celana, kemudian ia menyikap bokongku pelan sambil menatap dengan tatapan menyelidik ke arah duburku yang baru saja ditusuk keras. “Syukurlah tidak apa-apa,” gumamnya. Kemudian aku dipeluk Datukmu. Saat itu aku masih sesegukan menahan tangis dan ia berusaha menenangknku.
Setelah tenang, ia mengajakku duduk di dekat kandang ayam serama yang ia kerjakan. Sambil memotong bilah demi bilah bambu, ia bercerita bahwa dulu, sebelum aku lahir, kami memiliki seorang kakak sulung bernama Hasna. Jarak umurnya hanya setahun lebih empat bulan dari Datuk Sra. Ketika berumur lima menjelang enam tahun, ia diajak Ibu membantu orang di suatu hajatan perkawinan desa tetangga. Ia bermain dengan anak-anak seusianya sedangkan Ibu sibuk menggiling bumbu dapur di bawah tenda terpal yang didirikan di belakang rumah.
Alangkah terkejutnya Ibu ketika seorang wanita berteriak histeris memanggil namanya, membawa kabar jika usus anaknya telah terburai dari dalam dubur di atas papan tarub. Di sampingnya tergeletak kayu lancip seukuran jempol kaki orang dewasa yang ujungnya berlumuran darah segar. Di kampung ini tidak ada rumah sakit, bahkan puskesmas pun belum ada di zaman itu. Dengan usus terburai, napas Hasna mulai melambat dan matanya mulai sayu hingga akhirnya tertutup rapat. Kakak kami mengembuskan napas terakhirnya di sana.
Demikianlah ingatan Datuk Sra terpancing kembali oleh kenangan masa lalu yang kelam. Ia takut jangan sampai adiknya mengalami kejadian yang sama dengan almarhumah kakaknya. Sang pelaku pun tidak bisa dijerat hukuman karena masih kanak-kanak. Tak heran jika tamparan keras tadi adalah bentuk perlindungan dari sang kakak kandung kepada adiknya, agar kejadian itu tidak terulang kembali.
Setelah kejadian itu, kami berdua makin terasingkan. Jatah makan kami dikurangi dan sering kali kami hanya makan dari sisa mereka. Paman jarang pulang ke rumah karena masih mengurus kebun yang letaknya jauh. Sesekali ia pulang hanya ketika menjual kopi pada pengepul langganan di Desa Juru Kalang. Tante mungkin sudah muak melihat kami; lagi pula ia tidak memiliki hubungan darah langsung, yang membuatnya makin semena-mena memperlakukan kami. Ia tak segan memarahi, mencaci, bahkan menghukum kami di depan tetangga dan anak-anak sebaya.
Begitulah awalnya kami perlahan kehilangan tempat di masyarakat. Orang-orang pun mulai memandang enteng kepada kami berdua dan tak segan mengolok-ngolok kami dengan sebutan anak lumang. Aku sadar saat mulai remaja bahwa status sosial dan ekonomi sangat memengaruhi cara orang lain memandang seorang manusia.
Pikirku saat itu, kami tidak punya tempat mengadu lagi jikalau ada yang menjahati kami. Bahkan Tante dan Paman tak peduli jika kami mendapat perlakuan buruk dari orang-orang desa. Jangankan mendapat empati, bahkan orang yang kami tumpangi saja tidak bisa memperlakukan kami dengan baik. Ada banyak sekali hal menyedihkan yang kami dapat sebelum kami berpisah, dan hingga akhir hayat, masih ada saksi bisu yang mereka tinggalkan di tubuh Datuk Sra.
Jika kalian masih ingat, datuk kalian dulu punya sejenis kutil di bibir atas sebelah kirinya, dan pada mata kaki sebelah kanannya terdapat semacam bercak putih susu tepat pada tulangnya. Itu adalah bukti bagaimana ia mendapat perlakuan buruk ketika masih kecil.”
***
“Bapak selalu berusaha tertutup setiap kali aku menanyakan masa lalu. Ia bilang tidak ingin anak cucunya dendam kepada orang yang bersikap buruk kepadanya dan adiknya,” kata Bu Tin sambil mengelap air matanya dengan tisu.
Ia ingat cerita tentang bekas itu yang memang pernah diceritakan langsung oleh Datuk Sra ketika masih hidup. Bu Tin selalu menceritakan kepada anak dan suaminya bahwa Datuk Sra berusaha menutup rapat kejadian di masa lalunya. Tapi kutil di bibir dan bercak putih di mata kakinya tidak bisa ia sembunyikan; Bu Tin selalu memburunya dengan pertanyaan tentang apa yang menyebabkan luka itu membekas hingga Datuk tua.
“Iya, begitulah Tin,” sambung Datuk Hamid.
“Pada dasarnya, manusia itu bisa menjadi jahat kalau tahu kita tidak memiliki apa-apa. Apalagi kalau orang terdekat kita sendiri memperlakukan kita dengan tidak baik. Tidak ada alasan bagi orang lain untuk berempati; toh, keluarganya sendiri saja jahat. Mungkin begitu pikiran orang-orang pada saat itu.” Datuk Hamid mengambil sebatang rokok kretek, membakarnya, serta menyeruput teh yang mulai dingin.
“Datuk lanjut, ya.”
“Iya, Tuk,” Elde mengangguk.
***
“Kutil di bibirnya itu didapat ketika ia mencuri durian di kebun orang. Tapi sepenuhnya tidak bisa dikatakan mencuri. Maklum, dia masih kecil jadi gampang sekali ditipu oleh abang-abangan kampung yang saat kejadian juga ada di sana. Abang-abangan itu bilang kalau kebun itu miliknya sendiri dan meminta Datuk Sra memanjat pohon durian—yang sebenarnya tidak perlu dipanjat, sebab tak ada orang dusun yang memanen durian dengan cara memanjat karena durian yang matang akan jatuh dengan sendirinya.
Kemudian, ia panjatlah batang durian itu sedangkan abang-abangannya menunggu di bawah sambil membentangkan karung goni untuk menangkap buah dari atas. Sejurus kemudian, terdengar teriakan seorang pria dewasa yang menegur mereka. Hal itu membuat abang-abangan tadi kocar-kacir meninggalkan karung goni dan datukmu yang masih bergelayut di atas pohon. Pemilik kebun itu berlari mendekat. Datukmu yang melihat dari atas makin panik, ia segera turun dan terjun dari pohon. Saat ia hendak mengambil sandal, sebuah batu mendarat persis mengenai bibir atasnya.
Namun karena panik, ia tetap kabur meskipun darah telah mengucur dari bibirnya. Ia lari sekencang mungkin menuju arah hutan agar tidak ketahuan. Sebab jikalau ketahuan dan dilaporkan kepada paman dan tante, ia yakin bukan pembelaan yang didapatkan, melainkan hukuman lain yang siap menanti. Mencuri memang tindakan tercela di kampung ini, meskipun menghardik anak yatim piatu sebenarnya jauh lebih tercela; namun keluarganya sendiri tak peduli akan itu. Begitulah ia mendapat bekas luka itu, padahal sebenarnya tidak perlu sebegitunya memberi pelajaran kepada anak kecil yang kedapatan mencuri durian—yang bahkan belum ada satu pun buah yang mereka dapatkan dari pohon itu. Pemilik kebun itu sebenarnya kenal dengan Datuk Sra, namun barangkali ia sudah cukup puas memberi pelajaran sehingga memutuskan untuk tidak memberitahukannya kepada paman dan tante kami.
Lalu yang kedua adalah bercak putih di kaki datukmu yang sampai meninggal pun tidak hilang bekasnya. Kau tahu bahwa kami dulu punya kerbau sebanyak sepuluh ekor. Nah, pada waktu yang sama, seorang saudagar memintanya menggembalakan sapi yang jumlahnya empat puluh ekor. Bayangkan, dengan umur yang masih belia, ia dipercayakan menggembalakan sapi sebanyak itu. Jumlah yang banyak membuatnya kesulitan mengatur seluruh sapi agar penurut. Tak jarang sapi-sapi itu masuk ke pemukiman, mengacak-ngacak pekarangan rumah, dan memakan bunga-bunga yang ditanam di dalam pot.