"Mama, ayo pulang."
Nabila dengan wajah kantuknya sedikit merengek. Mengambil alih perhatian Wina yang tengah sibuk berbincang dengan Alana. Berat hati dia berdiri dari posisi untuk menyetujui ajakan itu, sebelum anaknya benar-benar akan menangis.
"Alana, maaf banget, ya. Tante nggak bisa lama-lama." Wina sedih, menyayangkan pertemuan mereka yang hanya berlangsung sebentar.
"Nggak apa-apa, Tante." Alana mengangguk mengerti. Lalu tangannya bergerak menyodorkan ponsel. "Aku mau save nomernya Tante, boleh? Biar bisa kabar-kabar setelah ini."
Tanpa pikir panjang Wina mengiyakan. Selagi dia memasukkan nomernya, si pemilik ponsel beralih mendekati Nabila.
"Nabila, kapan-kapan main ke rumah Kakak, ya." Alana mengusak pelan rambut tebal anak itu, seraya menyerahkan semua isi dompetnya yang diam-diam sudah ia keluarkan, demi niatnya memberikan untuk Nabila. "Ini, Kakak ada sedikit uang. Diterima, ya. Buat jajan sama beli mainan."
Lembaran itu tertangkup penuh oleh tangan kecil Nabila. Pandangannya langsung ke atas memastikan reaksi sang ibu jika mengetahui.
Dan ternyata, Wina menangkap pergerakan mereka.
"Alana," panggilnya sembari menyerahkan ponsel. Lalu secepat mungkin mengambil alih apa yang ada di genggaman Nabila. "Kamu nggak perlu ngelakuin ini."
Alana terkesiap. Dia menyergah Wina yang berusaha mengembalikan uang pemberiannya. "Tante, please. Aku nggak ada maksud apa-apa. Ini buat jajan Nabila aja."
Permohonan itu berhasil menghentikan Wina. Sejenak ia memandang jumlah lembaran uang yang tidak sedikit untuknya. Memunculkan pemikiran bahwasanya Alana dan keluarganya saat ini hidup berkecukupan. Berbanding terbalik dengan kondisinya sekarang. Yang hanya ingin membeli kebutuhan pokok saja harus putar otak dan berusaha keras demi mendapatkan rupiah.
Wina mengambil napas dalam. Menyadari dunia mereka kini berbalik. Ingatannya pun langsung melaju pada waktu dimana dia kerap meminjamkan, bahkan memberikan apa pun untuk keluarga kakaknya yang sedang kesulitan. Dan dalam beberapa tahun kemudian, siapa sangka Alana muncul di tengah kondisinya yang serba kekurangan. Meski begitu, dia tidak bisa menyalahkan takdir. Entah mungkin ini adalah bayaran atas dosa-dosanya di masa lalu, atau bukan. Keyakinannya sudah tertanam, pada jalan hidup yang ia tempuh kini adalah yang terbaik dari Sang Pencipta.
Senyum haru terulas. Wina memandang pancaran penuh ketulusan di wajah Alana. Dia akhirnya menerima dan mengucapkan terima kasih, sebelum melangkah pergi dengan mengingat selalu pesan yang dituturkan keponakannya.
"Selalu tukar kabar sama Alana ya, Tante."
Kepergian mereka menorehkan rasa lega di batin gadis berseragam SMA itu. Senang bisa berjumpa dan mengetahui keadaan sehat saudaranya. Meski di sisi lain, dia terpikirkan dengan kondisi mereka saat ini.
"Alana."
Si pemilik nama mengalihkan pandangan begitu mendengar suara laki-laki menyebutnya. Dia tertegun, mendapati kehadiran Nathan— yang ia kira sudah pergi setelah bertemu di dalam minimarket tadi.
"Boleh duduk di sini, kan?" Nathan segera meminta izin ketika Alana hanya diam tidak menyahuti. Bahkan gadis itu hanya mengangguk tanpa menatapnya balik. Dia jadi bertanya-tanya, hal apa yang membuat Alana sejak kemarin tidak banyak bicara ketika berada dekat dengannya? Bahkan seakan seperti ... menghindar? Yang lantas membuat keadaan menjadi canggung.
Dalam diamnya Nathan berpikir keras. Mengingat kesalahan apa yang sudah ia perbuat. Menelaah kembali hal apa yang terlewati sewaktu pertama kali mereka bertemu—
"Oh!" Tiba-tiba Nathan berseru begitu terlintas bayangan hari di mana dirinya pergi ke rumah pemilik kontrakan untuk memberi oleh-oleh. Dia lantas mengulum bibir menahan tawa, terlebih melihat Alana yang berjingkat kaget karena suaranya.
Nathan berdeham. Berusaha meredam gelakan sebelum kembali berucap. "Kamu masih keinget yang waktu itu, kah?"
Alana sukses dibuat menoleh. "Hah?"
"Udah. Nggak usah diinget lagi hal yang bikin ngeganggu," jelas Nathan. Berharap Alana segera mengerti dan membuang segala ingatan tentang hari itu. Namun, tampaknya sinyal di kepala gadis ini masih belum terhubung. Sampai bisa dilihat dengan jelas gurat alisnya sedikit mengerut tanda berpikir keras.
Nathan kembali mengambil alih arah percakapan. Lalu mengulurkan tangan guna berjabatan. "Kita belum kenalan, ya."
Meski sudah tahu nama satu sama lain, namun secara resmi mereka memang belum berkenalan. Nathan perlu menghilangkan canggung demi pertemanan.
Sedangkan Alana, entah apa yang ada dipikirannya. Dia masih sibuk bermonolog dalam hati. Sejak Nathan mengatakan agar dirinya tidak mengingat hal yang membuatnya merasa terganggu, Alana baru bisa menjabarkan maksudnya. Barulah Nathan mengajak berjabat tangan ... harus banget kenalan?