RUMAH SINGGAH DI PADANG LARA

L DARMA
Chapter #15

RUMAH SINGGAH DI PADANG LARA

Pada hari kedua Lebaran Idulfitri, banyak tetangga yang menawarkan rumah mereka sebagai tempat tinggal sementara sampai rumah keluarga Elde dibangun kembali. Namun, keluarga Elde memilih untuk tinggal di pondok sawah milik mereka sendiri. Ada rasa tak enak hati jika harus menumpang di rumah orang; akan ada banyak hal yang mengganjal dan memicu rasa canggung setiap kali harus bergerak atau melakukan apa pun.

Bagi mereka, pondok sawah itu sudah lebih dari cukup untuk dijadikan tempat berteduh sementara waktu. Pondok berukuran 5x4  meter itu memiliki model seperti rumah panggung dengan dapur kecil di bagian belakang. Toilet sama sekali tidak diperlukan, sebab di sisi kiri pondok terdapat siring irigasi yang mengalir.

Orang-orang dusun hingga sekarang memang masih gemar buang air besar di sungai ataupun siring irigasi. Bagi orang kota yang belum pernah merasakannya, kalian mesti tahu bahwa ada kenikmatan tersendiri dari ritual ini. Suasana membuang hajat terasa jauh lebih tenang karena ditemani bunyi aliran air yang ritmis. Rasanya pun jauh lebih higienis sebab air mengalir langsung membasuh lubang pengeluaran tepat ketika benda tersebut meluncur jatuh.

Prosesnya mirip seperti wahana perosotan air. Bahkan, beberapa orang dengan khusyuk akan memandangi benda padat tersebut ketika hanyut terbawa arus—seolah sedang meratapi bagian dari hidup mereka yang telah pergi. Lain lagi ceritanya jika yang keluar berbentuk cair seperti bubur; itu adalah berkah luar biasa bagi ikan-ikan kecil yang bersarang di bagian hilir. Serbuk kuning yang bertaburan hanyut beserta sisa sayur kangkung yang belum tercerna dengan sempurna, mendadak menjadi tambahan gizi bagi ekosistem sungai.

Sesungguhnya, segala sesuatu di kehidupan ini selalu memiliki sisi kebaikan, tergantung dari perspektif mana manusia memandangnya.

***

Elde memandangi lahan yang nyaris rata dengan tanah. Kayu kusen dan pintu rumah telah menjadi abu dan beberapa di antaranya masih menyisakan arang. Ia berjalan menyusuri puing-puing rumahnya, ditemani sang adik yang masih mengais sisa-sisa lemari baju dan meja belajarnya. Elde berjalan menuju ke bekas kamarnya—yang sekarang tanpa atap dengan cat dinding terkelupas dan menghitam gosong seperti kulit ubi bakar. Tak ada lagi yang tersisa, selain kenangan masa lalu.

Kelopak matanya terasa pedih, mendesak ingin segera menumpahkan segala kesedihan yang telah menumpuk terlalu lama. Namun, di sana masih ada adiknya yang baru menginjak kelas enam SD. Sebagai seorang anak sulung, ia merasa mesti menampakkan sifat yang tabah nan kuat, terlepas dari fakta yang ia ketahui sendiri bahwa tidak ada manusia yang benar-benar kuat di muka bumi ini.

Teman-teman sekampungnya juga berada di sana, menemani Elde yang sejak tadi menatap nanar sisa-sisa kebakaran dua hari yang lalu. Satu hal yang masih bisa ia syukuri saat ini adalah, ia akhirnya bisa pulang meskipun pada hari pertama Lebaran kemarin terpaksa absen karena kehabisan tiket.

Lihat selengkapnya