Blurb
Alana selalu menjadi anak yang "harus mengerti."
Mengerti saat ibunya lebih memprioritaskan saudara perempuannya.
Mengerti saat sang ayah tiri menuntutnya untuk menjadi sempurna.
Mengerti saat kemarahan yang terluapkan pertanda ia harus menerima.
Dan mengerti bahwa dalam keluarganya, perasaannya sendiri tidaklah penting untuk diutamakan.
Amarah, kecewa, dan rasa kehilangan yang terus terbayang sejak ayah kandungnya pergi pun membuatnya terbiasa untuk menahan diri.
Satu-satunya tempat yang membebaskan dia dari jeratan luka tersebut hanyalah rumah pamannya. Di rumah sederhana itu, Alana bisa bercerita tanpa takut diabaikan. Alana bisa mengungkap semua yang dirasa tanpa takut dihakimi. Juga tak luput dari kasih sayang dan kebaikan yang selalu diberi.
Di sana pula dia bertemu Nathan. Seorang mahasiswa yang hangat dan penuh ketulusan, kerap kali membantu ketika Alana menemui kesulitan.
Namun, kenyamanan itu tidak serta merta bebas untuk Alana dapatkan. Orang tuanya selalu mengawasi dan mengarahkan tempat kemana dia harus pergi.
Jika seperti ini, akankah Alana bisa terus menampung kesabaran dan menyerah untuk memenuhi harapan orangtuanya? Atau mengerahkan keberanian diri agar terbebas dari kekangan dan segala macam yang membuatnya jauh dari kata bahagia?