"Motor kamu mana, Na?" Mira— Ibu Alana baru menyadari saat setelah menyiram bunga tidak menemukan kendaraan Alana di garasi.
Putrinya yang tengah menenggak segelas susu dengan tergesa itu segera menjawab. "Lagi dibenerin Om Yudha."
Sepenuhnya sang ibu kini memusatkan atensi. "Mulai sekarang pulang sekolah jangan mampir-mampir. Semalem Papa kamu ngobrol sama Ibu, dia bakal daftarin kamu ke tempat bimbelnya Karin."
Tanpa sadar Alana meletakkan gelas di genggamannya sedikit keras, menoleh pada ibu yang sibuk menyiapkan makanan ke kotak bekal. "Kenapa sih, Ibu kalo buat keputusan nggak ngomongin ke Alana dulu?" tanyanya terdengar protes.
"Apa yang harus diomongin? Setuju nggak setuju pun kamu harus ikut bimbel, biar pulang sekolah belajar, ada kegiatan, nggak keluyuran. Liat tuh Karin, nggak banyak ulah. Udah rajin, pinter, selalu jadi yang nomer satu di sekolah, bikin orang tua bangga." Mira berjalan mendekat untuk menaruh dua lunch bag di meja makan. Kemudian menyerahkan salah satunya pada Alana.
Sepagi ini, Alana sudah dibuat sesak oleh perkataan yang menunjukkan bahwa dirinya seolah adalah yang terburuk. Mungkin, terselip niat ibu untuk memotivasinya agar menjadi anak yang sempurna seperti Karin. Tapi di sisi Alana, cara membandingkan seperti itu justru mendorongnya terjun jauh dari niatan untuk merealisasikan impian sang ibu.
"Kamu berangkat bareng Karin aja," suruh Mira.
Bertepatan dengan itu, Karina datang. Hendak berpamitan sekaligus menyetujui apa yang didengarnya barusan. "Iya, bareng aja."
Kali pertama seorang Karina menimpali pembicaraan dan langsung mengajaknya. Alana memandangnya datar. Menyaksikan saudara perempuannya itu memberi salam pada ibu mereka kemudian berlalu begitu saja.
"Udah diajakin bareng tuh, sana berangkat," titah Ibu lagi.
"Aku udah pesen ojek online." Secara tidak langsung Alana menolak.
"Tinggal batalin aja apa susahnya? Karin udah baik ke kamu, jangan bikin dia nunggu!" Nada bicara Mira mulai terdengar ketus. Membuat Alana menarik napas dalam sebelum akhirnya mencium tangan dan beranjak sesegera mungkin.
Tidak disangka ibunya turut berjalan di belakang seakan mengawasinya. Jadilah dengan sangat terpaksa, Alana memasuki mobil yang sudah terparkir di halaman rumah.
Tidak ada pembicaraan. Hanya keheningan yang mengisi perjalanan. Hingga sampai depan gerbang sekolah, barulah Karina bersuara.
"Bekalnya bawa aja, aku makan siang di kantin."
Setelahnya, dia keluar dari mobil. Mendahului Alana yang kini memandang dua lunch bag di samping tempatnya duduk. Menerka apa yang membuat Karin bertindak seolah enggan menerima. Enggan menikmati apa yang sudah dipersiapkan ibu mereka sejak pagi.
Dalam hati kecilnya, Alana menyayangkan usaha ibunya. Sudah seniat ini tapi seakan tidak dihargai. Dia pun segera membawa kedua lunch bag itu ke kelas. Terpikirkan untuk berbagi dan menikmatinya bersama Jinan.
"Widih, apa nih?" Teman sebangku Alana langsung menyambut bahagia ketika lunch bag itu diserahkan ke mejanya.
"Makan nanti aja pas istirahat," ucap Alana menyaksikan Jinan kini membuka dengan penasaran. Terbesit di hatinya juga ingin tahu apa yang sudah dimasak ibu.
Jinan terperangah saat mengetahui di dalamnya terdapat lauk yang menggugah selera. Yakni ayam crispy dan telur gulung berbentuk hati, disertai potongan sayur termasuk banyak wortel dengan bentuk bunga. Sangat menarik. Jinan sampai kagum dengan Ibu Alana yang sangat niat menyiapkan ini untuk anaknya.
Mengapa Jinan berpikir itu semua hasil usaha dari Ibu Alana? Sudah jelas, dia bisa melihat ada notes kecil yang tertempel di tutup kotak bekal dengan tulisan 'Makan yang banyak, sayang. Semangat belajarnya!'
"Sweet banget Tante Mira," puji Jinan, "btw, makasih, La. Tapi yang ini kayanya khusus buat kamu dah."
Alana terdiam. Jelas-jelas itu kotak bekal milik Karina. Ibunya sendiri yang menyerahkannya. Dan semua makanan yang tersaji beserta tulisan notes itu sudah berarti untuk Karina, bukan untuknya.
Tanpa sadar hal itu memicu retakan kecil di batin Alana. Kedua matanya begitu tenang, sangat kontras dengan napas yang tertahan menimbulkan rasa sesak. Mengingat belum pernah sekali pun dia mendapatkan perlakuan manis selayak perhatian kecil itu. Alana tidak menyesal, selama ini larut dengan rasa syukur karena semenjak ibu menikah dan berhenti bekerja, dia selalu dibawakan bekal. Tapi baru mengetahui sekarang, semua itu tidak ada yang istimewa untuknya.