Rumah Singgah Untuk Alana

nisafaza
Chapter #9

9. Uang Jajan

Sudah sepuluh menit sejak Karina memasuki gedung untuk memulai les musiknya, Alana masih menetap di kursi taman dekat parkiran. Menyibukkan diri dengan coretan sketsa di pangkuannya. Sengaja memilih tempat berdiam diri untuk menghemat sisa-sisa tenaga yang dia punya, demi menghadapi bimbingan belajar yang akan terlaksana setelah ini.

Kedua irisnya merekam sekilas pohon palem dan serangkaian bunga yang ada di sekeliling taman. Lihai jemarinya menciptakan goresan pada selembar kertas. Memadupadankan arsiran sesuai objek yang diamati. Begitu fokus dengan gambaran. Sampai tidak sadar ada seseorang yang mengambil posisi di kursi panjang, tepat di samping tempatnya duduk.

Atensi Alana baru teralihkan tatkala uluran sekaleng kopi menghalangi pandangannya pada kertas. Detik itu pula dia menolehkan wajah. Menangkap kehadiran Nathan yang menatapnya begitu hangat, tetap mengarahkan benda di tangannya hingga membuat Alana lambat laun tergerak untuk menerima.

"Makasih," ungkap pelan gadis itu. Dalam hati bertanya-tanya, sejak kapan Nathan berada di sini?

Nathan berdeham. Mencari posisi nyaman untuk punggungnya bersandar di badan kursi. Dia melirik hasil karya Alana.

"Jago juga gambarnya."

Terselip rasa kagum dalam pujian itu. Mendadak Alana yang tengah menyesap kopinya nyaris tersedak. Wajahnya memerah malu sekaligus tersipu.

"Cuma gambar pohon, anak kecil juga bisa," kilah Alana merendah. Merasa gambarannya belum sebagus dan seahli itu untuk dibilang 'jago'.

Giliran Nathan mendengkus geli. "Sedetail itu, mana bisa disandingin sama gambarnya anak kecil," ujarnya tak setuju.

"Eh, jangan salah. Banyak anak kecil yang gambarannya lebih keren di luar sana."

Kali ini Nathan hanya mengangguk saja. Tidak niat berdebat. Pendapatnya sudah ia utarakan, bahwa menurutnya Alana memang unggul dalam menggambar. "Butuh inspirasi buat gambar, nggak?"

Alana mengerutkan alis, penuh tanya.

Nathan pun menjawab kebingungannya. "Kayak yang aku omongin kemarin. Ada danau dekat kampus. Tawaranku masih berlaku kalo kamu mau."

Tentang ajakannya kemarin. Alana langsung teringat. Kemudian menimbang seraya menilik waktu di jam tangannya. Masih ada empat puluh lima menit. Meski mulai tertarik, tapi sisi lain dirinya masih merasa sungkan.

"Emangnya nggak sibuk ... Kak?"

Kak.

Entah dorongan dari mana Alana memanggil sebutan itu. Mendadak saja takut berdosa jika hanya memanggil Nathan dengan namanya, mengetahui usia laki-laki itu terpaut beberapa tahun lebih tua.

Nathan tidak bisa menyembunyikan senyum ramah memandang Alana. "Kelasku udah selesai. Abis dari minimarket situ, langsung liat kamu di sini. Yaudah, sekalian mau ngajak aja ke danau."

Alana meneguk lagi kopinya hingga tandas. Kerongkongannya tiba-tiba terasa kering mendengar penjelasan Nathan. Apakah dia seniat itu ingin mengajaknya?

Raut berpikir Alana tak ayal menggugah Nathan untuk berdiri. Memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. "Kamu ada kegiatan lain abis ini?"

Alana mengangkat pandangan, lalu mengangguk. "Harus ke bimbel."

"Berarti nggak sempet, ya." Nathan menerka bimbangnya gadis itu karena diburu waktu. "Ya udah kalo gitu, besok lagi aj—"

"Sempet kok, Kak." Tiba-tiba Alana berdiri, sembari bergegas memasukkan alat tulis ke dalam tas. Selain menyayangkan kesempatan mencari angin segar, dia juga tidak enak hati jika menolak Nathan yang sudah berbaik hati mengajaknya.

Mereka lantas berjalan beriringan. Hanya memperhatikan langkah di bahu jalan tanpa ada lagi percakapan. Tidak butuh waktu lama bagi keduanya menyaksikan hamparan danau dengan rimbunan pohon dan rumput hijau mengitari. Angin menyambut sejuk, melambai tiap surai bersamaan ayunan kaki membawa mereka ke tepian danau.

Nathan langsung menempatkan diri di atas rumput. Duduk bersila menghadap bentang air yang menjernihkan mata. Diikuti Alana yang tak putus-putus memandang penuh kekaguman.

"Gimana? Nyesel nggak?"

Pertanyaan Nathan menarik perhatian Alana. Binar di wajahnya seakan menyingkirkan kata sesal. Dia menggeleng tegas. "Mana ada nyesel. Malah kayaknya … bakal sering ke sini deh."

Sudut bibir Nathan terangkat, diiringi tawa mengalun ringan. "Di sini, spot favoritku juga. Hawanya bikin betah, nenangin pikiran."

Alana mengangguk setuju, meski baru pertama ke tempat ini, dia sudah merasa ingin sekali berlama-lama.

Lihat selengkapnya