Sebuah pertanyaan mengambang begitu saja di telinga Alana. Pikirannya mengajak fokus, tapi kalah dengan hiruk-pikuk dalam kepala akibat gerak spontan yang baru saja ia lakukan. Dan itu benar-benar membuatnya terselimuti rasa malu luar biasa. Alana sibuk merutuki kebodohannya. Sampai sepatah kata demi melontar jawaban pun tak kunjung ia suarakan.
Kalau diamati sekilas, postur tubuh pemuda di hadapannya ini tidak jauh beda dengan Yudha. Bahkan dari model rambut dan cara berpakaian pun hampir sama. Tidak heran siapa saja yang melihat akan terkecoh jika menilik dari sisi belakang, termasuk Alana. Tapi, bagaimana bisa dia seceroboh itu? Baru kali ini Alana menyesali kebiasaan buruknya yang sering bergelayut dan bertengger semena-mena pada Yudha.
Alana tidak tahu harus bereaksi, selain mengucap satu kalimat yang susah payah ia loloskan dari mulutnya.
"M-maaf, tadi nggak sengaja, aku kira Om Yudha," ucap Alana terbata. Gugup bercampur takut menunggu respon.
"Jadi ... nggak ada di rumah?" tanya laki-laki itu memastikan. Masih dengan rasa ingin tahu ada tidaknya keberadaan Yudha, tanpa menanggapi perkataan Alana. Lalu tangannya terulur menyerahkan sesuatu yang terbungkus kantong plastik. "Tolong kasih Mas Yudha, bilang dari Nathan."
Bergerak kaku gadis itu menerima. Dia menunduk, mendadak tidak berani menatap lawan bicaranya. Lalu menjawab dengan suara pelan. "Nanti aku sampein, terima kasih."
Masih pada pandangan lurus ke bawah, Alana bisa melihat sepatu yang dipakai laki-laki itu tetap di posisinya, tidak bergegas untuk pergi. Hanya diam, tidak ada lagi suara yang terlontar. Keheningan itu memicu keberanian Alana untuk mendongak. Menatap kembali netra yang sejak tadi memperhatikannya.
"Lain kali hati-hati, jangan sampe salah orang."
Singkat, tapi berhasil memantik niat Alana untuk menghilang dari bumi. Laki-laki itu berucap dengan sedikit memperlihatkan sudut bibirnya yang menjuntai ke atas. Membentuk gurat senyum tipis menenangkan. Namun di sisi lain Alana yakin, di balik teguran halus itu dalam diam dia ditertawakan.
Alana larut penuh kebisuan. Tanpa kata dia menyaksikan laki-laki itu berangsur mundur, kemudian berbalik untuk melangkah pergi dari teras rumah yang baru saja ia jejaki. Sepeninggalnya, Alana baru bisa menghela napas. Dia segera memasuki rumah dan kembali mengunci pintu. Meletakkan benda pemberian laki-laki itu di atas meja sebelum akhirnya melemparkan diri ke sofa dengan posisi tengkurap. Mencoba meredam teriakan hatinya yang terlingkupi rasa gemas, malu, bercampur kesal.
Tok tok tok!
Lagi, belum selesai Alana menetralkan napasnya, ketukan pintu memaksa dia untuk bangkit.
"Lala, kamu di dalem? Bukain pintunya!"
Itu suara Yudha. Menyebut nama panggilan Alana sewaktu kecil.
Kali ini gadis itu bergerak lunglai tanpa tenaga. Menyambut pamannya dengan wajah datar.
"Udah lama?" Pertanyaan Yudha menjadi sapaan. Dan langsung dibalas anggukan, tapi sedetik kemudian disusul dengan gelengan. Pemuda dua puluh enam tahun itu sampai dibuat bingung. Tapi dia sudah paham, jika muncul gelagat seperti hidup segan mati tak mau ini tanda keponakannya sedang lapar.
"Udah makan belum?" tanyanya langsung. Sembari bergerak melepas jaket yang dikenakan, lalu menyampirkannya ke badan sofa.
"Belum."
"Om tadi pagi nggak masak. Pulang dari toko juga nggak jajan. Delivery aja, ya. Mau pesen apa?" tawar Yudha.
"Terserah Om aja."
"Kamu maunya apa?" tanya si paman lagi.
"Apa aja."
Sabar. Yudha menguatkan diri.
"Walang goreng, mau?"