Sore menjelang azan Magrib, orang-orang baru saja pulang dari berkebun. Desa Tanjung Heran baru saja diguyur gerimis. Mereka pulang dengan kaki telanjang, berombongan dalam barisan kecil sembari bercengkerama membahas segala hal di dunia ini. Bu Tin dan Elde duduk di beranda rumah sambil memakan jagung rebus. Bu Tin menyapa setiap kloter rombongan itu seraya berbasa-basi menawarkan mereka singgah sejenak ke rumah. Begitulah orang Rejang, gemar berbasa-basi. Bu Tin tahu jikalau mereka tak akan benar-benar singgah.
Setiap sore, ingatan Elde tertarik kembali ke masa lalu ketika Datuk Sra masih hidup. Ia pulang dengan beronang yang tercantol di kepala, kadang berisi kopi yang masih basah dan berwarna hijau. Ingatan itu juga diperkuat oleh aroma asam semut yang menjadikan pohon kopi sebagai rumah, yang tak sengaja menempel pada tubuh Datuk Sra. Elde kecil mendekati datuknya, kemudian berbasa-basi selayaknya kebiasaan Bu Tin kepada orang-orang kampung. Ia bertanya kepada Datuk Sra:
“Oleh-oleh ada, Tuk?”
“Ini oleh-oleh.” Datuk Sra melebarkan telapak tangan seolah hendak menampar El. Elde pun tertawa lepas setelah celotehan sederhana barusan.
Momen indah menunggu kepulangan Datuk Sra hanya berlangsung sesaat sebelum beliau terkena kanker kelenjar getah bening. Penyakit itu baru disadari di sebuah sore yang benderang, dengan cahaya kuning keemasan yang menyinari separuh bagian Bukit Daun di depan rumah mereka. Daging itu mulanya hanya benjolan sebesar telur cicak dan tidak menimbulkan rasa sakit. Namun, kian lama benjolan itu membesar hingga sebesar telur angsa, disertai rasa sakit amat sangat yang kerap membuat Datuk mengerang dengan suara berat nan memilukan.
Tujuh bulan Datuk Sra bertahan hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Dharmais, Jakarta. Datuk adalah perokok berat yang mungkin menjadi faktor utama, namun dari segi medis hingga sekarang, penyebab utama kanker memang sulit diprediksi. Sebab, banyak perokok aktif di luar sana yang hingga masa tua pun tidak terkena kanker.
Hal ini diperkuat dengan curahan hati Bu Tin kepada Elde ketika sudah remaja. Ia bilang bahwa Anun adalah sosok wanita yang otoriter dan selalu menuntut Datuk untuk giat bekerja keras. Itulah yang membuat Datuk memendam emosi dan stres, sehingga imunnya turun dan mengakibatkan pertumbuhan sel kanker. Barangkali kemiskinan membuat Anun trauma, meskipun saat Elde lahir, ekonomi di rumah itu jauh lebih baik dibandingkan ketika Bu Tin masih kecil.
“Bu, coba ceritakan pengalaman-pengalaman yang paling menarik ketika Ibu masih gadis dan akhirnya memutuskan menikah dengan Ayah,” pinta Elde, yang kemudian langsung dikabulkan oleh Bu Tin. Elde mengeluarkan pena dan bersiap dengan buku catatannya. Maka, tenggelamlah mereka berdua dalam cerita nostalgia.
***
“Pernah dengar istilah saudara anjing? Nah, itulah hubungan Ibu dengan Pakwo dan Makdang. Ibu yang sama, tapi berbeda bapak. Sejak kecil mereka menyayangi Ibu dan menganggap Ibu seperti saudara kandung, sebab mereka berdua juga mendapatkan perlakuan layaknya anak kandung oleh datukmu.
Dulu hidup kami sangat melarat, bahkan untuk makan pun susah. Kelahiran Ibu dapat dikatakan membawa rezeki di rumah itu, sebab kita mulai memiliki kebun dan sawah sendiri. Namun, urusan makan tetap saja jadi persoalan pelik di beberapa waktu, sebab ada lima kepala yang mesti diberi makan.
Dulu Ibu pernah cerita padamu tentang sayur genjer yang Ibu buang karena bosan, yang membuat Ibu harus dipukul Anunmu dengan kayu bakar. Anunmu itu bukan main garangnya dan punya harga diri yang sangat tinggi. Pernah suatu hari kami belum makan karena beras habis, dan datukmu hingga sore belum juga pulang dari berjualan di pasar. Singkat cerita, Anunmu berinisiatif mengganjal perut kami dengan memasak cendawan liar yang tumbuh di halaman belakang rumah.
Cendawan itu berwarna putih, persis seperti cendawan putih yang biasa kami makan. Nahas, setelah memakannya, perut kami terasa seperti dililit disertai pusing hebat. Rumah terasa berputar dan kami berempat terkapar di ruang tamu. Untungnya, tak lama setelah itu datukmu sampai di rumah dengan beras yang masih ditentengnya. Ia menjatuhkan karung beras itu dan mendekati kami dengan wajah berpeluh dan kebingungan. Ia melihat sisa cendawan di dalam mangkuk dan segera tahu penyebabnya.
Sejurus kemudian, ia pergi menuju pekarangan tetangga di depan rumah kami—mengambil jenis cendawan lain yang menempel pada kayu lapuk. Kemudian ia suapkan ke mulut kami satu per satu hingga akhirnya kondisi kami membaik. Entah dari mana Datuk dapat ilmu tentang menangani keracunan cendawan. Ibu ingat persis bahwa cendawan penawar itu bukan jenis yang biasa orang makan. Apakah mungkin itu juga jenis beracun, sehingga racun yang bertemu racun menjadi penawar? Ibu tak tahu. Itu adalah hal yang tidak akan pernah bisa Ibu lupakan. Sebab, kalau saja datukmu telat, mungkin kau tidak akan pernah lahir ke dunia ini.
Lalu yang kedua, tentang sifat Anunmu yang menjunjung tinggi gengsi. Kalau diingat-ingat lagi, itu adalah bagian paling menyedihkan sekaligus lucu di masa lalu kami. Hampir dua minggu kami hanya makan lauk rebus-rebusan karena harga ikan yang mahal. Pagi itu Ibu baru bangun tidur dan mendengar suara orang sibuk di dapur. Asap kayu bakar mengepul dan Anun tengah sibuk mengoseng-oseng wajan. Anehnya, tak ada aroma bumbu atau wangi masakan sama sekali. Hanya suara percikan minyak panas dan bunyi seperti kacang tanah yang digoreng. Ibu mendekat, lalu melihat ke wajan itu. Kerikil-kerikil seukuran jempol tangan diaduk bolak-balik bak menyangrai kacang tanah.
“Kenapa goreng batu, Mak?”
“Sudah, tidak usah banyak tanya. Pergi jemur kopi dulu di depan sana.”
Tak berani Ibu lanjutkan lagi. Ibu pun menuruti perintah Anun, namun Ibu masih menerka-nerka apakah Anunmu sudah gila karena menggoreng kerikil. Ibu menceritakan hal itu kepada Makdang dan Pakwomu pagi itu juga, tepat setelah selesai menjemur kopi.
“Kita tunggu saja, apa benar hari ini kita makan koral,” ujar Pakwomu.
Belakangan Ibu baru tahu, karena sudah cukup lama tidak ada bunyi penggorengan di dapur, Anunmu sengaja membuat suara-suara layaknya orang sedang memasak karena ia tak ingin para tetangga tahu nasib kami. Dengan bunyi gesekan wajan itu, ia berharap tetangga tak akan menaruh curiga terhadap kemelaratan hidup ini. 'Oh, Latifa makan enak hari ini,' mungkin begitulah pikiran Anunmu saat itu.
Kami bertiga duduk di ruang tengah, masih berharap siang itu Anun keluar dari dapur dan menyajikan makan siang. Namun, Anun justru telah bersiap dengan beronangnya untuk menyusul Datuk bekerja di sawah.
“Lha, Mak? Makanannya mana?” tanya Pakwomu.
“Tahan lapar dulu siang ini, nanti malam baru masak,”kata Anun.
Kami bertiga hanya saling pandang tanpa sepatah kata pun. Kami harus menahan lapar hingga malam hari. Ibu baru sadar kalau sedari dulu sifat Anun memang sangat menjunjung ego dan harga diri ketimbang rasa lapar. Wataknya yang keras itulah yang membuat Datuk terseok-seok mengikuti seluruh maunya. Begitulah risiko jika wanita jauh lebih tua dari pria. Jarak mereka mungkin sekitar 15 tahun, dan Anunmu sempat merawat datukmu ketika masih di Juru Kalang. Jadi, datukmu tak bisa berbuat banyak dan hanya bisa bersabar menghadapi kerasnya sifat Anun.
Jarak umur Ibu terpaut jauh dengan Pakwo. Seingat Ibu, saat itu Ibu masih kelas empat SD, Pakwo baru saja lulus SMA, dan Makdangmu masih kelas dua SMP. Siang itu, Ibu baru saja pulang sekolah dan Pakwomu ngamuk-ngamuk di depan Anun. Ia minta dinikahkan dengan pacarnya yang bernama Junaida. Belakangan itu Pakwo memang jarang pulang; ia lebih sering tidur di rumah temannya di Taba Penanjung. Melihat kekacauan itu, Makdang dan Ibu pergi menemui Datuk yang tengah bekerja di sawah untuk melaporkan kejadian di rumah. Datuk pun bergegas meninggalkan pekerjaannya.
Setibanya di rumah, Pakwomu memaksa agar tabungan keluarga diserahkan untuk modal pernikahannya. Tak tahu diuntung memang, padahal ia belum memiliki pekerjaan tetap. Atas pertimbangan Anun dan Datuk, mau tak mau mereka memberikan seluruh tabungan yang tersisa daripada Pakwo mengacak-ngacak isi rumah. Padahal, niat Anun dan Datuk adalah menggunakan uang itu untuk membiayai kuliah Pakwomu. Namun, “Jodohnya telah sampai, mau bagaimana lagi,” pungkas Datuk saat itu.
Setelah menikah, Pakwomu mengajak Junaida tinggal di Kabupaten Mukomuko yang berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatra Barat. Pernikahan itu hanya bertahan tiga tahun. Mereka memiliki seorang anak laki-laki yang hak asuhnya jatuh ke tangan Pakwo. Dua bulan setelah cerai, Pakwo menikah lagi dengan Nilam, seorang guru SD yang sudah PNS, kaya, dan memiliki sawah seluas enam hektar. Pakwomu yang mengolah sawah itu karena ia memang tidak punya pekerjaan tetap. Pria playboy seperti itu memang sering kali digemari wanita, padahal Pakwomu itu pemalas, tukang main perempuan, dan penjudi. Tapi tetap saja banyak wanita bodoh yang menyukainya.
Permintaan kawin mendadak itu benar-benar menghancurkan harapan Anun dan Datuk kepada anak sulung mereka. Mereka berharap Pakwo sukses dan bisa membantu adik-adiknya sekolah hingga kuliah. Namun, semua itu pupus. Ia tergesa-gesa menikah meski belum siap menjadi suami. Anehnya, Junaida tetap mau menikah dengan pria miskin dan pemalas ini. Bertahun-tahun setelah pernikahan kedua itu, ia jarang sekali pulang. Ia baru menampakkan batang hidungnya setelah lima tahun, membawa istri barunya, Nilam, dan dua anak laki-laki yang masih balita. Ia hanya singgah sesaat menanyakan kabar, lalu kembali ke Mukomuko. Dua atau tiga tahun kemudian baru muncul lagi. Sejak ia menikah untuk kedua kalinya, Ibu tidak lagi melihatnya sebagai anak Anun, sebab tak seharusnya seorang anak abai kepada orang tuanya. Namun, Anun tak ambil pusing; baginya sudah cukup Pakwo membuatnya kecewa. Berita tentang Pakwo yang mengamuk minta nikah itu menyebar seantero desa, membuat Anun dan Datuk menanggung malu yang luar biasa.
Tidak sampai di situ, kejadian memalukan terulang saat Makdang masih SMA. Makdang terkenal liar dan berjiwa pemberontak. Ia tak peduli bahwa Anun tak jauh beda dengan pawang singa yang tak segan mencambuk. Makdang tetap bebal. Kami dilarang keluar rumah sepulang sekolah; kata Anun takut kami "bunting di tengah jalan", sebab zaman dulu banyak kasus putus sekolah karena hamil di luar nikah. Ibu yang masih SMP menjadi anak penurut, sedangkan Makdang selalu punya cara untuk kabur.
Suatu malam Minggu, Makdang dikunci dari luar kamar, namun ia nekat kabur lewat jendela. Betapa terperanjatnya Anun ketika mendapati kamar itu kosong melompong dengan jendela menganga lebar. Anun berlari menyusuri desa sambil berteriak memanggil nama Makdang, “Eli... Eli...!” sengaja agar orang kampung ikut mencari. Maksud Anun agar Makdang malu dan jera, tapi nyatanya Makdang malah makin bebal. Kali ini, bukan Anun yang membuat Makdang malu, melainkan Makdang yang membuat keluarga menanggung malu.
Tiba-tiba Bibi Maya datang mengabarkan bahwa orang-orang desa menangkap Makdang dan pacarnya di bawah rumpun bambu. Darah berdesir kencang, Anun bergegas menyusul. Tak ada muka lagi bagi Anun di hadapan orang banyak. Di sana, Makdang dan pacarnya menunduk lesu mendengar ocehan Pak Imam yang memarahi mereka dengan hadis dan ayat tentang perzinaan. Akhirnya mereka terpaksa dinikahkan. Meski belum terbukti mereka berzina, tapi kalau bukan mahram sudah berduaan di hutan sepi, dipastikan mereka bukan berniat menanam sawit, melainkan menanam benih bayi.
Harapan pada anak pertama pupus, kini anak kedua menambah malu. Setelah warga bubar dan kami berkumpul di rumah, Anun termenung sejenak, lalu tiba-tiba berlari ke dapur mengambil parang. Ia mengacungkan parang itu ke lehernya sendiri, berniat mengakhiri hidup. Seorang Latifa yang sangat menjunjung tinggi harga diri sudah tidak tahu lagi harus menaruh mukanya di mana melihat anak gadisnya berhenti sekolah karena tuntutan adat. Datukmu berteriak memohon agar Anun mengurungkan niatnya. Orang-orang mulai berkerumun, dan teman-teman setia Anun yang sering ke masjid bersama perlahan membujuknya hingga ia tenang.