RUMAH SINGGAH DI PADANG LARA

L DARMA
Chapter #12

BIANGLALA KEHIDUPAN

Belum sempat Elde mengadukan nasibnya—tentang bagaimana ia tertatih-tatih mengarungi kerasnya hidup sejak angkat kaki dari kampung halaman—Pak Pri, dengan kearifan laki-laki tua yang kenyang makan asam garam, seolah telah membaca seluruh isi hati anaknya. Lelaki itu menjawab tuntas segala kegundahan yang menjerat dada Elde: tentang peliknya sebuah pilihan, tentang nestapa seorang pemuda di tanah rantau, tentang misteri kapan waktu paling syahdu untuk jatuh cinta, dan tentang segala resah yang menyergap ketika jiwa mulai letih mempertanyakan takdir.

Maka, palumlah dahaga Elde. Dadanya buncah oleh rasa puas karena ritual obrolan jantan itu akhirnya tunai, tepat ketika matahari telah menggelincir jauh ke balik punggung bumi. Pertemuan sederhana namun sakral ini menjadi epilog yang sempurna bagi novel keluarga yang tengah ia raba liriknya—sebuah hikayat tentang keberanian mengambil pilihan dan keteguhan memikul tanggung jawab atas masa lalu. Biarkan hidup mengalir menuju muaranya, biarlah masa depan tetap menjadi rahasia yang mengasyikkan, dan biarkan jemari ini terus menari, mengabadikan remah-remah cerita yang telah lalu agar abadi dikenang dan menjelma menjadi guru terbaik kehidupan.

***

Naskah itu ditasbihkan dengan judul mentereng: “Rumah Singgah di Padang Lara”. Sebuah kolase dari rajutan kisah yang diikhtiarkan lahir dari rahim rumah ke rumah, berestafet dari generasi ke generasi. Di dalamnya, termaktub sebuah alegori agung tentang ‘RUMAH’ bagi seorang anak jantan perantau seperti Elde—bahwa sejatinya, atap dan dinding yang kini menaunginya adalah tempat yang suatu hari kelak harus ia ikhlaskan untuk dilepaskan. Sebab, hukum bagi kaum perantau akan selalu membisikkan kebenaran yang getir: bahwa setiap kali kita menuju pulang, kita bukan lagi bertindak sebagai pemilik sah rumah itu, melainkan hanyalah seorang tamu yang sekadar mampir demi menjemput remah-remah kenangan. Hikayat kisah Anun, kisah Datuk, Kakek dan Nenek, serta Ayah dan Ibu, adalah sebuah metafora rumah bagi Elde yang akan abadi melalui sebuah karya.

Kelak, ada masanya bocah-bocah ingusan ini—mereka yang hari ini masih sibuk mengeja buku sekolah, berjuang di bangku kuliah, atau tengah terseok-seok merintis nasib—akan memiliki bentang kehidupan mereka sendiri. Rumah lama yang penuh riuh ini niscaya akan sunyi ditinggalkan. Kisah-kisah berharga yang pernah merajai ruang tengah, lambat laun akan terdepak, tersisih di pojok ruangan yang sedingin es dan sesunyi kubur, tanpa ada lagi anak manusia yang sudi menghidupkannya kembali dalam ritus pertemuan keluarga.

Maka, di ambang lahirnya rumah dan cerita yang baru, mutlak hukumnya bagi kisah lama yang mulai berdebu di sudut pikiran itu untuk diabadikan lewat tulisan. Sebab, ketika raga kita kelak telah lebur ditelan bumi dan tak lagi mampu berkisah kepada anak cucu, setidaknya tulisan itulah yang akan berdiri tegak sebagai juru bicara tunggal, menjadi jembatan megah yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Persis seperti Pak Pri, yang dengan penuh takzim masih menyimpan lembar-lembar surat balasan dari sang kakek sejak tahun 1986 silam.

Kini, satu hari menjelang kaki melangkah kembali ke Ternate, sebuah mahakarya kecil telah tunai dan mewujud mantap dalam jilid hardcover berwarna hijau polos. Sampul itu begitu bersahaja, hanya memuat judul dan sebuah nama pena singkat: “Rumah Singgah di Padang Lara” Karya L. Sebuah inisial bersahaja yang dipinjam dari ketukan huruf pertama nama Elde (EL = L). Sebuah nama pena yang tidak neko-neko, sebab bagi seorang juru tulis sejati, perkara paling sakral dari sebuah tulisan adalah kedalaman isinya, bukan megahnya nama si penulis, apalagi menterengnya nama pena.

Dengan penuh khidmat, Elde meletakkan buku itu di rak lemari paling atas, berdampingan dengan barisan kitab bernuansa Islami koleksi sang ayah. Sengaja ia pajang buku itu tepat di tengah-tengah, menghadapkan seluruh bagian sampul depannya ke luar, menantang pandangan siapa pun yang melintas agar dengan mudah bersitatap dengannya.

Malam pamungkas sebelum Elde kembali melangkah ke tanah rantau bergulir dengan syahdu. Seperti ritual yang sudah-sudah, mereka berkumpul di ruang tengah, bersila di depan televisi sembari bertukar cakap ringan ditemani setangkup nasi dan lauk-pauk makan malam.

“Suatu hari kelak, andai buku ini berhasil bertahan hingga sepuluh generasi ke depan, salah seorang dari anak cucu pasti akan tertegun dan bertanya-tanya: Karya siapakah ini? Kisah tentang apa yang tertulis di dalamnya? Ditulis pada tahun berapa novel ini? Siapa sebenarnya tokoh-tokoh hebat di balik cerita ini? Dan mengapa judulnya harus 'Rumah Singgah di Padang Lara'? Mungkin, di masa depan yang jauh, pertanyaan-pertanyaan penuh selidik itulah yang akan menghampiri buku bersahaja ini. Yah, itu pun jika mereka diberkahi rasa ingin tahu yang besar untuk melacak dari rahim generasi seperti apa mereka dilahirkan dan takdir macam apa yang telah mendahului mereka di masa lalu,” Elde membatin.

Elde selalu penasaran seperti apa kisah dari generasi di atas kakek dan neneknya. Dari manakah mereka berasal, bagaimanakah mereka bertemu dan saling mencinta, serta apa kisah besar yang takkan pernah dilupakan oleh moyangnya dari tiga generasi terdahulu. Entahlah, secara kasat mata mungkin tidak terlalu ada gunanya menyelidiki kisah masa lalu, namun rasa penasaran itu menjelma rindu kepada orang-orang yang bahkan tidak pernah Elde temui di kehidupannya. Elde selalu merasa nyaman setiap kali mengobrol dengan orang tua renta di mana pun ia bertemu. Ia merasa memiliki ikatan batin, meskipun itu adalah pertemuan pertama mereka.

Barangkali, hipotesis mengenai Big Bang itu memang benar adanya: semesta bermula dari sebuah titik yang sangat padat, kemudian kehilangan massanya lalu meledak dan pecah membentuk realitas-realitas baru. Barangkali karena semua makhluk hidup dan benda mati ini dulunya adalah sebuah kesatuan, sebelum akhirnya terpecah belah menjadi miliaran bahkan triliunan bagian. Barangkali pula atom-atom punya ingatan ketika mereka masih berada dalam singularitas—bahwa mereka pernah bersama dalam kehampaan.

Carl Sagan pernah berkata, "We are a way for the cosmos to know itself" (Kita adalah cara bagi alam semesta untuk mengenal dirinya sendiri). Sederhananya, memandang bintang adalah cara terbaik bagi seluruh atom di tubuhmu untuk mengingat bahwa ia adalah bagian dari semesta yang sedang merindukan dirinya sendiri. Maka wajar jika perasaan rindu tiba-tiba menyergap bahkan tanpa tahu tertuju untuk siapa dan mengapa. Sebab, atom-atom yang telah berumur miliaran tahun di tubuh kita ini pernah menyatu dan telah menyaksikan pertemuan demi pertemuan dengan atom lainnya.

Untuk itulah, mungkin qadarullah menetapkan Elde untuk berkelana jauh ke sana. Sebuah perjalanan yang digerakkan oleh musabab perasaan aneh dan tak terelakkan; tentang rindu yang menyergap terlalu sembrono, bahkan untuk orang yang belum pernah menyatakan cinta kepadanya.

Dia kembali ke Ternate dengan oleh-oleh yang telah disiapkan jauh-jauh hari—bahkan sudah berkelindan di kepalanya sejak masih di dalam pesawat. Tak sabar hatinya ingin bertemu dengan Om kaya nan baik hati yang mengajaknya ke rumah setelah salat Idulfitri kemarin. Di dalam kepala, Elde menyusun kalimat ucapan terima kasih karena lelaki itu secara tidak langsung telah mempertemukannya dengan seorang nenek di kursi santai—sosok yang mengingatkannya pada anun-nya. Namun, semua itu hanya sebatas di kepala saja. Terasa aneh jika harus diutarakan langsung kepada seseorang yang hingga sekarang pun Elde tidak tahu siapa namanya.

Dan tentu saja, Elde tidak akan pernah lupa. Di dapur rumah megah itulah, ia berbenturan dengan sebuah alegori yang menyesakkan dada. Sebuah pemandangan getir yang memandunya melahirkan sebuah novel yang sarat akan sisa-sisa kisah pahit keluarganya di masa lampau: sesosok ibu dan anak yang terasing, sibuk memunguti dan mencuci piring di sudut dapur justru di tengah riuhnya pesta keluarga. Novel itu kini telah purnacetak, bersanding tenang di lemari buku sang ayah.

Satu minggu berselang setelah kepulangannya ke Ternate, sebuah peristiwa ganjil memecah kesunyian. Gawai Elde tiba-tiba bergetar, menampilkan nama sang ayah di layar. Itu adalah fenomena langka, sesuatu yang bahkan belum pernah terjadi seumur hidup Elde. Sebab bagi keluarga mereka, jika sang ayah yang berinisiatif menelepon terlebih dahulu, itu adalah maklumat bahwa sesuatu yang teramat genting sedang terjadi.

Seketika itu juga, sekelebat firasat buruk menghantam dada Elde bak hantaman gada. Dering notifikasi telepon itu terus berdenyut-denyut di atas meja kerjanya, seolah menjelma menjadi detak jantung yang memburu. Elde meneguk ludah dengan susah payah, mengais sisa-sisa keberanian di dasar sukmanya demi mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terpahit apa pun yang akan meluncur dari seberang telepon.

 “Halo ...,” sapa ayahnya.

“Halo ....”

“El, Ayah sudah baca novelmu. Bagus,” ujar Ayah, senyum bangga tersungging di wajahnya, “Meskipun ada beberapa salah ketik, secara keseluruhan Ayah sangat suka gaya berceritamu. Coba kirimkan ke penerbit, siapa tahu lolos.”

Sekonyong-konyong, lelaki tua itu datang membawa sebungkus dukungan yang hangat. Elde terpaku, menerka-nerka dalam hati: apakah ini wujud apresiasi murni karena tulisannya memang memesona, ataukah sekadar siasat canggung dari seorang ayah yang sedang belajar cara berbasa-basi kepada anak jantannya? Barangkali, karena sejak dulu beliau tak pernah tahu bagaimana cara merajut percakapan mendalam dengan darah dagingnya sendiri, telepon ini menjadi lompatan pertama. Ya, begitulah Elde menebak-nebak arah angin.

“Emmm, mungkin El akan pertimbangkan,” sahut Elde.

Sekitar dua bulan sejak kepulangan Elde ke Ternate, sebuah nomor tak dikenal tiba-tiba berdenyut di layar ponselnya. Saat itu, Elde sedang khusyuk memandangi riak air, memancing di kolam belakang rumah om kaya yang sekarang ia ketahui namanya Pak Burhan. Nama itu ia dapati setelah mulai akrab dengan bapak-bapak yang setiap malam bermain gaplek di pangkalan ojek persis di depan rumahnya.

“Ini Pakwo! Apa maksud kau mengarang cerita macam itu?! Seakan-akan aku ini anak durhaka! Tahu apa kau tentang riwayat masa lalu aku?!” Suara di seberang sana menyalak, memutus keheningan siang.

Lidah Elde seketika kelu. Pikirannya berputar cepat bak gasing. Sekonyong-konyong, sosok nyata yang menginspirasi ceritanya menelepon dan mendampratnya dengan nada tinggi. Bagaimana mungkin cerita yang telah ia bikin samar—sesamar suara penjual bakso boraks di televisi—bisa langsung ditafsirkan dengan tepat oleh tokoh aslinya sendiri? Kalimat tajam nan menghujam itu makin lama makin menyalak garang di telinga Elde. Tak satu pun kata sempat keluar dari mulutnya sebagai pembelaan terhadap karya yang telah ia ciptakan.

Pakwo terus menyerocos, sedangkan Elde hanya diam mematung sambil menatap riak air. Bahkan, tak ia hiraukan joran pancing yang turun-naik itu, sebab seluruh tubuhnya seolah tertancap ke dalam tanah gambut berviskositas tinggi. Sekelebat pikiran muncul di kepala—sebuah rencana brilian demi mengelabuhi Pakwo yang omelannya lebih deras ketimbang Sungai Musi. Sebagai orang Rejang, sudah menjadi tabiat bawaan semacam setelan pabrik bahwa mereka memiliki sindrom yang disebut "nggak enakan". Maka dengan cara elegan nan cerdas, Elde pura-pura tergagap menirukan bunyi suara ketika jaringan ponsel sedang jelek.

“Aff ... su ... ra ... wo ... tus ... tuss ... nanti tel ... pon ... gi,” (Maaf Pakwo, suaranya putus-putus nanti telepon lagi).

Setelah memutuskan panggilan, segera ia matikan data seluler. Ia tarik joran yang melengkung dari tadi. Air muka yang sebelumnya keruh berubah segar, penuh harap akan ikan apa yang bakal masuk ke wajan penggorengan malam ini. Namun, malang nasib hinggap pada Elde sore itu. Bukan ikan yang menelan kail, melainkan seekor kodok seukuran tempurung kelapa. Elde mengangkat joran pancing, mendekatkan kodok malang itu ke wajahnya sambil menggeleng pelan dengan raut kesal.

“Ah, kodok sialan. Lebih baik aku pulang,” gerutunya.

Matahari telah jatuh dan bulan telah bangkit. Elde berbaring di balkon kosan sambil menatap bulan sabit yang tepat berada di atas kepala. Ia membayangkan apa yang terjadi di rumah sana sore tadi, hingga Pakwo tanpa angin tanpa hujan mendampratnya dengan nada tinggi—yang Elde sendiri pun mampu membayangkan urat seukuran akar kelapa menyembul dari leher hingga jidat Pakwo.

“Lima belas menit lagi ...,” gumamnya pelan, sebagai patokan Elde untuk menghidupkan data seluler.

Sembari menunggu, ia membayangkan rentetan pesan panjang kali lebar telah masuk memenuhi kolom percakapannya. Barangkali segala nama hewan telah mendarat di gawainya: anjing, babi, siamang, burung berbak, kucing garong, kuda liar, dan segala macam kalimat orang yang telah dibutakan oleh amarah.

Lima belas menit pas, ia memberanikan diri menghidupkan data seluler. Dan, jeng, jeng, jeng ... notifikasi dari sebuah nomor yang tidak ia kenal berjibun saling tumpang tindih pada layar ponselnya. Syukur, tak ada nama-nama hewan yang ia lihat; apa yang barusan berkelindan di benaknya terbukti tidak benar. Namun tetap saja, Pakwo menyemprotkan umpatan-umpatan lain yang lebih sakit ketimbang sebutan ‘anjing’ atau ‘babi’, yakni kata ‘kurang ajar’.

“Seperti tak disekolahkan mulutmu. Selain tamak, rupanya satu keluarga kalian tak beradab dan suka menjelek-jelekkan orang,” begitu salah satu dampratnya. Dan itu terasa lebih tajam daripada sembilu mana pun di muka bumi.

Selain itu, ada sepuluh panggilan tak terjawab dari Bu Tin, dan pastilah ada hubungannya dengan semua ini. Elde paham betul pembahasan macam apa yang bakal terjadi. Setiap kali bicara tentang Pakwo, masalah yang dibahas itu-itu saja, dan makin hari percakapan mereka justru makin mempertebal masalah.

Hanya selang tiga detik setelah dihubungi, Bu Tin langsung mengangkat telepon dari Elde.

“Dari mana saja, baru aktif sekarang?” Hawa kesal Ibu tercium              radius 4.147 km.

“Maaf, Bu. Sengaja El matikan data seluler untuk menghindar dari Pakwo. Ada apa di rumah, Bu?”

“Pakwomu kumat lagi.”

“Hmmmm,” Elde hanya menghela napas panjang.

Sudah jadi hal biasa, namun tak pernah lagi mereka melihat Pakwo meradang setelah terakhir kali pada hari ke-40 Anun meninggal—sebuah peristiwa memalukan hinggap pada hari berkabung itu. Sesuai dengan wasiat Anun sebelum wafat, sudah seadil-adilnya beliau membagikan semua harta kepada ketiga anaknya. Tak terkecuali Pakwo, ia pun mendapat bagian yang sama sebelum menikah untuk kedua kalinya.

Malam itu, ketika ustaz tengah ceramah mengisi acara takziah hari ketiga Anun, Bu Tin memanggil Pakwo dan Makdang masuk ke dalam kamar. Ia mengeluarkan tas dari lemari tua milik Anun, kemudian menghamburkan segala isinya yang terdiri dari perhiasan-perhiasan yang terbuat dari emas dan perak. Perhiasan itu sengaja Anun simpan hanya sebagai tabungan, sehingga tak pernah beliau kenakan kecuali kalung emas yang modelnya serupa butiran nasi biryani.

Sebagai anak bungsu, Bu Tin membagikan perhiasan itu secara rata kepada Pakwo dan Makdang. Bu Tin sendiri cuma mengambil kalung yang biasa hari-hari Anun kenakan sebagai kenangan, agar selalu dekat dengan hati setiap kali Bu Tin memakainya. Pikir Bu Tin, bakal tuntas segala urusan warisan dan wasiat. Sebab, Makdang tak ada celah untuk iri karena ia pun mendapat warisan berupa tanah dari Anun. Pakwo pun demikian, sudah menerima segala pemberian Anun saat ia masih muda, dan nominalnya pun melebihi harga tanah yang Makdang dan Bu Tin miliki pada masanya.

Namun, rupanya belum tuntas. Setelah Bu Tin berbesar hati membagikan segala peninggalan perhiasan Anun kepada Pakwo, pada acara empat puluh hari meninggalnya Anun, Pakwo kembali menyarankan supaya Bu Tin menjual sawah dan kebun untuk kemudian hasilnya dibagi-bagikan lagi. Lantas Bu Tin menolak dengan cara paling halus, menjelaskan segalanya bahwa setiap dari mereka bertiga telah menerima warisan seadil-adilnya dari Anun.

Namun sayang seribu sayang, amarah Pakwo meledak saat itu juga. Orang-orang yang masih mahsyuk menyantap lontong sayur acara ke-40 hari Anun harus berhenti sejenak untuk menyaksikan Pakwo yang telah berontak dan mengacungkan jari telunjuk tepat di wajah Ibu. Pak Pri yang takbanyak bicara langsung naik pitam, mencengkeram kerah baju Pakwo dengan kasar—sebab pastilah ia tak terima sang istri diperlakukan demikian.

Orang-orang mulai berkerubung memisahkan Pak Pri dan Pakwo yang hampir saja saling melepaskan pukulan. Sungguh memalukan sekali. Ibu-ibu tamu undangan saling berbisik samar, dan Elde sendiri mendengar salah seorang dari mereka berkata, “Belum kering kuburan ibu kandung, bisa-bisanya sudah ribut masalah warisan.”

Elde yang mendengar hal itu langsung menatap sinis ke arah mereka, membuat ibu julid tersebut langsung membuang pandangan.

***

Barangkali sebab kedua anak laki-lakinya sekarang telah di ujung masa SMA dan memerlukan setumpuk uang demi melancarkan mimpi menjadi polisi dan tentara. Maka, Pakwo sudah menetapkan jika harga sawah dan kebun masing-masing bisa untuk kedua anaknya—sebagaimana kebiasaan orang-orang kampung yang tak ragu menjual sawah dan kebun demi sang anak berhasil menjadi abdi negara. Merupakan ikhwal normal bahwa orang udik di kampung ini menjadikan seragam sebagai kriteria kesuksesan.

Setelah kejadian itu, barang sekalipun tak pernah lagi Pakwo menginap. Sesekali dia datang, sekitar empat hingga enam bulan, dan tak lain hanya untuk membujuk Bu Tin. Kejadian malam empat puluh hari seolah menyublim dengan hening. Tanpa sepatah kata maaf, mereka bisa kembali berbincang tanpa urat leher mengencang ketika bertemu kembali. Setiap kali membahas masalah warisan, Bu Tin selalu berhasil membelokkan percakapan supaya Pakwo berhenti membahas persoalan yang tak pernah ada habisnya itu. Namun hari ini, tak berhasil rupanya Bu Tin meredakan gejolak serakah yang sekarang menjelma bagai api yang centang-perenang berkobar di rumah itu.

Setelah berbincang di ruang tamu, sejenak Bu Tin ke belakang untuk menggoreng singkong dan menyiapkan seteko sirup jeruk dingin, berharap supaya bisa mendinginkan hati Pakwo yang selalu berkobar panas dalam repetisi dialog yang tak kunjung usai selagi kedua anaknya belum menjadi polisi dan tentara.

Demi membunuh rasa bosan dalam penantian limun, Pakwo berjalan ke arah lemari. Matanya terkunci pada sampul buku berwarna hijau nan mentereng, sebab posisinya persis di tengah-tengah rak paling atas. Kemudian ia baca. Entah apakah karena bakat seorang penerawang atau ahli sastra, Pakwo yang sedari lama memelihara jenggot panjangnya, sore itu bak terbakar semua jenggotnya. Ia langsung sadar jikalau salah satu tokoh dalam buku itu adalah dirinya. Ia merasa segala adegan besar dalam hidupnya tertuang dalam buku itu, terlebih tentang dia yang merengek minta dikawinkan padahal ia sendiri belum tamat SMA.

Lihat selengkapnya