Rumah Singgah Untuk Alana

nisafaza
Chapter #1

1. Salah Sasaran

Secarik kertas terekat sempurna di papan majalah dinding. Berisikan daftar nilai yang menarik atensi para siswa dan rasa penasaran mereka pada perolehan angka hasil ulangan terakhir. Wajah-wajah ceria didapati ketika angka tersebut melebihi batas minimum rata-rata. Tak sedikit pula yang menunjukkan ekspresi murung begitu mengetahui harus mengulang dan memperbaiki dalam pengerjaan soal.

Berbeda dengan Alana Radiva Putri, satu-satunya siswa yang enggan bereaksi saat kerumunan itu menghalangi jalannya di koridor. Tidak terbesit setitik pun rasa ingin tahu. Karena dia sendiri sudah hafal, bahkan bisa menebak skor yang dia peroleh.

Sembari meremat kedua tali ransel di bahu, derap kakinya bergerak hendak melewati. Sampai tiba-tiba suara familiar berseru di tengah keramaian memanggil namanya, Alana mengurung langkah.

"Alana!"

Gadis itu menoleh. Mendapati teman sebangkunya bernama Jinandra tersenyum lebar. Melambaikan tangan, mengisyaratkan untuknya mendekati mading. Antusias laki-laki itu membuat siapa pun mengira kalau dirinya hendak memberi kabar baik.

"Hebat banget, woy. Ada peningkatan!" serunya lagi. Kali ini sedikit menarik Alana masuk ke dalam kerumunan.

Rasa penasaran bercampur heran itu mendadak hinggap. Bola mata Alana menelusuri tiap deretan nama. Namun detik setelahnya, dia menghela napas.

Apa yang dikatakan Jinan benar. Ada peningkatan. Naik satu tingkat dari kolom baris terakhir. Dengan kata lain, nilainya terendah nomer dua dari bawah.

Jinan tertawa keras. Merasa senang berhasil menjahili Alana yang kini melempar tatapan kesal. Lantas mengikutinya berjalan kembali menyusuri koridor, menuju parkiran.

"Kan, bener ada peningkatan. Biasanya kamu paling bawah. Ini keren banget lho, ada di atasku."

Ucapan Jinan seperti kicauan burung di telinga Alana. Tidak ada yang bisa dibanggakan, kenapa laki-laki ini justru merasa pencapaiannya patut diapresiasi?

"Tetep aja remidi," tanggap Alana.

Jinan terkekeh menggaruk tengkuk. "Iya sih."

Seakan sudah terbiasa dengan hasilnya. Tidak sedih atau pun marah pada diri sendiri, mereka justru tidak menjadikan nilai itu sebagai beban. Minusnya, tidak ada keinginan mengejar ketertinggalan. Jika harus mengulang, tinggal ikuti alurnya saja. Begitu isi pikiran kedua bocah sefrekuensi yang kelewat santai ini.

"Tapi kalo misal, misal nih ya, kalo minta bantuan Karin buat ngajarin kita, gimana?" kata Jinan sambil menaik-turunkan alisnya penuh maksud. Iris matanya bergerak memandang satu gadis cantik peraih nilai tertinggi seangkatan yang kini memasuki mobil jemputan dari kejauhan sana.

Pikir Alana, mustahil Jinan ada niatan untuk belajar. Lantas apalagi kalau bukan cari kesempatan demi pendekatan?

"Bagi nomernya dong, La," pinta Jinan.

Tuh, kan.

"Nomer siapa?" Alana pura-pura tidak mengerti.

"Nomer Karin lah! Masa nomer you."

"Nggak punya."

Lihat selengkapnya