RUMAH SINGGAH DI PADANG LARA

L DARMA
Chapter #14

MASALAH AKAN BERLALU : BERLALU-LALANG

Segala sudut Kota Ternate telah mereka berdua lalui. Sekian bulan setelah Merinda putus, Eldelah yang setia menemani gadis itu menyusuri setiap jengkal kota kecil ini demi melupakan kekecewaan kepada lelaki dari masa lalunya. Elde makin sering membuat Merinda tertawa, bahkan untuk hal paling receh sekali pun. Namun, makin sering Merinda tertawa, makin dalam pula Elde jatuh hati. Ia pun makin yakin bahwa saat untuk menyatakan perasaannya sudah sangat dekat.

Satu bulan menjelang bulan suci Ramadan, jika kebetulan sama-sama tidak mendapat giliran kerja malam, mereka pasti akan jalan-jalan; menjejakkan kaki di setiap sudut kota. Kafe-kafe baru, pantai baru, dan yang pasti, pasar malam. Tak bosan mereka menaiki bianglala di pasar malam itu meski ini sudah yang keempat kalinya.

Elde tahu betul bagian yang paling Merinda suka: ketika sangkar besi itu berada di posisi paling atas, lalu mesinnya berhenti berputar sejenak. Dari ketinggian itu, mereka bisa melihat megahnya tubuh Gunung Gamalama yang dipenuhi kerlip lampu rumah warga—tampak seperti ribuan kunang-kunang yang sedang mendaki menuju puncak. Elde sudah membuat rencana; pada kali kelima mereka naik bianglala nanti, ia akan mengutarakan seluruh isi hatinya.

“El, tampaknya selama Ramadan nanti aku tidak akan keluar malam lagi,” ujar Merinda tiba-tiba.

“Iya, soalnya kita harus tarawih, kan?” balas Elde.

“Bukan karena itu.”

“Lho, jadi? Apakah selama Ramadan kamu dapat sif kerja malam terus?”

"Tunggu dulu, aku belum selesai ngomong.”

“Maaf, maaf. Silakan dilanjutkan.”

“Aku tetap merasa kosong. Meski pun aku berusaha untuk menghibur diriku, tetap saja aku merasa ada yang hilang. Aku merasa lelah dengan hidup ini. Kau tahu lah kenapa, aku berusaha untuk tidak memikirikannya lagi, tapi empat tahun bukan waktu yang sebentar.”

Mesin bianglala kembali berputar.

“Jadi, apa hubungannya dengan tidak keluar malam?”

“Aku mau latihan sendirian. Aku takut ketergantungan dengan seseorang. Aku merasa terlalu bergantung kepadanya, sehingga saat ia tidak ada lagi, aku sulit untuk menjalani hidup dengan normal.”

Hmmm... Elde secara tak sadar menghela napas panjang—sebuah helaan yang kemudian disadari oleh Merinda.

“Kenapa, El?”

“Tidak ada apa-apa.”

Lalu keheningan jatuh di antara mereka, mengunci percakapan hingga akhirnya mereka pulang.

Setelah itu, mereka pulang ke tempat masing-masing. Biasanya mereka melanjutkan obrolan melalui ponsel, namun malam itu tidak ada kelanjutan percakapan apa-apa lagi. Elde ragu untuk memulai, sebab baginya malam itu Merinda telah menyampaikan pesan tersirat bahwa ia ingin sendirian. Elde menghargai keputusan itu. Dan benar saja, bahkan ketika Elde mengunjungi rumah Om Burhan untuk melakukan rutinitas mencuci kandang burung atau memancing di kolam ikan belakang rumah, ia tak pernah lagi menemukan Merinda bertengger di balkon.

Lihat selengkapnya