RUMAH SINGGAH DI PADANG LARA

L DARMA
Chapter #11

NAK, DENGARKAN

Nak, hidup sebagai lelaki itu tentang pengorbanan dan tanggung jawab," ujar Ayah, suaranya berat namun menenangkan. "Artinya, ketika kita menginginkan sesuatu, kita harus siap kehilangan sesuatu yang lain. Hidup ini pun hanyalah tentang ditinggalkan dan meninggalkan."Ayah menjeda kalimatnya sejenak, menatap lurus ke depan seolah menerawang masa lalu.

"Kita selalu merasa berduka ketika kehilangan atau ditinggalkan seseorang. Di saat-saat seperti itu, dunia seakan mendadak tidak adil dan hanya bersikap jahat kepada kita. Dari sekian miliar manusia di bumi, mengapa harus kita yang menanggungnya? Pasti, saat berduka, sekelebat pikiran egois seperti itu pernah muncul di kepalamu. Namun percayalah, suatu saat kita juga bakal meninggalkan orang lain dan menjadi sebab duka bagi mereka yang menganggap kita berharga. Kita meninggalkan bukan karena kita jahat, Nak, tapi memang karena waktu kita di dunia ini sangat terbatas. Tidak ada yang benar-benar bertahan selamanya." Ayah menghela napas panjang. Angin malam berembus tipis, menyusup di antara keheningan mereka.

"Semua akan berubah. Semua akan ditinggalkan dan semua akan meninggalkan. Kita hanya sedang mengantre menunggu saat itu tiba. Menakutkan, bukan? Seolah-olah kita, manusia ini, dipaksa tahu bahwa semuanya akan sia-sia setelah bersusah payah mencari kebahagiaan fana. Hasil yang kita perjuangkan mati-matian saat ini, suatu hari nanti harus kita lepaskan begitu saja."

Ayah menyesap rokok, lalu melanjutkan, "Kita ambil contoh sebuah rumah yang susah payah kita beli atau dicicil selama belasan tahun lamanya. Namun setelah kita meninggal, pada akhirnya orang lain yang akan menempati rumah itu. Syukur-syukur jika kita memiliki keturunan yang mewarisinya. Tetapi, kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan terjadi di masa depan."

"Saat tubuh kita telah membusuk dan jiwa kita entah berada di mana, apakah kita masih bisa menyaksikan kehidupan dunia? Memeriksa nasib anak-cucu kita? Memikirkan nasib rumah yang dulu kita perjuangkan setengah mati, nasib kebun, sawah, atau bisnis yang telah kita jaga selama hidup? Semua itu lenyap ketika kita mati. Lalu, apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh orang mati selain doa, pahala yang mengalir, dan rida menuju surga? Ayah rasa, orang yang sudah mati tidak butuh lagi sanjungan, tidak butuh dikenang, pun tidak butuh pujian. Tidak ada manfaat dari semua itu, bahkan bagi orang yang masih hidup sekalipun."

Ayah membalikkan badannya, menatap El lekat-lekat. "El, kau bertanya apa yang Ayah rasakan saat merantau jauh dari keluarga dan tidak memiliki siapa-siapa di luar sana?"

El mengangguk pelan dengan tatapan penasaran, menunggu sang ayah kembali memberikan petuah kehidupannya.

"El, DNA-ku mengalir di sekujur tubuhmu. DNA menyimpan semua informasi kehidupan, ibarat sebuah program yang direplikasikan dari satu sistem ke sistem yang lain. Komputer itu buatan manusia yang pastinya kalah kompleks dari DNA yang dirancang langsung oleh Tuhan. Dan Ayah rasa DNA bukan hanya mewarisi bentuk wajah dan karakteristik fisik lainnya, melainkan juga mewarisi sebagian besar cara kita merasakan esensi kehidupan ini dan bagaimana kita berperasaan." Ayah tersenyum tipis, seolah melihat dirinya yang muda di dalam diri El.

"Ayah tahu, mulai umur dua puluh tahun ke atas, rata-rata manusia mulai didatangi keresahan yang lalu-lalang di kepala. Ada yang belum mendapat pekerjaan. Ada yang sudah bekerja namun gajinya tidak pernah cukup sebab ia harus menjadi tulang punggung keluarga. Ada yang ingin segera menikah namun tidak kunjung menemukan jodoh, dan ada pula yang ingin segera mengundurkan diri dari tempat kerja lama karena beragam hal yang membuatnya tidak nyaman. Pikiran-pikiran kalut begitu memang kerap datang ketika umur sudah menginjak kepala dua. Atau lebih tepatnya lagi, ketika kita lulus kuliah, atau mungkin saat lulus SMA."

“Kau tahu kenapa?”

El menggeleng.

"Sebab, kita dipaksa oleh sistem untuk menciptakan garis akhir kita sendiri. Coba kau renungkan, dari SD hingga SMA tujuan kita jelas, yakni lulus. Kemudian kuliah, tujuan kita adalah wisuda, dan syukur-syukur bisa cumlaude dengan harapan lebih gampang diterima kerja. Lalu, setelah wisuda kita tidak benar-benar memiliki garis akhir yang pasti. Bahkan beberapa orang sudah harus menetapkan sendiri garis akhir mereka sebelum pendidikannya benar-benar selesai. Maka, jika kau merasa bingung, itu wajar. Kamu sedang masuk dalam fase mencari esensi kehidupan." Ayah terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar getir namun maklum.

"Di fase ini, orang-orang mulai banyak menangis sendirian di kamar saat malam tiba. Menangis karena ragam masalah, atau bahkan menangis untuk sesuatu yang mereka sendiri pun tidak tahu apa sebabnya. Lelaki lebih sering melamun, tenggelam dalam keresahannya sendiri sambil berusaha mencari jawaban untuk permasalahan batin yang mereka miliki. Namun percayalah, Nak, semakin kau cari jawabannya, hidup ini akan terasa semakin ruwet dan menyesakkan. Dunia yang kita tinggali ini sangat absurd. Dan kau mungkin mulai sadar, mengapa ketika dewasa, bahagia itu rasanya menjadi hal yang paling sulit untuk didapatkan."

"Kita mulai merindukan masa kecil yang berwarna dan penuh imajinasi, saat kita mampu bahagia dengan cara yang paling sederhana sekalipun. Mengapa? Karena manusia dewasa terlalu banyak menuntut. Manusia dewasa terlalu banyak bertanya tentang bagaimana cara hidup agar bisa mendapat kebahagiaan mutlak. Mereka selalu meminta penjelasan logis untuk semua tragedi duka dalam kehidupannya. Padahal di dunia ini, tidak semua hal bisa dijelaskan dengan alasan matematis dan logika. Kehidupan ini terlalu kompleks, dan banyak sekali faktor luar yang memengaruhi terbentuknya realitas kita. Dan kau tahu, kan? Manusia itu makhluk yang serba terbatas. Terbatas dalam ranah pikiran, dan terbatas dalam ranah waktu. Lantas, mengapa manusia selalu memaksa untuk mendapatkan penjelasan logis atas segala hal? Absurd sekali, bukan? Tidak akan pernah indah hidup kita ini, Nak, kalau kita selalu bergelut dengan pikiran semacam itu."

Ayah menepuk bahu El dengan lembut, menyalurkan kehangatan seorang pelindung.

"Jalani saja. Tidak usah kau takutkan misteri masa depan yang menakutkan, yang sebenarnya hanya kau ciptakan sendiri di dalam kepalamu itu. Justru yang membuat dunia ini indah adalah karena misterinya. Kalau kita semua bisa memperhitungkan dengan tepat apa yang akan terjadi di masa depan, dunia ini bakal terasa sangat hambar, Nak. Percayalah pada Ayah."

"Dan satu lagi, iman diciptakan untuk mempermudah kita menghadapi dunia yang penuh paradoks ini. Percayalah bahwa imajinasi dapat menciptakan realitas kita di masa depan, namun sebagai muslim, kita harus tetap berikhtiar. Kalau hanya imajinasi tanpa ikhtiar, itu namanya menghayal—percuma saja. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman: Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Jika ia berprasangka baik kepada-Ku, maka kebaikan baginya. Dan jika ia berprasangka buruk kepada-Ku, maka keburukan baginya."

Ayah mengakhiri petuahnya dengan sebuah kutipan yang menyejukkan hati. "Dan ingat kata Habib Jafar, ‘Orang dewasa kadang sok paham. Padahal Tuhan justru lebih dekat dengan imajinasi anak-anak yang penuh cinta, ketimbang pemahaman orang dewasa yang sesak akan teori belaka.’"

***

Maka malam itu, setelah bertahun-tahun mereka dikurung oleh atap yang sama dalam kebisingan yang sunyi, terjadilah sebuah keajaiban besar. Mereka, sepasang ayah dan anak yang biasanya saling membisu, tiba-tiba terlibat dalam percakapan tingkat tinggi mengenai hakikat eksistensi manusia di muka bumi. Bagi Elde, malam itu tak ubahnya kuliah kilat filsafat eksistensialisme bobot empat SKS yang dijejalkan paksa ke dalam kepalanya hanya dalam tempo beberapa menit. Ia duduk terpaku, menahan napas, menanti baris-baris kalimat ajaib berikutnya yang akan meluncur dari mulut sang ayah.

Namun, celakanya, khotbah panjang lebar bin kosmologis barusan ternyata gagal total menyentuh episentrum keresahan di dada Elde. Ribuan kata bijak itu belum sanggup menjawab teka-teki rumit tentang getirnya hidup di tanah rantau, atau tentang segala hal berharga yang menguap dari genggamannya bagai proses sublimasi yang tak kasat mata.

Anehnya, meski sang ayah sudah bertutur sedemikian rupa, lidah Elde mendadak kelu. Ada daya hambat tak kasat mata yang mendadak menahan pangkal tenggorokannya setiap kali ia berniat melontarkan pertanyaan yang telanjang, yang to the point. Ah, bagi manusia-manusia penuh rahasia seperti mereka, segalanya memang jauh lebih aman jika dibungkus rapi dalam metafora, analogi, dan majas-majas yang mengawang-awang. Berkata jujur tanpa tedeng aling-aling rupanya membutuhkan keberanian setingkat martir. Ego, dalam hukum mekanika batin mereka, selalu bertindak sebagai gaya gesek yang menghambat laju kejujuran. Begitulah ironi sepasang ayah dan anak lelaki: mereka tidak hanya dikutuk memiliki kemiripan struktur genetika, tetapi juga mewarisi sifat komunal yang mengerikan, yaitu sama-sama tertutup dan antara gengsi dan sungkan setinggi monas.

Lihat selengkapnya