Empat tahun tujuh bulan delapan hari hubungan itu berjalan. Tak satupun lagi keinginan Merinda selain segera menikah. Namun sayang beribu sayang, hubungan meski berakhir di ujung cerita sebab lelaki tersebut belum siap untuk menikahi Merinda. Setiap kali Merinda menagih, selalu Ia meminta Merinda untuk sabar, sebab, memanglah Ia siap secara finansial namun belum siap secara mental. Katanya, bukan penikahan yang ia takutkan melainkan sebuah perceraian.
Ketakutan itu muncul sebab lalu lalang manusia mengadukan kisah percintaan mereka. Sebagai psikiater, beragam masalah orang telah ia dengarkan dan pelajari, namun paling berat ia tangani adalah masalah perceraian. Karena ia sendiri adalah korban dari perceraian. Sejak umur tujuh tahun orang tuanya berpisah dan ia mesti kehilangan perhatian dari sang ayah. Ibunya terlalu keras mendidiknya, pagi siang malam belajar hingga tak ada waktu lagi bermain dengan teman-temannya. Ia pun tahu maksud dari ibunya yang sedemikian keras mendidiknya, sebab tak ingin anak semata wayangnya gagal di masa depan, dan sekaligus membuktikan bahwa ia bisa mengurus anak sendirian tanpa bantuan dari suami. Itulah yang menjadi alasan lelaki itu belum bisa memberikan kepastian akan hubungan ini walaupun sudah berjalan empat tahun hubungan mereka.
Merinda pun tak ada lagi tujuan hidup selain menikah, sudah cukup baginya menjadi dokter umum, terlalu penat katanya jika mau mengambil pendidikan dokter spesialis. Yang ia mau sekarang hanya menikah.
***
Sempat limbung malam itu setelah Elde tahu Merinda sudah ada yang punya. Sibuk sekali pikirannya menerka apa yang bakal ia lakukan lagi setelah ini sebab, takut jika ia tak bisa memasang mimik muka biasa-biasa saja kalau suatu saat nanti ia bertemu dengan pacar Merinda tengah apel malam di rumah itu. Makin lagi, kalau memang hubungannya dengan Merinda makin dekat walau hanya sebatas sahabat apakah mampu ia menahan rasa ingin memiliki?
***
Setelah pertemuan ketiga itu, maka beranjaklah topik mereka ke arah percintaan. Makin sering mereka bercakap melalui gawai, sesekali menelepon dan membahas tentang segala hal pasal percintaan. Merinda meminta saran kepada Elde tentang perasaannya itu, sedangkan Elde berpura-pura bijak menanggapi segala pertanyaan. Merinda selalu bercerita tentang keraguannya namun harapannya lebih besar sebab sudah lama hubungan mereka telah terjalin. “Lelah aku El, untuk kenal orang baru lagi.” Barangkali sudah 27 kali kalimat itu meluncur dari bibir Merinda yang tipis itu.
Setiapkali Merinda menelepon dan mencurahkan segala isi hati, Elde selalu menarik nafas panjang untuk mempersiapkan segala kalimat yang akan Merinda lontarkan, sebab kebanyakan curahan hati tersebut berisi harapan daripada keraguannya terhadap Najamudin Sp.Kj dokter spesialis kejiwaan itu.
Terkadang ada pula waktunya ia menggunjing lelaki itu kepada El, Merinda mengatakan bahwa tak punya pendirianlah, pemain hatilah, membuang waktunyalah, segala hal ia sebutkan demi mengucapkan kekesalan kepada lelaki bernama Najamudin Sp.KJ itu.
Belakangan Elde ketahui dari penuturan langsung Merinda bahwa, lelaki itu ternyata adalah seniornya waktu SD, beda enam tahun. Lalu bertemu lagi ketika SMA saat Merinda mengantar temannya ke rumah sakit. Bertukar nomor ponselah mereka lalu tak lama setelah Merinda masuk PTN dan lulus sebagai mahasiswa kedokteran mereka akhirnya menjalin hubungan. Najamudin lah yang sebagai inspirasi Merinda untuk menjadi dokter dan Najamudin lah yang menjadi pengajar sampingan ketika Merinda kesulitan dalam mempelajari mata kuliah. Dari nada bicara dan pilihan kalimat yang Merinda sampaikan lewat telepon pun Elde tahu, bahwa awal dari hubungan mereka adalah kekaguman dan berakhir pada cinta.
Merinda bingung kepalang terhadap Najamudin yang tak mau menikah padahal sudah berusia 31 tahun. Alasannya tak cukup kuat baginya sebab, tak masuk logika seorang dokter spesialis jiwa yang telah menangani ribuan pasien jiwa yang kebanyakan terkena penyakit jiwa akibat cinta itu malahan takut untuk menghalalkan kisah cinta mereka. Mengapa malah takut menikah, mengapa malah takut perceraian kalau dia sendiri sudah terbiasa untuk memberikan solusi bagi mereka yang tengah terombang-ambing jiwanya karena masalah percintaan.
Setiapkali hubungan mereka retak, Merinda akan meminta waktu Elde untuk mendengar keluh kesah hubungan mereka. Kadang dengan nada kesal, kadang dengan nada suara pasrah sebab tak ada kepastian padahal hatinya sudah tertancap dalam kepada Najamudin, kadang juga ia menangis sedu sedan mengadukan Najamudin yang acuh kepadanya. Elde tak bisa apa-apa selain menenangkan Merinda, sebab, tak ada satupun kalimat yang bakal mengubah keputusan Merinda untuk tetap bertahan terhadap ketidakpastian. Sebab ia pun pernah menyarankan Merinda untuk mencari lelaki lain yang bisa mewujudkan keinginannya. Namun hasilnya selalu sama saja, Merinda bakal setuju akan membuka hatinya untuk yang lain dan melepaskan Najamudin perlahan, namun seminggu kemudian ia kembali kepada Elde untuk mengadukan nasibnya yang bagai biduk yang terombang-ambing di tengah alun laut samudra. “Tak ada pendirian sama sekali sebagai lelaki. Kamu jangan seperti dia, ya.” Ucapnya kepada Elde dengan suara parau akibat sisa tangis. Lha, malah tiba-tiba diajari, gumam elde dalam hati, namun Elde hanya menunduk takzim.
Paling tidak sebulan dua kali Elde mendengar tangis Merinda akibat sebab yang sama, hatinya makin lama makin lapuk dengan hanya mendengarkan keluhan penyakit yang Merinda derita padahal setiap Merinda bercerita Elde selalu merasa naik-turun bak di dalam wahana rollercoaster, kadang ia merasa ada harapan untuk bisa jadi pengganti lelaki itu, kadang ia menyusut ketika Merinda memantapkan dirinya untuk akan selalu menunggu sampai kapan pun lelaki itu siap.
Hingga pada Desember, langit malam yang benderang karena cahaya bintang dan bulan, seketika mendung membawa guntur, Muson barat bertiup kencang serta bulan purnama terdingin di tahun ini jatuh pada malam itu.
Sudah satu semester Elde hanya jadi pendengar yang baik bagi Merinda, seseorang yang memberi semangat atas keputusan untuk tetap bertahan meski hati Elde sendiri semakin layu tiap kali berpura-pura bijak dan memberi dukungan kepada Merinda.
Satu semester bersama Merinda itu, Elde lebih mirip seonggok pohon beringin di tengah padang luas, yang hanya diam sembari menunggu seseorang datang untuk duduk di bawah naunganya. Kemudian orang itu mencurahkan segala isi hatinya yang terbuat dari 98% keresahan dan 2%-nya lagi untuk sisa-sisa tenaga demi hari esok melanjutkan perjalanan penuh harapan yang hampir layu itu.
Malam-malam Elde bertarung dengan pikirannya sendiri tentang bagaimana cara menghadapi Merinda yang sudah enam bulan ini hanya mengeluhkan nasibnya, memangnya tak ada sedikitpun terbesit di kepalanya untuk tahu isi hatiku?
“Bukankan seharusnya Merinda mempertanyakan, siapakah pacarku? Atau, saat ini siapa perempuan yang sedang ku dekati? Supaya nanti aku bisa jawab “Tidak ada” kemudian Merinda bertanya kembali “Kenapa tidak cari pacar” lalu Aku jawab, Sebab aku menunggumu.” Kemudian ia tersipu dan kami pun akhirnya jadian. Khayalan seperti itu berkelindan di kepala Elde hingga membuatnya senyum-senyum sendiri di kamar kosnya. Namun faktanya, hingga detik ini Elde tidak pernah merealisasikan khayalan percakapan itu kepada Merinda.
Meskipun sakit, hati Elde bisa segar kembali. Sebab pada pertemuan terakhir, di penutup percakapan mereka, Merinda membasuh air matanya lalu tersenyum kepada Elde dan berkata, “Kamu sudah seperti kakakku sendiri, hanya kamu yang bisa mengerti aku. Bahkan aku tidak pernah bercerita sedalam ini kepada orang lain. Kau sudah seperti rumah bagiku.”
“Kau sudah seperti rumah bagiku.” Begitulah ucapan Merinda kepada Elde saat mereka mengobrol di tepi Pantai Falajawa malam itu—setelah Merinda menangis sedu-sedan merindukan lelaki yang tak lagi ada kabar selama sebulan penuh, setelah Najamudin memutuskan hubungan mereka setelah empat tahun lebih berpacaran.
Malam itu penuh kontradiksi. Merinda sedang berada di puncak kemalangan, sedangkan Elde menemukan secercah kesempatan ketika Merinda berkata, “Kau seperti rumah bagiku.”. Sepulangnya dari pertemuan, bukan main senangnya Elde.
Apakah semua ini akan berbuah manis setelah enam bulan bertahan dalam diam, setiap kali mendengar Merinda berkeluh kesah tentang seorang pria bernama Najamudin itu?
Apakah kalimat bijak penuh kedewasaan dan kearifan yang selama ini dilantunkan demi memperkuat hati Merinda, berhasil melabuhkan dirinya pada pelabuhan hati wanita itu?
Elde makin terngiang-ngiang pada senyum teduh Merinda. Meski baru saja menangis, tak terlihat kuyu sedikit pun wajah anggunnya. Paras itu justru tampak semakin indah ketika sisa air mata tulus di sudut bibir telah mengering, tersapu udara asin yang dibawa angin laut.
Rumah...
Rumah, bukan lagi tentang dinding dan atap
Bukan pulah tentang kucing yang menetap
Sejak jemari saling mendekap
Rumahku adalah matamu yang menatap
Sejauh apapun kaki melangkah pergi
Menembus riuh, lelahnya hari
Kepadamu aku selalu ingin kembali