Keping bayangan dari serangkaian kejadian yang sudah terlewati hari ini terus berputar. Tentang pertemuan Karina dengan Ibu kandungnya, yang memicu pemikiran Alana bahwa hal itu menjadi alasan saudara tirinya memutuskan untuk pulang dan pergi bersamanya. Dan tentang bagaimana wanita bernama Dewi itu mengintimidasinya agar tetap tutup mulut.
Isi pikiran Alana bergerumul dihantam kebimbangan. Dari keputusan Karina saja menjelaskan bahwa gadis itu telah melakukan sesuatu yang dilarang ayahnya. Dan saat ini, Alana merasa ikut terseret menjadi pemberontak. Yang jadi masalahnya sekarang, keberanian untuk mengungkap di hadapan kedua orang tuanya kalah dengan gertakan, dan rasa tidak enak hatinya jika Karina berada dalam masalah besar.
Hiruk-pikuk di kepala Alana sampai mempengaruhi gerak tangannya yang sibuk dengan cucian piring. Dia tidak sadar sudah menghasilkan suara keras saat benda itu ditumpuk.
"Kalo nggak niat bantuin, balik aja ke kamar sana."
Suara Mira menarik fokus gadis itu. Kalimat teguran yang didapatnya menahan segala gerakan untuk berhati-hati. Tapi tidak mengurungkan niat Alana dalam mempercepat pekerjaannya. Dia butuh merebahkan diri di kamar setelah seharian ini energinya terkuras oleh pertemuan orang-orang yang dia lalui tanpa rencana. Belum lagi, sampai rumah harus menghadapi perintah yang mengharuskannya patuh dan tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas.
"Aku udah selesai, Bu. Mau ke kamar sekarang."
"Bentar," cegah Mira yang kini tengah sibuk mengeluarkan beberapa sayuran dari dalam kulkas. "Tunggu situ dulu, Ibu bikinin susu."
Bagian diri Alana sedikit menghangat. Kepedulian itu mendatangkan kesigapannya mengambil posisi duduk di kursi meja makan. Menyaksikan bagaimana sang Ibu gesit menyiapkan sesuatu untuknya. Mendadak pula dia teringat tentang pertemuannya dengan Wina tadi siang.
Penuh hati-hati Alana bertanya, “Rasanya udah lama nggak ke rumah Ayah, Ibu kapan mau ajak Alana ke sana?”
Ekspresi Mira begitu datar, dengan gerak tangan menuangkan bubuk susu sedikit lebih cepat. “Rumah Ayahmu di sini. Kalau mau pergi ke tempat lain, pergi aja sendiri.”
Tempat lain?
Alana tersenyum hambar. Tempat penuh memori itu seakan sudah tak berarti lagi. Terang-terangan sekali si ibu memperlihat ketidaksukaannya pada pembahasan kali ini. Tapi bukan Alana jika tidak terus mengusik demi menuntaskan rasa penasarannya.
“Ibu nggak kangen sama Tante Wina? Ibu nggak kangen—”
“Alana,” potong Mira menghentikan ucapan putrinya, “kalo kamu mau balik ke kamar, balik aja sana.”
Perkataan itu juga mengisyaratkan Alana untuk diam jika masih ingin di tempat. Dan gadis itu pun akhirnya memilih bungkam. Tidak lagi berani membahas apa yang sudah dimulainya. Kemudian, mendadak dia tertarik untuk bertanya hal lain saat mengamati jejeran sayuran yang sengaja disiapkan.
"Itu buat masak besok, Bu?"
Mira berdeham singkat, mengiyakan. "Nyiapin bekal kalian juga buat besok."
"Bu," panggil Alana mulai terpikirkan niatnya untuk mengatakan satu hal, meski tahu akan mendapat reaksi tidak menyenangkan lagi. "Mulai besok nggak usah bikinin bekal."
Benar saja, penuturan Alana membuat Mira menoleh. Dari tatapannya terbaca kalau beliau menuntut penjelasan.
"Nggak usah bikinin Karina bekal lagi, Bu," lanjut gadis itu.
"Kenapa? Kalo kamu nggak mau ya nggak apa-apa, nggak Ibu bikinin lagi. Tapi jangan nyuruh Ibu berhenti masak buat Karin."
Diamnya Alana berusaha keras untuk merangkai penjelasan tanpa menyinggung sang ibu. Tapi buntu. Tidak ada jalan selain mengatakan satu fakta.
"Karina nggak mau makan bekal yang dimasak sama Ibu."
"Tau dari mana kamu?" Nada bicara Mira sedikit meninggi. "Karina nggak pernah nyisain makanannya sedikit pun."
Ya, itu karena aku yang ngehabisin. Alana menyela dalam hati. Suaranya kembali tertahan setiap Mira menampakkan emosi. Keberaniannya mengungkap bahwa Karina tidak pernah berselera pun ikut menguap begitu saja.
"Jangan nyari perkara. Kalo kamu nggak suka Ibu ngasih apa pun ke Karina, itu masalah kamu. Ibu nggak bakalan berhenti merhatiin dan ngelakuin hal terbaik buat dia."