Suara pemantik kompor terdengar samar dari arah dapur. Menghentikan gerak tangan kecil yang sejak tadi sibuk menciptakan goresan berwarna pada kertas putih di atas meja. Krayon dalam genggaman lantas diletakkan begitu saja. Memilih bangkit untuk memastikan adakah kehadiran orang di sana.
Alana, tidak mengharapkan kedatangan siapa pun. Karena kesunyian di rumah sederhana ini seakan menjadikannya tempat ternyaman, membawa ketenangan tanpa ada riuhan suara yang mengusiknya. Tapi, begitu menangkap sosok tinggi tegap menghadap gelas kosong di meja makan ditemani keheningan dalam ruangan, kecamuk dalam hatinya pun datang. Kerinduan berbaur dengan rasa kesal yang tak tertahankan tanpa ragu menyerang.
"Ayah," panggil Alana. Menghampiri sosok yang sudah seminggu terakhir tidak kembali ke rumah.
"Hey, anak cantik Ayah." Damar— pria berusia kepala tiga itu membungkuk menyamai tinggi putrinya. Merentangkan tangan guna menyambut pelukan. Tetapi Alana hanya diam tanpa pergerakan. Hal itu mengupayakan Damar untuk mengambil langkah pertama dalam memberi dekapan. Menyalurkan kehangatan, sekaligus menghilangkan bayang-bayang rasa bersalah sebab tak kunjung berjumpa.
Namun, itu tak berlangsung lama ketika pertanyaan dari gadis kecilnya terlontar tanpa disangka.
"Ayah kenapa pulang?"
Damar melepas pelukan. Tangannya beralih pada genggaman. Mengamati raut datar Alana, dia memasang wajah sedih seperti ingin menangis.
"Alana nggak seneng Ayah pulang? Alana nggak kangen sama Ayah?" Damar bisa menerka kekecewaan dalam diri anak satu-satunya. Tapi, dia tidak bisa menebak jawaban yang akan didapat setelahnya.
"Iya, Alana nggak suka. Kalo Ayah pulang pasti Ibu marah-marah, mukulin Ayah, terus ngelemparin barang-barang ke Ayah."
Terselip rasa khawatir pada kekesalan yang baru saja diutarakan. Semakin Damar menyadari, semakin rasa bersalah menggerogoti hati. Gadis berusia delapan tahun ini tidak seharusnya memikul beban pikiran yang diciptakan oleh perselisihan kedua orang tuanya sendiri.
"Ayah pergi aja. Atau ... bawa Alana pergi juga."
Keputusan sepihak Alana memicu kekehan singkat. Damar menyapu lembut surai putrinya seraya menatap lekat penuh perhatian.
"Alana, Ayah minta maaf, ya. Ayah bikin Ibu kamu emosi terus, dan bikin Alana nggak nyaman di rumah," ucapnya pelan, "tapi, di sini Ayah pulang, buat minta maaf ke Ibu. Baikan sama Ibu. Jadi, Ayah nggak akan pergi, apalagi bawa Alana keluar dari sini."
Gadis kecil itu berkedip seiring gejolak hatinya teduh tersiram oleh ketenangan. Penuh harap binar matanya memandang sang ayah.
"Janji?" Gadis itu menyodorkan kelingking.
Damar menyambutnya dengan anggukan dan tersenyum. Meyakinkan Alana— juga dirinya sendiri akan kemampuannya dalam menunjukkan bukti yang ia janjikan setelah ini.
"Kamu habis menggambar, ya?" tanya Damar memandangi tangan mungil penuh coretan warna-warni.
Alana mengangguk mantap. Suasana hatinya berbalik penuh antusias. Lalu mulai bercerita sebelum ayahnya bertanya lebih lanjut. "Aku gambar Sinchan tapi belum selesai. Mau dikasih liat ke Om Yudha. Katanya kalo aku bisa gambar, bakal dikasih gantungan kunci."
Masih dengan senyum hangatnya Damar mengangguk. Dia merasa harus berterima kasih pada adik laki-lakinya yang selalu menjaga Alana dengan baik.
"Ya udah kalo gitu, kamu lanjutin lagi gambarnya. Sebentar lagi Ibu pulang, Ayah harus bicara sama Ibu."
Mengerti akan perintah itu, penuh semangat langkah Alana membawa kembali ke kamarnya.
Tak berselang lama Mira datang. Menghentikan gerak Damar yang hendak mematikan kompor. Dia terfokus pada sang istri yang mendekat dengan langkah menggebu. Dari raut wajah dan sorot matanya, terpampang jelas bahwa gemuruh emosi akan terluapkan sesaat dalam hitungan detik.