Sepasang kelopak matanya mengerjap menyesuaikan pancaran silau lampu. Tangan Alana menggapai ponsel di atas nakas untuk melihat jam, ingin mengetahui berapa lama ia terlelap setelah Yudha menyuruhnya beristirahat.
Namun begitu melihat layar, notifikasi sepuluh panggilan tak terjawab sontak membuat nyawanya yang masih terpencar seolah bertumbuk cepat menyatu dalam raga. Bola matanya yang sayup kini terbelalak. Sekonyong-konyongnya Alana melompat dari kasur dan keluar kamar seraya berseru.
"Om Yudhaaaaa!"
Yang dipanggil pun langsung menyahut. "Apaan? Udah malem, jangan teriak-teriak."
Suaranya dari arah dapur. Alana lantas tergopoh menghampiri.
"Kenapa nggak bangunin Lala?!" tanyanya kesal. Selain notifikasi dari sang ibu yang didapatnya barusan, Alana benar-benar seperti merasa ada penyesalan yang menghinggapi, ketika bangun mengetahui matahari sudah tenggelam.
Mungkin sudah dibiasakan dari kecil oleh larangan yang mengharuskannya untuk tidak tidur sore hari atau sewaktu petang, jadilah mendadak bingung dan panik begitu tubuhnya melanggar aturan itu.
"Masih setengah tujuh," tanggap Yudha, kini sibuk menyiapkan hidangan di meja makan. Sengaja membiarkan Alana tertidur pulas setelah apa yang terlewati siang tadi membuatnya khawatir. "Sini, makan dulu. Om masak ayam goreng."
Garis bibir Alana melengkung ke bawah. Lidahnya mulai tergiur, tapi tertolak oleh logikanya yang bergemuruh diburu waktu.
"Ibu udah telpon, Lala harus pulang sekarang."
Yudha langsung bergerak melepas apron dari tubuhnya. Menarik Alana untuk duduk sebelum gadis itu bergegas melarikan diri. Di balik niatnya menyuruh Alana mengisi perut sebelum pulang ke rumah, Yudha ingin mengulik lebih dalam penyebab keponakannya itu seolah menyembunyikan beban dalam pikiran, yang membuatnya kehilangan fokus seperti tadi siang.
"Nanti biar Om yang bilang ke Ibu kamu, nggak usah khawatir," ujarnya menenangkan, "mau diambilin, apa ngambil sendiri nasinya?"
Pertanyaan itu menginterupsi Alana untuk segera mengambil makanan di hadapannya. Tanpa suara dia menikmati. Sampai Yudha kembali melontar tanya yang membuat gerak tubuhnya terhenti.
"Kamu nggak mau cerita sama Om?" Yudha fokus pada sendoknya, mencoba santai tanpa menekan. "Tadi kenapa? Jangan pikir Om nggak tau kamu lagi banyak pikiran."
Alana merasa kerongkongannya kini terhalang hingga sulit menelan. Mendadak terbayang kilas balik malam dimana sosok yang memberinya janji untuk menetap justru pergi dengan kondisi mengenaskan. Susah payah Alana mengalihkan memori kelam itu. Karena semakin tenggelam, semakin dirinya sulit mengendalikan tubuh yang tiba-tiba bergetar di luar kesadarannya.
"Om ... "
Suara Alana sukses menyita perhatian penuh dari Yudha. Laki-laki itu memasang telinga, menunggu kelanjutannya.
"Hampir semua mapel di sekolah ... aku remidi," ungkap Alana kemudian. Dalam diamnya mengembuskan napas pelan. Merasa lega, karena dia tidak sepenuhnya berbohong.
Yudha sampai sulit meyakinkan diri bahwa fakta itu benar-benar membuat Alana kacau dan terbebani.
"Jangan bohong."
"Serius, tanya aja si Jinan."
"Selain itu, ada lagi?"
"Om berharap Lala stress banyak pikiran kah?"
"Bukan gitu." Yudha menghela napas. Jadi bingung harus mengatakan apa. Di luar pelajaran, dia masih merasa ada yang disembunyikan. "Nggak biasanya juga kamu khawatir soal pelajaran."
Laki-laki itu menyilangkan kedua tangan di atas meja, dengan tubuh sedikit condong ke depan. Memandang serius Alana yang sibuk dengan isi piringnya.
"Lala."
"Hm?"
"Apa pun masalahnya, kamu harus cerita ke Om. Apa pun itu," ujar Yudha mengingatkan.
Alana mengangguk, santai menggigit ayam goreng. "Itu tadi aku udah cerita."
Pikir Yudha, jika hanya itu yang menjadikan Alana beban, dia harus mengusahakan sesuatu. "Om punya solusi."
Sepenuhnya kini Alana memandang sang paman. "Apa tuh?"
Senyum Yudha terlempar penuh arti. Memicu perasaan tidak enak di hati orang yang mengamati.
"Kamu belajar aja sama Nathan."
Dan benar. Alana dibuat berkedip, kesulitan meresap solusi untuk masuk di akalnya. Cowo yang tadi siang? Bahkan dia masih belum bisa melupakan first impression konyol dan memalukan kemarin. Bagaimana bisa berhadapan dalam waktu yang lama? Bakal secanggung apa nanti?
Alana beralih tatap memandangi perban di tangannya. Dari situ kenyataan menyadarkan, bahwa ternyata … sisi lain dirinya tidak bisa melupakan kebaikan laki-laki itu.