Ikan tongkol masak asam, sawi rebus, petai bakar, serta kerupuk ikan khas Palembang tersaji di atas meja makan sederhana. Meski demikian, keluarga ini tidak pernah menyantap nasi di meja tersebut. Ruang tengah adalah tempat favorit untuk menghabiskan nasi di piring sambil menonton TV dan sesekali bercengkerama.
Belakangan ini, kebiasaan di dalam rumah itu perlahan mulai menghilang karena TV sudah digantikan oleh ponsel pintar. Entahlah, makin hari rasanya makin banyak yang hilang di dunia ini—nikmat kebersamaan dengan keluarga, nikmat sepenuhnya hadir dalam sebuah perbincangan, bahkan nikmat menunggu dalam penantian tanpa menatap layar ponsel.
Di zaman sekarang, setiap anggota keluarga memiliki ponsel dengan algoritma masing-masing sesuai kegemaran mereka. Seperti Pak Pri yang sekarang lebih tertarik dengan pembahasan berbau agama; setiap makan ia selalu memutar ceramah dari Ustaz Abdul Somad dan Adi Hidayat, atau sesekali Ustaz Felix Siauw ketika ingin mendengar sejarah Islam dengan bahasa yang ringan dan interaktif. Di sisi lain, ada Bu Tin dengan tontonan drama China, dan Luzi yang asyik menonton anime.
Begitulah kira-kira suasana makan malam di rumah itu. Namun, kedatangan Elde sesaat bisa mengubah semuanya. Begitulah kiranya posisi ponsel bisa tergeser jika ada seorang tamu jauh pulang kembali ke rumah, walaupun hanya sesaat sebelum benda pipih itu kembali menyita hangatnya kebersamaan.
Sebagaimana anak laki-laki pada umumnya, Elde tidak terlalu dekat dengan sang ayah. Bukan karena ada persoalan masa lalu, tapi memang begitulah adanya. Kadang Elde ingin sekali berusaha dekat dan bercerita bagaimana ia melewati hari-harinya yang berat di perantauan. Namun, setiap kali ingin mengajak ayahnya membahas kehidupan ini, batinnya menolak karena rasa gengsi. Ayahnya tidak terlalu suka berbicara panjang lebar dan tidak pernah memberikan nasihat panjang layaknya seorang ayah di film-film, yang biasanya berusaha mengajak anaknya berbicara empat mata ketika malam sudah larut.
Pernah terbersit rasa iri di hati saban waktu ketika ia berbincang dengan sahabat lelakinya. Hari itu hampir pagi, sekitar pukul 03.00 WIT. Mungkin mereka sudah membahas semua topik di dunia ini, hingga akhirnya tiba pada sebuah topik percakapan paling serius dan intim bagi anak laki-laki: tentang hubungan seorang anak dengan ayahnya.
Fadlan namanya. Ia bilang bahwa ayahnya adalah sahabat paling keren yang ia miliki seumur hidup. "Aku tidak pernah memanggilnya dengan sebutan ‘Ayah’, melainkan ‘Bro’, karena kami memang sedekat itu. Ketika aku baru lulus SMA, hampir setiap malam kami duduk di teras sambil merokok dan minum bir. Kami mengobrol tentang semua topik yang ada di kepala kami, hingga topik paling intim sekalipun yang biasanya cukup sulit untuk dibicarakan kepada seorang ayah—seperti membahas perasaan kepada seorang wanita."
Fadlan tak ragu bilang kepada ayahnya jika ada seorang wanita yang berhasil membuatnya tersenyum sendiri setiap malam sambil mencubit bantal. Ia pun tak ragu menunjukkan foto wanita itu kepada ayahnya untuk meminta penilaian. Ayahnya bilang bahwa Fadlan harus kuat-kuat telinga dan hati jika memang ingin menikahi wanita itu; biasanya itu menandakan ia adalah wanita cerewet.
Lalu, Fadlan menunjukkan foto wanita kedua yang berhasil menarik hatinya. Parasnya tak kalah manis dengan wanita pertama, namun ayahnya bilang kalau yang satu ini bibirnya terlalu tebal, kemungkinan besar sudah dipermak, dan merupakan pemain lama. Sejurus kemudian Fadlan tertawa dan berujar bahwa penilaian ayahnya terlalu dangkal untuk menilai makhluk paling rumit di dunia ini.
“Mengapa Ayah hanya menilai wanita dari bentuk bibir?” tanya Fadlan heran.
“Sebab wanita identik dengan mulut. Kita bisa melihat sifat wanita dari cara ia berbicara, pilihan kalimat, intonasi, hingga apa yang keluar dari mulutnya terlebih ketika dia marah dan kecewa. Maka demikianlah dari semua anggota tubuh, mulutlah yang paling banyak menyebabkan dosa.”
“Bukankah wanita yang berselingkuh itu lebih banyak diamnya? Dan mulut bukan jadi penyebab utama untuk memberikan luka terberat bagi seorang pria,” sanggah Fadlan.
“Percayalah, sebab mulut itulah yang jadi awal mula kebanyakan dari mereka berselingkuh. Mereka bercerita dengan lelaki lain tentang masalah hubungannya dengan suami yang sekarang. Selingkuhannya itu tidak perlu effort lebih demi memikat hati perempuan itu; cukup diam dan mendengarkan saja hingga si perempuan puas menceritakan segala yang ada dalam hatinya. Lalu kemudian, perempuan itu merasa nyaman karena merasa didengarkan dan dihargai, padahal tanpa sadar ia telah masuk ke dalam perangkap yang dia buat sendiri.”
Ayahnya menghisap rokok sejenak sebelum melanjutkan, “Sudah jadi fitrahnya begitu. Allah pun secara tidak langsung memberi tanda melalui cara kebanyakan wanita menangis. Ketika menangis, mereka menutup mulut secara spontan dan alami karena dosa perempuan memang banyak berasal dari mulutnya sendiri. Sedangkan pria, mereka menutup mata ketika menangis karena bagi pria, dosa lebih banyak berasal dari mata.”
Elde termenung sejenak, mencoba membayangkan bagaimana jika ia berada di posisi Fadlan. Apa rasanya memiliki sosok ayah yang bijak sekaligus bisa dijadikan sahabat? Entahlah, ia tidak bisa membayangkan karena memang setiap ayah di dunia ini memiliki cara berbeda untuk menunjukkan kasih sayang kepada anak lelaki mereka.
Toh, Fadlan di akhir ceritanya bercerita bahwa ia kehilangan sosok ibunya ketika masih berumur tujuh bulan. Di usia segitu, jangankan bicara, bahkan wajah ibunya pun ia tak ingat. Elde menarik kesimpulan bahwa ayah Fadlan mencoba mengambil peran sang ibu. Sebab normalnya, anak lelaki memang lebih dekat dengan ibu mereka. Namun karena Fadlan kehilangan ibunya sejak kecil, sang ayah berusaha agar Fadlan tetap bisa merasakan kehadiran sosok ibu dalam hidupnya hingga ia dewasa.
Ketika merantau, Elde sadar bahwa ayahnya memang tidak suka memberi nasihat, melainkan lebih suka memberikan contoh langsung kepada Elde dan Luzi. Elde melihat ayahnya adalah sosok sigma; terlihat diam nan dingin, namun secara bersamaan menghangatkan. Jika ayah Fadlan menasihati dengan berujar, “Jadilah pria yang selalu sayang dan setia kepada pasangan,” maka ayah Elde mengatakannya dengan cara berbeda : Pagi-pagi sekali, ayahnya sudah bangun untuk mencuci piring kotor, menyiapkan bahan masakan, dan membantu Ibu di dapur. Sore harinya, ia menyetrika seluruh pakaian istri dan anaknya. Hal itu rutin dilakukan Pak Pri sedari Elde kecil hingga sekarang ia telah dewasa dan pergi jauh merantau.
Elde sempat bertemu dengan beberapa wanita yang mengeluhkan sikap ayah mereka yang kerap ingin dilayani bak sultan—apa yang mereka sebut sebagai patriarki. Mereka mengeluh bahwa ayah mereka tidak pernah mencuci piring, bahkan untuk piring sendiri, tidak pernah membersihkan rumah, apalagi mencoba membantu ibu memasak. Bahkan, ada yang bilang bahwa memasak akan melunturkan sisi maskulinitas seorang lelaki.
Dari sana Elde sadar bahwa selama ini ia memiliki ayah yang hebat dan jarang ditemui di zaman sekarang. Ayahnya mengajari bagaimana cara menyayangi istri dengan cara yang paling maskulin. Ayahnya bekerja sebagai guru, sedangkan sang ibu tidak bekerja. Lantas, hal itu tidak membuatnya enggan mengurus pekerjaan rumah. Ia tetap membantu Ibu karena ia tahu bahwa mengurus rumah adalah tanggung jawab bersama, bukan semata kewajiban bagi seorang wanita.
Pukul 06.00, Pak Pri masih di dapur mengenakan celemek lusuh yang mulai berjamur. Kadang, pagi-pagi sekali orang sudah datang ke rumah dengan bermacam urusan. Karena ayah dan ibu sama-sama sibuk di dapur, suara tamu sering kali tidak terdengar, hingga tamu itu terpaksa masuk melalui pintu belakang yang terhubung langsung dengan dapur. Pak Pri sedikit pun tidak merasa malu ketika orang melihat langsung aksinya membantu memasak.
Hal-hal seperti itulah yang baru Elde sadari dan syukuri ketika dia sudah merantau jauh dari rumah dan bertemu dengan orang-orang baru dalam hidupnya. Terkadang, kita memang tidak menyadari hal-hal bermakna yang sebenarnya telah lama ada di dekat kita. Namun, ketika kita telah pergi, kita baru akan menyadarinya saat merasa kehilangan, atau ketika bertemu orang baru yang mengeluhkan nasibnya dan membandingkan hal-hal yang terdengar biasa dalam hidup kita. Begitulah cara Tuhan biasanya memberikan hidayah bagi manusia untuk bersyukur atas apa yang ia miliki saat ini.
Sesuai rencananya tadi sore, saat makan malam nanti Elde akan menggali cerita masa lalu kakek dan nenek dari pihak ayah. Dan malam ini, ia ingin mengambil langkah besar dalam hidupnya: mencoba meruntuhkan gengsi untuk menceritakan hal-hal yang selama ini canggung baginya kepada sang ayah. Tentang seorang gadis yang ia cintai, dan meminta nasihat untuk kehidupannya yang mulai gonjang-ganjing sejak ia menginjak usia seperempat abad ini.
***
Mereka berempat duduk di ruang tengah, menyantap makanan di atas piring yang mereka pegang masing-masing tanpa meja—begitulah rata-rata cara orang kampung makan. Sesekali mata mereka terpaku ke arah TV, rahang mereka bergerak naik-turun, namun mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Sadar suasana makan tengah lengang, Elde memecah keheningan dengan bertanya kepada Pak Pri tentang bagaimana kakek dan nenek dulu bisa menikah. Pak Pri yang masih masyuk mengunyah ikan tongkol masak asam kesukaannya, segera meneguk minuman untuk mendorong sisa-sisa makanan di kerongkongannya.
“Dijodohkan,” ucapnya disusul senyum simpul. Elde mengangguk takzim sambil menunggu sambungan cerita dari Pak Pri. Kemudian, ia mengambil dua keping kerupuk ikan khas Palembang.
“Tak ada ubahnya cerita datuk-anun dan kakek-nenek kau, El. Nenek tidak pernah sekolah. Kakek sempat SD, tapi tidak tamat karena tidak punya seragam lagi.”
“Lha, memangnya guru atau teman-temannya tidak ada yang niat bantu? Bukankah zaman dulu Belitung kota kaya karena penghasil timah terbesar di Indonesia?”