Rumah Singgah Untuk Alana

nisafaza
Chapter #6

6. Pertemuan Singkat

Setelah bujuk rayu Karina demi mendapat persetujuan dan mewujudkan keinginannya, akhirnya semua itu terpenuhi. Meski harus menghadap rentetan pertanyaan dari ibu.

"Nak, kenapa mendadak banget mau naik motor? Bukannya selama ini kamu nyaman dianter pake mobil? Naik motor itu panas, bikin rambut kamu berantakan, belum lagi kalo hujan. Beneran nggak apa-apa?"

Setelah Karina menyakinkan bahwa semua itu tidak masalah untuknya, lalu membeberkan alasan kalau dia ingin merasakan sensasi angin segar, dan menuturkan opini yang menurutnya akan lebih mempersingkat waktu tempuh karena bisa bermanuver menghindari kemacetan, kedua orang tuanya langsung setuju.

Alana tidak masalah jadinya secara tidak langsung tetap diizinkan menggunakan motor. Tapi yang menjadi beban setelahnya, dia mendapat berbagai peringatan yang mengharuskannya memikul tanggung jawab penuh.

Karena sepeninggal Karina, Arya memberi pesan. "Papa harap kalian makin akrab setelah ini. Tapi Alana, Papa minta kamu untuk selalu jaga dan awasi Karina. Jangan sampai melakukan kesalahan, yang buat kamu kehilangan kepercayaan dari Papa."

Juga Mira yang ikut menegaskan. "Bawa motornya hati-hati, jangan ceroboh. Jangan bikin masalah."

Berbagai nasihat itu menjadi alarm waspada yang akan berbunyi jika Alana melakukan setitik kesalahan. Bukan untuk kebaikan dirinya, melainkan demi melindungi anak kesayangan mereka. Alana sampai menebak tuntutan apa lagi yang akan terus menjeratnya setelah ini.

"Nanti pulang sekolah anterin ke tempat les piano dulu, ya. Sebentar aja kok, cuma sejam."

Karina, menyerahkan helm pada Alana, lalu menyisir rambutnya dengan jari— setelah motor yang ditumpangi berhenti di area parkir sekolah.

Cuma, katanya?

Alana tidak langsung menjawab. Masih berpikir, apakah menolak permintaan Karina juga termasuk kesalahan? Tapi di sisi lain juga tidak mungkin dia membiarkan Karina pergi sendirian.

"Aku udah minta izin kok ke Mama, jadi tenang aja," ujar Karina lagi.

Good, kalo ibu udah acc, berarti ini suatu kewajiban. Alana mengangguk pasrah. Tangannya mulai melepas dua lunch bag dari hook motor. Memberikan salah satunya pada karina, meski dia sudah menerka gadis itu tidak akan menyentuhnya.

"Bawa aja," tolak Karina.

Alana mengambil napas dalam. Dia tidak tau persis alasan saudaranya itu selalu enggan menerima, tapi yakin sekali perkataan Karina yang akan makan di kantin seperti kemarin hanyalah alibi.

"Ibu udah masakin buat kamu. Sayang banget kalo nggak dimakan. Lagipula masakannya enak kok, Ibu juga selalu ngutamain gizi. Itu lebih dibutuhin buat energi pas belajar, kan? Daripada jajan."

Ucapan Alana membuat Karina terdiam. Tapi tidak berarti menggoyahkannya untuk mengambil apa yang diulurkan untuknya itu. Dan tidak juga mengungkap alasan apa pun.

Alana sampai menurunkan tangannya. Menghela napas ketika terbesit dalam pikiran untuk meminta ibu berhenti membawakan bekal lagi. "Oke, kalo nggak mau. Ini aku bawa, ya."

Setelah mengucapkan itu, Alana segera beranjak seraya menenteng dua lunch bagnya santai. Membiarkan Karina yang masih bungkam memandang punggungnya kian menjauh.

 

 

* * *

 

 

Butuh waktu selama lima belas menit untuk menempuh perjalanan menuju tempat les piano. Sesaat Karina sudah memasuki sebuah bangunan untuk memulai bimbingan, giliran Alana yang kebingungan harus melakukan apa. Tidak tertarik pula ikut masuk ke dalam gedung meski hanya sekadar melihat-lihat dan menunggu sampai selesai. Terlalu suntuk, lantas dia memutuskan membeli camilan di minimarket seberang jalan.

Lihat selengkapnya